KABARBURSA.COM – Aliran dana asing pada sesi tengah hari Selasa, 7 April 2026, memperlihatkan pola yang terbelah antara akumulasi selektif dan distribusi yang masih dominan di sejumlah saham berbasis komoditas dan energi.
Data broker menunjukkan pergerakan tidak merata, dengan sebagian saham menjadi titik masuk dana asing, sementara lainnya justru mengalami tekanan jual dalam nilai yang cukup besar.
Di sisi akumulasi, Bumi Resources Minerals (BRMS) menempati posisi teratas sebagai saham dengan net foreign buy terbesar, mencapai Rp29,08 miliar. Nilai penjualan asing tercatat Rp46,44 miliar, sementara pembelian berada di Rp75,52 miliar, yang jika dihitung tetap menghasilkan selisih bersih positif.
Pergerakan ini menunjukkan adanya aktivitas masuk yang cukup intens di tengah dinamika harga emas dan komoditas yang masih menjadi perhatian pasar.
Posisi kedua diisi oleh Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) dengan net buy Rp20,63 miliar. Saham ini mencatat penjualan asing Rp12,64 miliar dan pembelian Rp33,27 miliar. Di sini tampak bahwa pola transaksi tetap aktif meski dalam kondisi tekanan sektor transportasi yang belum sepenuhnya pulih.
Sementara itu, Dhandra Daya Investasi (CDIA) berada di posisi ketiga dengan net buy Rp10,78 miliar, yang merupakan selisih dari penjualan Rp11,10 miliar dan pembelian Rp21,89 miliar. Meski asing banyak masuk, namun akumulasinya relatif lebih terbatas dibanding dua saham sebelumnya.
GOTO, BUMI, CUAN Sasaran Jual Asing
Berpindah ke sisi distribusi, tekanan jual asing terlihat jauh lebih terkonsentrasi. GOTO menjadi saham dengan net foreign sell terbesar, mencapai Rp921,12 miliar. Nilai ini jauh melampaui saham lain, dengan total penjualan asing Rp1,94 triliun berbanding pembelian Rp1,02 triliun. Di sini ada pelepasan posisi dalam skala besar di saham teknologi tersebut.
BUMI menyusul di posisi kedua dengan net sell Rp314,23 miliar. Saham ini mencatat penjualan Rp702,25 miliar dan pembelian Rp388,03 miliar. Meskipun masih ada aktivitas beli, tekanan jual tetap mendominasi secara keseluruhan.
Sementara itu, CUAN berada di posisi ketiga dengan net sell Rp154,04 miliar, dari penjualan Rp251,35 miliar dan pembelian Rp97,31 miliar. Di sini distribusi terjadi di tengah kenaikan harga sahamnya.
Asing Deras Keluar
Jika dibandingkan, nilai net sell pada tiga saham teratas jauh lebih besar dibandingkan akumulasi pada sisi net buy. Selisih ini mencerminkan arus dana asing yang masih cenderung keluar dari pasar secara agregat, meskipun terdapat upaya akumulasi terbatas pada saham tertentu.
Konsentrasi distribusi pada saham berkapitalisasi besar juga memberikan dampak langsung terhadap pergerakan indeks.
Kondisi tersebut tercermin pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang gagal mempertahankan penguatan hingga akhir sesi pertama. Indeks ditutup melemah 0,29 persen atau 20 poin ke level 6.969, setelah sempat menyentuh level tertinggi di 7.022.
Tekanan terlihat lebih dominan dengan 398 saham melemah dibandingkan 271 saham yang menguat, sementara 289 saham bergerak stabil.
Secara sektoral, tekanan terbesar datang dari sektor industri yang turun 2,12 persen, diikuti konsumer non-primer yang melemah 1,04 persen serta sektor kesehatan yang terkoreksi 0,76 persen.
Di sisi lain, sektor energi masih mencatat kenaikan 0,72 persen, bersama infrastruktur yang naik 0,38 persen dan sektor keuangan yang menguat 0,32 persen, memberikan penahan terbatas terhadap pelemahan indeks secara keseluruhan.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.