KABARBURSA.COM – Pasar modal Indonesia tengah berada dalam fase kritis. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat bertengger di level 9.200, kini merosot drastis ke angka 5.900. Penurunan yang berlangsung berbulan-bulan ini mulai menyerupai pola krisis finansial 2008. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah absennya sense of crisis di level pengambil kebijakan.
Ekonom Senior INDEF sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, menegaskan bahwa akar masalahnya bukanlah pada angka-angka ekonomi makro yang terlihat di atas kertas, melainkan pada hilangnya kepercayaan investor.
“Pasar modal terjungkal habis dan sudah mendekati krisis 2008. Dari indeks 9.200 turun drastis menjadi 5.900. Ini terjadi berbulan-bulan dan sekarang masih dianggap biasa saja dan kurang ada sense of crisis terhadap keadaan,” ujar Didik dalam keterangannya kepada KabarBursa.com, Sabtu, 6 Juni 2026.
Menurut Didik, fenomena ini diperparah dengan jatuhnya nilai saham sektor perbankan—pilar utama bursa Indonesia—seperti BCA yang nilainya terpangkas lebih dari 50 persen. “Ini menandakan adanya masalah yang sangat mendalam, yakni kepercayaan investor (trust) yang jatuh ke jurang tidak mau hadir lagi di pasar kita,” ujarnya.
Upaya Bank Indonesia (BI) untuk menahan pelemahan Rupiah melalui guyuran likuiditas dan cadangan devisa dinilai belum cukup. Didik berpendapat bahwa selama substansi trust belum pulih, pasar tidak akan bergeming.
“Sekarang kita menyaksikan bahwa trust sudah jauh lebih penting dan lebih mendasar daripada angka. Angka-angka pertumbuhan kita tidak terlalu buruk, begitu juga angka indikator perdagangan, tetapi karena kepercayaan jatuh, maka investor pergi,” tegas Didik.
Pasar saat ini tengah menguji konsistensi kebijakan pemerintah perihal pengaruh kelompok kepentingan politik. Selain itu, kepastian hukum dan perlindungan hak privat menjadi prasyarat mutlak. Didik menyinggung era Presiden Habibie sebagai contoh nyata bagaimana reformasi institusional—seperti kemandirian bank sentral dan pemberantasan monopoli—mampu menguatkan Rupiah dari 16.800 menjadi 6.500 per dolar AS kala itu.
Nasihat SBY dan Dokumen Kepercayaan
Di tengah situasi ini, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan pandangan langka yang menekankan pada pemulihan trust. Didik mencatat bahwa saran SBY kali ini sangat krusial demi menyelamatkan bangsa.
“SBY selalu menekankan bahwa ekonomi tidak hanya soal angka fiskal dan moneter, tetapi utamanya soal kepercayaan. Jika pasar melihat kepastian hukum, konsistensi kebijakan, tata kelola pemerintahan yang baik, dan komunikasi pemerintah yang kredibel, maka kepercayaan lambat laun akan pulih,” jelas Didik.
Salah satu yang disoroti adalah pengelolaan APBN. Didik mengingatkan APBN bukan sekadar laporan belanja, melainkan "dokumen kepercayaan". “Jika APBN dikelola tidak hati-hati, belanja negara meningkat tanpa kendali, DPR hanya yes man, banyak program baru dengan kebutuhan dana besar tidak dievaluasi, maka pasar tidak akan percaya dan cenderung menjauh dari Indonesia,” pungkas Didik.
Bagi investor asing yang telah meraup keuntungan selama ini, risiko Indonesia kini dianggap terlalu besar untuk dipertahankan. Mereka memilih keluar, memicu permintaan dolar yang melonjak, dan menekan Rupiah lebih dalam. Tanpa pembangunan kembali kepercayaan yang berlandaskan kredibilitas institusi, pasar akan terus merespons dengan cara yang sama.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.