KABARBURSA.COM — Kilau emas kembali mencuri perhatian pasar global. Di tengah kegelisahan geopolitik dan kebijakan yang kian sulit ditebak dari Washington, harga emas melonjak ke rekor tertinggi sepanjang sejarah, menegaskan posisinya sebagai aset pelarian utama ketika kepercayaan terhadap mata uang dan obligasi mulai goyah.
Pada perdagangan intraday Senin 26 Januari, harga emas di pasar spot sempat naik sekitar 2,5 persen dan menyentuh level all time high di kisaran USD5.111 per ons atau setara sekitar Rp86,1 juta. Meski kemudian melandai ke USD5.080 per ons atau sekitar Rp85,6 juta, pergerakan tersebut menandai tekanan beli yang masih sangat kuat. Sejak awal tahun, harga emas telah melesat lebih dari 17 persen year to date.
Sementara hari ini, Selasa, 27 Januari 2026, berdasarkan data Trading Economics, harga emas menguat tipis ke kisaran USD5.040 per ons. Penguatan tersebut masih didorong lonjakan permintaan aset aman di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan dan geopolitik global.
Reli emas ini bukan terjadi tanpa sebab. Stockbit Sekuritas mencatat investor global tengah membaca satu pola yang sama yakni meningkatnya risiko kebijakan dan geopolitik Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump pada periode keduanya.
Kekhawatiran tersebut mendorong apa yang dikenal sebagai debasement trade, di mana pelaku pasar mulai menjauh dari mata uang dan obligasi pemerintah AS, lalu berbondong-bondong mencari aset yang dianggap lebih aman.
“Penguatan harga emas didorong kekhawatiran investor terhadap kebijakan kontroversial Presiden Donald Trump belakangan ini, termasuk ancaman terhadap independensi The Fed, wacana pencaplokan Greenland, dan intervensi militer di Venezuela,” tulis Stockbit Sekuritas dalam keterangan tertulis yang diterima KabarBursa.com, Selasa, 27 Januari 2026.
Walhasil, serangakaian pernyataan dan langkah kontroversial Trump tersebut membentuk narasi ketidakpastian yang sulit diabaikan pasar.
Tekanan semakin terasa ketika Trump pada pekan lalu menyebut Amerika Serikat memiliki armada yang sedang bergerak menuju Iran. Ia kembali melontarkan peringatan keras kepada pemerintah Iran agar tidak membunuh para demonstran dan tidak menghidupkan kembali program nuklirnya.
Di waktu yang berdekatan, Trump juga menyatakan akan mengenakan tarif 100 persen terhadap Kanada apabila negara itu tetap melanjutkan kesepakatan perdagangan dengan China.
Situasi ini membuat investor tidak hanya mencermati arah geopolitik, tetapi juga kebijakan moneter ke depan. Pasar kini menanti keputusan Trump terkait siapa yang akan dipilih sebagai Ketua Federal Reserve berikutnya, menggantikan Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir pada Mei 2026. Trump mengklaim telah mewawancarai sejumlah kandidat dan sudah mengantongi satu nama.
Pemilihan Ketua The Fed yang cenderung dovish akan memperbesar ekspektasi penurunan suku bunga lanjutan tahun ini. Bagi emas, skenario tersebut biasanya menjadi angin segar, mengingat suku bunga yang lebih rendah akan menekan imbal hasil aset berbasis bunga dan meningkatkan daya tarik logam mulia.
Optimisme terhadap emas juga datang dari kalangan institusi keuangan besar. Goldman Sachs pada Rabu 21 Januari menaikkan proyeksi harga emas dari USD4.900 per ons menjadi USD5.400 per ons pada akhir 2026 atau setara sekitar Rp91 juta. Revisi ini didasarkan pada tren diversifikasi aset yang dinilai masih akan berlanjut, baik oleh sektor swasta maupun bank sentral, khususnya dari negara berkembang.
Goldman Sachs memperkirakan bank sentral di seluruh dunia akan membeli rata-rata sekitar 60 ton emas per bulan sepanjang 2026. Tren ini mencerminkan upaya berkelanjutan negara-negara berkembang untuk mengurangi ketergantungan terhadap aset berbasis dolar dan memperkuat cadangan melalui emas.
Dengan kombinasi ketidakpastian geopolitik, potensi perubahan arah kebijakan moneter Amerika Serikat, serta permintaan struktural dari bank sentral global, emas tampaknya masih berada di jalur yang disukai pasar. Bagi investor, lonjakan harga emas saat ini bukan sekadar cerita soal kenaikan harga, melainkan cerminan kegelisahan yang lebih dalam terhadap arah ekonomi dan politik global.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.