Logo
>

FOMO bikin Gen Z Boros, Kenali Pause 24 Hours Rule dan Rumus 4-3-2-1 Kelola Keuangan

Prudential membagikan tips Pause 24 Hours Rule dan rumus 4-3-2-1 agar Gen Z terhindar dari belanja impulsif akibat FOMO.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
FOMO bikin Gen Z Boros, Kenali Pause 24 Hours Rule dan Rumus 4-3-2-1 Kelola Keuangan
Gen Z rentan FOMO dan impulse buying, ikuti tips Pause 24 Hours Rule hingga konsep 4-3-2-1 untuk maksimalkan pengelolaan keuangan. Foto: Harun Rasyid/KabarBursa.com.

KABARBURSA.COM – Fenomena fear of missing out (FOMO) di media sosial dapat mendorong perilaku belanja impulsif atau impulse buying di kalangan muda semisal generasi Z (Gen Z).

Bentuk FOMO cukup beragam, mulai dari mengikuti tren bepergian, kuliner, hingga belanja fesyen. Apabila impulsive buying tidak dapat dikontrol, dampaknya jelas dapat mengganggu kesehatan finansial.  

Sebab kebiasaan tersebut dapat membuat banyak anak muda terdorong membeli atau boros menghabiskan uang tanpa mempertimbangkan kebutuhan.

Melihat fenomena tersebut, PT Prudential Life Assurance coba mengedukasi generasi muda agar lebih disiplin mengelola keuangan melalui konsep Pause 24 Hours Rule, yakni menunda keputusan belanja selama 24 jam sebelum melakukan transaksi.

VP Head of Digital Marketing & Partnership Prudential Indonesia, Albertus Andre, mengatakan kebiasaan sederhana tersebut bertujuan membantu anak muda membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Dengan begitu, konsumen tidak mudah terjebak dalam keputusan yang dipicu emosi sesaat.

"Saya mengajarkan pause 24 hours. Jadi artinya kita pause 24 jam untuk melihat benar-benar apakah itu kebutuhan ataupun itu keinginan," kata Andre saat ditemui KabarBursa.com dalam acara Young On Top (YOT) National Conference 16 di Jakarta, Sabtu, 4 Juli 2026.

Menurutnya, dorongan untuk membeli barang sering kali muncul karena pengaruh media sosial yang menampilkan gaya hidup orang lain maupun berbagai promosi di platform e-commerce.

"Karena biasanya ini terpancing promo-promo e-commerce, kayak tanggal kembar, misalnya 6.6 atau 7.7. Jadi kebiasaan itu terbentuk karena mereka melihat adanya promosi, adanya campaign atau diskon yang diberikan," ucapnya.

Selain mengajarkan jeda sehari sebelum berbelanja, Andre juga menyebut konsep pengelolaan keuangan 4-3-2-1 kepada peserta YOT National Conference.

Melalui metode tersebut, generasi muda didorong mengalokasikan sekitar 40 persen pendapatan untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk keinginan atau gaya hidup, 20 persen untuk dana darurat dan proteksi, serta 10 persen untuk investasi.

Albertus menilai pola tersebut dapat membantu generasi muda membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat sejak dini, terutama bagi mereka yang belum memiliki penghasilan tetap.

"Apalagi buat anak-anak Gen Z kan belum punya penghasilan. Jadi saya anggap mereka ini masih perlu untuk bisa menekan egonya atau emosinya untuk belanja barang yang mungkin belum tentu kebutuhannya mereka. Jadi cuma keinginan. Makanya konsep Pause 24 Hours Rule itu diajarkan supaya mereka bisa lebih sadar akan kebutuhan yang benar-benar ingin mereka lakukan atau mereka beli," tutur dia.

Dengan edukasi tersebut, Andre berharap generasi muda tidak hanya memiliki literasi keuangan, tetapi juga mampu mengambil keputusan finansial secara lebih rasional.

Data Bicara, FOMO Bukan Sekadar Tren

Fenomena FOMO yang mendorong perilaku belanja impulsif sebenarnya bukan sekadar persoalan gaya hidup, melainkan juga menjadi perhatian dalam upaya meningkatkan kesehatan finansial masyarakat. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan indeks literasi keuangan nasional mencapai 66,46 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan telah mencapai 80,51 persen. Temuan tersebut menggambarkan bahwa akses masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan tumbuh lebih cepat dibanding tingkat pemahaman dalam mengelola keuangan.  

Di sisi lain, tekanan terhadap kondisi keuangan juga dirasakan generasi muda. Deloitte dalam laporan Global Gen Z and Millennial Survey 2025 mencatat hampir separuh atau 48 persen responden Gen Z mengaku belum merasa aman secara finansial. 

Survei yang sama juga menunjukkan sekitar 55 persen Gen Z menunda berbagai keputusan besar dalam hidup akibat kondisi keuangan yang belum stabil, sementara biaya hidup masih menjadi kekhawatiran utama kelompok usia tersebut. Temuan ini memperlihatkan pentingnya kebiasaan mengelola pengeluaran sejak dini agar kondisi finansial tetap terjaga dalam jangka panjang.

Hubungan antara media sosial, FOMO, dan perilaku belanja juga tercermin dalam sejumlah penelitian akademik di Indonesia. Berbagai penelitian menemukan bahwa promosi melalui media sosial, rasa takut tertinggal tren atau FOMO, serta kemampuan mengendalikan diri secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap perilaku impulse buying pada Generasi Z. 

Penelitian lain terhadap konsumen Generasi Z juga menunjukkan bahwa gaya hidup berbelanja, pengaruh celebrity endorsement, hingga rekomendasi dari orang lain (word of mouth) turut memengaruhi keputusan pembelian secara impulsif. Hasil tersebut menggambarkan bahwa media sosial tidak hanya berfungsi sebagai saluran informasi, tetapi juga membentuk preferensi konsumsi generasi muda.

Perkembangan perdagangan digital turut memperkuat pola tersebut. Sejumlah studi mengenai perilaku belanja di platform live commerce menunjukkan tekanan waktu, promosi dalam siaran langsung, hingga kemudahan transaksi dapat meningkatkan kecenderungan pembelian impulsif pada konsumen Generasi Z. Kondisi ini sejalan dengan penjelasan Prudential bahwa promo tanggal kembar maupun kampanye diskon di platform e-commerce kerap memicu keputusan belanja yang didorong emosi sesaat.

Selain itu, penelitian akademik mengenai penggunaan layanan buy now pay later (paylater) di marketplace juga menunjukkan bahwa kemudahan akses pembiayaan dapat memengaruhi keputusan pembelian Generasi Z. Faktor nilai hedonis, kemudahan bertransaksi, serta tersedianya fasilitas pembayaran cicilan menjadi beberapa variabel yang mendorong perilaku konsumtif apabila tidak diimbangi dengan literasi keuangan yang memadai.

Karena itu, berbagai penelitian juga menunjukkan literasi keuangan memiliki hubungan positif dengan kesejahteraan finansial. Semakin baik pemahaman seseorang dalam mengelola pendapatan, menyusun prioritas pengeluaran, hingga menyiapkan dana darurat dan investasi, semakin besar peluang terciptanya kondisi keuangan yang sehat dan berkelanjutan. 

Temuan tersebut selaras dengan edukasi yang disampaikan Prudential melalui konsep Pause 24 Hours Rule dan pola alokasi keuangan 4-3-2-1 sebagai upaya membangun kebiasaan finansial yang lebih disiplin sejak usia muda.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).