KABARBURSA.COM – Di tengah kerusakan luas akibat banjir besar yang melanda sejumlah wilayah pada akhir tahun lalu, laju ekonomi Indonesia ternyata masih mampu bertahan. Pemerintah optimistis pertumbuhan produk domestik bruto sepanjang 2025 tetap berada di jalur target.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan mampu mencapai target 5,2 persen pada 2025, meski tekanan bencana alam sempat mengganggu aktivitas ekonomi. Bahkan, menurut dia, kinerja ekonomi justru menunjukkan akselerasi pada kuartal keempat.
Target pertumbuhan ekonomi untuk 2026 pun tidak bergeser. Pemerintah tetap mematok pertumbuhan 5,4 persen bagi perekonomian Indonesia yang bernilai sekitar USD1,4 triliun atau setara Rp23.590 triliun. Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya dalam pertemuan Dewan Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia pada Selasa, 27 Januari 2026.
Di sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia memilih tetap berhati-hati. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo yang mengatakan bank sentral masih membuka ruang untuk memangkas suku bunga demi menopang pertumbuhan ekonomi, namun stabilitas nilai tukar menjadi pertimbangan utama dalam waktu dekat.
Menurut Perry, suku bunga acuan dipertahankan dalam beberapa bulan terakhir untuk menjaga stabilitas rupiah, yang sempat tertekan pada awal tahun ini di tengah kekhawatiran pasar terhadap independensi bank sentral. Bank Indonesia, kata dia, akan terus menjaga nilai tukar rupiah, termasuk melalui langkah-langkah intervensi di pasar.
“Dalam merumuskan kebijakan moneter, kami akan selalu melihat data inflasi, nilai tukar, dan pertumbuhan ekonomi,” kata Perry, dikutip dari Reuters, Rabu, 28 Januari 2026.
Bank Indonesia diketahui mempertahankan suku bunga acuan 7-day reverse repurchase rate di level 4,75 persen pada pekan lalu. Level ini sudah bertahan sejak September 2025, setelah bank sentral memangkas suku bunga total 150 basis poin dalam periode September 2024 hingga September 2025.
Ke depan, Perry memperkirakan pergerakan rupiah akan lebih stabil dengan kecenderungan menguat, seiring kebijakan moneter yang tetap berbasis data dan respons terhadap dinamika global.
Ekonomi Tahan Banjir
Kinerja ekonomi Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan daya tahan yang tidak kecil. Di tengah rangkaian bencana banjir besar yang menghantam wilayah Sumatra pada akhir tahun lalu, pertumbuhan ekonomi tetap diperkirakan mencapai target 5,2 persen. Angka ini bukan sekadar statistik optimistis, melainkan potret bagaimana mesin ekonomi tetap berputar di tengah tekanan alam dan global.
Banjir besar yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada November hingga Desember 2025 tercatat sebagai salah satu bencana paling merusak tahun lalu. Laporan internasional memperkirakan kerugian material akibat banjir dan tanah longsor tersebut mencapai sekitar Rp68,67 triliun, setara USD4,13 miliar. Infrastruktur rusak, aktivitas ekonomi terganggu, dan jutaan warga terdampak. Namun, hantaman itu tidak sampai menjatuhkan fondasi pertumbuhan nasional.
Ketahanan ini tidak berdiri sendiri. Stabilitas harga menjadi salah satu penopangnya. Data resmi menunjukkan inflasi Indonesia pada Desember 2025 berada di level 2,92 persen secara tahunan. Angka tersebut masih nyaman di dalam target Bank Indonesia, meskipun tekanan sempat meningkat akibat gangguan distribusi pasca-banjir dan lonjakan permintaan musiman akhir tahun. Inflasi yang terjaga memberi ruang bagi konsumsi rumah tangga untuk tetap bergerak, sekaligus menahan gejolak biaya hidup agar tidak meluas.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah memang sempat berada dalam tekanan. Menjelang akhir 2025 rupiah bergerak di kisaran Rp16.670 per dolar Amerika Serikat. Pelemahan ini mencerminkan sentimen global yang belum sepenuhnya bersahabat, termasuk kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan moneter dan stabilitas global. Namun, tekanan tersebut masih terkendali dan belum berubah menjadi gejolak sistemik.
Kondisi itulah yang menjelaskan sikap hati-hati Bank Indonesia. Dengan inflasi yang relatif jinak namun rupiah masih memerlukan penjagaan, otoritas moneter memilih menahan laju pelonggaran suku bunga. Stabilitas nilai tukar dipandang sama pentingnya dengan dorongan pertumbuhan, terutama di tengah arus modal global yang mudah berubah arah.
Jika ditarik lebih luas, dampak bencana sepanjang 2025 memang tidak kecil. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat sekitar 220 ribu bangunan di berbagai daerah Indonesia mengalami kerusakan akibat banjir, longsor, dan cuaca ekstrem. Angka ini menegaskan bahwa risiko iklim telah menjadi variabel ekonomi yang nyata, bukan sekadar catatan lingkungan.
Namun justru di titik itu, narasi ekonomi Indonesia menjadi menarik. Di tengah kerugian puluhan triliun rupiah, tekanan inflasi, dan rupiah yang sempat goyah, pertumbuhan tetap bertahan. Kombinasi kebijakan fiskal yang adaptif, stabilitas harga, dan kehati-hatian moneter menjadi penyangga utama.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.