KABARBURSA.COM - Harga batu bara global kembali menunjukkan penguatan signifikan di tengah kombinasi sentimen kebijakan Amerika Serikat dan intervensi pasokan dari Indonesia. Mengacu data Refinitiv, harga batu bara ditutup di level USD119 per ton pada Kamis, 12 Februari 2026.
Meski tercatat stagnan secara harian, harga sempat melonjak 2,37 persen dan menandai posisi penutupan tertinggi sejak 23 Januari 2025.
Efek Trump
Kenaikan ini terjadi ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump, secara terbuka menyatakan dukungan penuh terhadap industri batu bara. Dalam acara Champion of Coal di Gedung Putih, Trump menginstruksikan Departemen Energi untuk mengamankan pendanaan agar sejumlah pembangkit listrik tenaga batu bara tetap beroperasi di West Virginia, Ohio, North Carolina, dan Kentucky.
Kebijakan tersebut tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga disertai langkah konkret berupa rencana kontrak pembelian listrik jangka panjang oleh Departemen Pertahanan.
Trump bahkan mengumumkan rencana penandatanganan perintah eksekutif yang mengarahkan Pentagon melakukan pembelian listrik langsung dari PLTU guna menjamin pasokan energi bagi kebutuhan militer.
Departemen Energi juga mengalokasikan dana USD175 juta untuk peningkatan enam PLTU di sejumlah negara bagian. Kombinasi dukungan fiskal dan jaminan permintaan ini secara langsung meningkatkan ekspektasi kenaikan konsumsi batu bara domestik AS.
Prospek Batu Bara AS Bergeser
Secara fundamental, kebijakan tersebut mengubah persepsi pasar terhadap prospek batu bara di Amerika Serikat. Selama satu dekade terakhir, konsumsi batu bara cenderung menurun akibat ekspansi energi terbarukan dan gas alam yang lebih murah.
Namun kini, dorongan kebutuhan listrik untuk industri kecerdasan buatan yang intensif energi menjadi alasan utama perubahan arah kebijakan.
Permintaan listrik untuk pusat data dan infrastruktur AI juga menjadi katalis baru yang menghidupkan kembali narasi batu bara sebagai sumber energi baseload.
Produksi Batu Bara Indonesia
Selain sentimen dari AS, faktor suplai global turut memperkuat harga. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian ESDM secara resmi memangkas kuota produksi batu bara dalam RKAB tahun ini.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan kebijakan tersebut dilakukan untuk menjaga keseimbangan supply and demand agar harga tidak tertekan akibat kelebihan pasokan. Indonesia, yang menyuplai sekitar 560 juta ton dari total perdagangan batu bara global sebesar 1,3 miliar ton per tahun, menguasai pangsa 43–44 persen pasar dunia.
Dengan dominasi pasokan sebesar itu, pengurangan volume produksi dari Indonesia secara teoritis memiliki dampak langsung terhadap keseimbangan pasar global. Kebijakan ini pada dasarnya menciptakan pengetatan suplai di tengah munculnya potensi peningkatan permintaan dari AS.
Kombinasi dua faktor tersebut membentuk struktur pasar yang lebih ketat dibandingkan periode sebelumnya.
Namun terdapat pengecualian dalam kebijakan pemangkasan produksi. Perusahaan pemegang PKP2B Generasi 1 serta BUMN pemegang IUP tidak terkena pembatasan tersebut. Artinya, dampak pengurangan pasokan tidak bersifat menyeluruh, tetapi tetap cukup signifikan mengingat peran Indonesia sebagai eksportir utama.
Secara teknikal, posisi harga di USD119 per ton yang menjadi level tertinggi dalam lebih dari satu tahun menunjukkan momentum bullish jangka pendek.
Breakout di atas level resistensi sebelumnya membuka ruang konsolidasi di area harga yang lebih tinggi, meski pergerakan selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh realisasi kebijakan AS dan implementasi pengendalian produksi Indonesia.
Perdagangan batu bara global saat ini berada dalam fase penyesuaian ekspektasi. Pasar merespons perubahan kebijakan energi AS yang pro-batu bara dan strategi pengaturan suplai dari Indonesia.
Dinamika ini membentuk sentimen positif jangka pendek, dengan pelaku pasar memantau keseimbangan baru antara permintaan energi berbasis AI dan disiplin produksi dari eksportir utama dunia.(*)