KABARBURSA.COM -- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mempercepat proyek Jaringan Gas Bumi (Jargas) berbasis Compressed Natural Gas (CNG) Clustering (beyond pipeline) guna menekan ketergantungan impor LPG dan memangkas beban subsidi energi negara.
Pemerintah membidik target ambisius dengan memasang 160.000 satuan sambungan rumah tangga (SR) di berbagai wilayah Indonesia pada tahun ini, sebelum melonjak signifikan pada tahun-tahun berikutnya.
Langkah taktis ini menjadi solusi percepatan distribusi energi bersih domestik tanpa harus menunggu kesiapan infrastruktur pipa transmisi yang memakan waktu lama.
Wakil Menteri ESDM Yuliot menegaskan bahwa inovasi beyond pipeline ini menjadi jawaban atas pemerataan akses energi murah dan ramah lingkungan bagi masyarakat yang wilayahnya belum terjangkau jalur pipa utama.
"Jadi untuk tahun 2026 ini, kita ada target 160.000 satuan sambungan rumah tangga di berbagai kota. Ini akan dilakukan proses percepatan. Untuk lelangnya baru akan dilakukan pada akhir Juli ini. Jadi secara teknis, ada kajian untuk kesiapan masing-masing kota yang saat ini sedang kita selesaikan. Dan 160.000 satuan rumah tangga ini ada di Pulau Jawa, ada di Sumatera, ada di Kalimantan, dan juga tergantung dari kedekatan sumber gas untuk daerah yang bersangkutan. CNG, ya CNG semuanya," ujar Yuliot dalam keterangannya, dikutip Sabtu, 20 Juni 2026.
Kementerian ESDM tidak berhenti pada target tahun ini. Pemerintah telah mendesain cetak biru penganggaran yang jauh lebih besar untuk mendongkrak volume pemanfaatan gas domestik pada tahun-tahun mendatang.
"Dan tahun depan, dari pembiayaan APBN, justru kita akan tingkatkan totalnya menjadi satu juta satuan sambungan rumah. Jadi ini juga lagi kita persiapkan untuk anggaran tahun 2027. Untuk tahun 2028, itu sudah bisa untuk satu juta satuan sambungan rumah terlaksana. Jadi yang 160.000 itu bisa melayani masyarakat," kata Yuliot menambahkan.
Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2026-2029, pemerintah mematok pengembangan sekitar 350 ribu sambungan rumah per tahun melalui berbagai skema pendanaan alternatif.
Saat ini, portofolio pengelolaan jargas secara nasional telah menyentuh angka 827 ribu sambungan rumah yang tersebar di 18 provinsi dan 74 kabupaten/kota.
Yuliot menyebut, implementasi Jargas CNG terbukti memberikan dampak instan pada efisiensi biaya energi. Di Kabupaten Sleman, infrastruktur ini telah melayani 4.545 sambungan rumah tangga, 6 pelanggan kecil dan 4 pelanggan komersial besar.
Dengan bentangan jaringan distribusi sepanjang lebih dari 141 kilometer, rata-rata pasokan gas bumi di Sleman mencapai 84 ribu meter kubik per bulan.
Menurutnya, volume ini setara dengan menyubstitusi penggunaan 64 metrik ton LPG per bulan, sebuah angka yang langsung mengurangi porsi subsidi gas melon di wilayah tersebut.
Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta industri komersial menjadi pihak yang paling diuntungkan dari margin efisiensi ini. Sebagai contoh, kata dia, Rumah Makan Payakumbuah Yogyakarta mencatat penghematan ongkos produksi sektor energi sebesar 30 hingga 33 persen setelah beralih ke Jargas CNG.
Dari sisi operasional dan keselamatan, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) memastikan pemanfaatan teknologi Clustering CNG ini aman bagi konsumen harian.
Direktur Utama PGN Arief K. Risdianto menjelaskan, mekanisme pengantaran gas dari hulu hingga ke dapur pelanggan telah melalui sistem reduksi tekanan yang ketat.
"Masyarakat tidak perlu khawatir terkait keamanan, karena CNG yang bertekanan tinggi sekitar 200 bar telah disesuaikan dengan sistem klaster agar mengalir dengan aman ke dapur-dapur rumah tangga. Dengan pengawasan yang ketat dan teknologi pengaturan tekanan (PRS) yang andal, aliran gas bumi ke dapur-dapur dipastikan aman untuk penggunaan sehari-hari," urai Arief. (*)