Logo
>

Gangguan di Pelabuhan Fujairah buat Harga Minyak Global Meledak

Serangan Iran ke fasilitas energi UEA dan gangguan Selat Hormuz memicu lonjakan harga, pasar mulai menghitung risiko pasokan global yang semakin terbatas.

Ditulis oleh Yunila Wati
Gangguan di Pelabuhan Fujairah buat Harga Minyak Global Meledak
Ruang kenaikan harga minyak global masih cukup besar. (Foto: Pexels/Jan Zakelj)

KABARBURSA.COM – Lonjakan harga minyak kembali menjadi pusat perhatian pasar global setelah konflik di Timur Tengah memasuki fase yang semakin intens. Pada perdagangan Rabu pagi WIB, 18 Maret 2026, harga minyak melonjak lebih dari 3 persen.

Kenaikan kali ini dipicu serangan terbaru Iran ke Uni Emirat Arab, yang semakin memperdalam kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia.

Minyak mentah Brent ditutup naik USD3,21 atau 3,2 persen ke level USD103,42 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat USD2,71 atau 2,9 persen menjadi USD96,21 per barel. 

Kenaikan ini terjadi di tengah dinamika pasar yang sebelumnya sempat mereda, namun kembali berbalik arah setelah eskalasi konflik menunjukkan intensitas baru.

Pergerakan harga minyak saat ini tidak lagi sekadar mencerminkan ketegangan geopolitik, tetapi juga mengarah pada perubahan struktur risiko di pasar energi global. Serangan Iran ke fasilitas energi di Fujairah menjadi titik krusial yang mengubah persepsi pelaku pasar. 

Pelabuhan tersebut bukan hanya infrastruktur logistik biasa, tetapi sebagai salah satu jalur penting bagi distribusi minyak global di luar Selat Hormuz.

Gangguan di Fujairah, yang menyebabkan aktivitas pemuatan minyak terhenti sebagian dan memicu kebakaran di terminal ekspor. Kondisi ini langsung dikirim sebagai sinyal bahwa risiko kini telah bergeser dari potensi menjadi realisasi. 

Dalam empat hari terakhir, serangan yang terjadi berulang kali menandakan tekanan terhadap rantai pasok tidak bersifat insidental, melainkan mulai membentuk pola gangguan yang lebih sistematis.

Di saat yang sama, Selat Hormuz kembali menjadi pusat kekhawatiran global. Jalur sempit ini mengalirkan sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas alam cair dunia. Setiap gangguan, sekecil apa pun, memiliki implikasi langsung terhadap keseimbangan pasokan global. 

Ketika pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan gangguan jangka panjang, harga minyak pun bergerak dengan premi risiko yang semakin besar.

UEA Pangkas Produksi

Situasi menjadi semakin kompleks ketika penutupan efektif jalur tersebut memaksa Uni Emirat Arab memangkas produksi lebih dari setengahnya. Sebagai produsen terbesar ketiga dalam OPEC, langkah ini bukan hanya berdampak regional, tetapi juga langsung mengurangi suplai global yang tersedia untuk pasar. 

Dampaknya terlihat dari lonjakan harga minyak acuan Timur Tengah yang mencapai rekor tertinggi. Hal ini menandakan adanya kelangkaan pasokan untuk pengiriman.

Di tengah tekanan tersebut, respons internasional belum menunjukkan soliditas. Upaya untuk mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz masih menghadapi hambatan politik. Sejumlah sekutu Amerika Serikat menolak permintaan untuk mengirim kapal perang. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan kepentingan dalam merespons konflik. 

Pernyataan Jerman dan Prancis yang memilih tidak terlibat langsung dalam operasi militer, memperlihatkan bahwa jalur diplomasi dan keamanan global belum menemukan titik temu.

Kondisi ini membuat pasar bergerak dalam dua arah yang saling tarik-menarik. Di satu sisi, terdapat sinyal bahwa beberapa kapal tanker mulai kembali melintas secara terbatas. Hal ini memberikan harapan bahwa gangguan distribusi tidak sepenuhnya lumpuh. 

Namun di sisi lain, fakta bahwa kapal-kapal yang melintas termasuk yang dioperasikan oleh Iran, menunjukkan bahwa situasi masih jauh dari stabil dan tetap menyimpan potensi risiko yang tinggi.

Dalam konteks ini, pelaku pasar tidak hanya bereaksi terhadap kondisi saat ini, tetapi juga mulai membangun ekspektasi terhadap skenario berikutnya. Risiko eskalasi tetap terbuka, terutama jika terjadi serangan terhadap kapal tanker atau aksi penanaman ranjau di jalur pelayaran. 

Skenario seperti itu berpotensi mendorong harga minyak kembali ke level ekstrem seperti yang sempat terjadi di awal bulan.

Ruang Kenaikan Harga Minyak Masih Berlanjut

Secara teknikal, ruang kenaikan harga juga masih terbuka. Level resistance jangka menengah untuk WTI berada di sekitar USD124 per barel, yang menunjukkan bahwa pasar belum sepenuhnya mencapai batas atas pergerakan. 

Angka ini menjadi refleksi bahwa lonjakan saat ini belum dianggap sebagai puncak, melainkan bagian dari tren yang masih berkembang.

Di tengah tekanan harga yang terus meningkat, muncul wacana untuk meredam lonjakan melalui pelepasan cadangan minyak. Badan Energi Internasional (IEA) mengusulkan agar negara-negara anggota kembali melepas cadangan tambahan, melampaui 400 juta barel yang telah disepakati sebelumnya. 

Langkah ini mencerminkan upaya untuk menyeimbangkan pasar, meski efektivitasnya masih bergantung pada skala gangguan pasokan yang terjadi.

Dengan seluruh dinamika tersebut, pasar minyak global kini berada dalam fase yang sangat sensitif. Harga tidak hanya ditentukan oleh faktor fundamental permintaan dan penawaran, tetapi juga oleh persepsi risiko yang terus berubah seiring perkembangan konflik. 

Setiap peristiwa di lapangan memiliki kemampuan untuk langsung menggeser arah pasar, menjadikan volatilitas sebagai karakter utama dalam perdagangan saat ini.

Di tengah situasi ini, lonjakan harga minyak tidak lagi sekadar reaksi sesaat, tetapi menjadi cerminan dari ketidakpastian yang semakin dalam di pasar energi global. 

Ketika jalur distribusi utama terancam dan respons global belum solid, harga minyak bergerak bukan hanya karena kekurangan pasokan, tetapi karena pasar mulai memperhitungkan kemungkinan terburuk yang belum sepenuhnya terwujud.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79