KABARBURSA.COM — Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel kembali memanas. Pernyataan keras dari Teheran soal ancaman menghentikan aliran minyak Timur Tengah dibalas ancaman yang tak kalah keras dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Namun di tengah retorika tajam itu, pasar justru bergerak berlawanan. Harga minyak jatuh sementara saham global menguat.
Korps Garda Revolusi Iran pada Selasa menegaskan tidak akan membiarkan setetes pun minyak keluar dari kawasan Timur Tengah apabila serangan Amerika Serikat dan Israel terus berlanjut.
Ancaman itu langsung memicu respons dari Presiden Donald Trump. Ia memperingatkan bahwa Washington akan menghantam Iran jauh lebih keras apabila Teheran benar-benar mencoba menghalangi ekspor minyak dari kawasan yang menjadi salah satu pusat produksi energi dunia tersebut.
Di sisi lain, pernyataan keras dari kedua kubu tidak cukup menahan penurunan tajam harga minyak mentah. Pasar global justru merespons dengan reli saham setelah Trump menyatakan yakin perang dapat segera berakhir.
Pernyataan itu muncul bahkan setelah Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru. Penunjukan tersebut dipandang banyak pihak sebagai sinyal perlawanan terhadap tekanan Amerika Serikat dan Israel.
Trump sebelumnya mengatakan militer Amerika Serikat telah menimbulkan kerusakan besar terhadap kekuatan militer Iran. Ia juga memprediksi konflik akan berakhir jauh lebih cepat dari perkiraan awal empat minggu yang sempat ia sampaikan.
Meski demikian, Trump tidak menjelaskan secara rinci seperti apa bentuk kemenangan yang ia maksud. Israel sendiri secara terbuka menyatakan tujuan perang mereka adalah menggulingkan sistem pemerintahan ulama di Iran. Sementara pejabat Amerika Serikat umumnya mengatakan target Washington adalah menghancurkan kemampuan rudal dan program nuklir Iran.
Trump memiliki pandangan yang lebih keras. Ia menyatakan perang hanya akan berakhir jika Iran memiliki pemerintahan yang patuh. Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa Bangsa menyebut sedikitnya 1.332 warga sipil Iran telah tewas dan ribuan lainnya terluka sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara serta rudal ke berbagai wilayah Iran pada akhir Februari.
Trump juga memperingatkan Iran agar tidak mencoba menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Dalam konferensi pers Senin, Trump mengatakan ancaman itu akan dibalas dengan kekuatan penuh.
“Kami akan menghantam mereka begitu keras sehingga mereka atau siapa pun yang membantu mereka tidak akan pernah bisa memulihkan wilayah itu lagi,” kata Trump, dikutip dari Reuters, Selasa, 10 Maret 2026.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Iran menyatakan Teheran tidak akan membiarkan minyak keluar dari kawasan tersebut jika serangan dari Amerika Serikat dan Israel terus berlanjut. “Kami yang akan menentukan kapan perang ini berakhir,” ujar juru bicara Garda Revolusi Iran seperti dikutip media pemerintah Iran.
Ia juga menyebut pernyataan Trump sebagai omong kosong. Trump kembali mengulang ancamannya melalui media sosial.
“Jika Iran melakukan apa pun yang menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan dihantam Amerika Serikat dua puluh kali lebih keras dari yang sudah mereka alami sejauh ini,” tulis Trump.
Di tengah memanasnya konflik, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan kecil kemungkinan Teheran kembali berunding dengan Washington. Menurut Araqchi, pengalaman perundingan sebelumnya dengan Amerika Serikat meninggalkan kekecewaan mendalam bagi Iran.
“Setelah tiga putaran perundingan, tim Amerika sendiri mengatakan kami membuat kemajuan besar. Namun mereka tetap memutuskan menyerang kami. Jadi saya tidak berpikir berbicara lagi dengan Amerika akan menjadi agenda kami,” ujar Araqchi dalam wawancara dengan PBS.
Konflik yang berlangsung juga berdampak langsung pada jalur perdagangan energi dunia. Selat Hormuz secara efektif tidak dapat dilalui selama lebih dari sepekan karena kapal tanker tak berani berlayar. Kondisi ini membuat sejumlah produsen menghentikan produksi karena fasilitas penyimpanan minyak sudah penuh.
Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru pada Senin sempat mengguncang pasar energi. Harga minyak melonjak tajam sementara pasar saham global jatuh. Namun arah pasar berubah setelah Trump memprediksi perang akan segera berakhir dan muncul laporan kemungkinan pelonggaran sanksi terhadap energi Rusia.
Setelah berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, Trump mengatakan Amerika Serikat akan mencabut sanksi terkait minyak untuk beberapa negara guna meredakan kekurangan pasokan. Sejumlah sumber menyebut langkah itu berpotensi berarti pelonggaran lebih lanjut terhadap ekspor minyak Rusia. Kebijakan tersebut dapat mempersulit upaya Barat menghukum Moskow atas perang di Ukraina.
Pilihan lain yang sedang dipertimbangkan termasuk pelepasan minyak dari cadangan strategis Amerika Serikat atau pembatasan ekspor minyak Amerika. Pasar energi pun bergejolak. Kontrak berjangka minyak Brent pada Selasa kemarin turun lebih dari 10 persen setelah sehari sebelumnya melonjak hingga 29 persen ke level tertinggi sejak 2022.
Pasar saham global ikut bangkit mengikuti turunnya harga minyak. Di Amerika Serikat sendiri, harga bahan bakar menjadi isu politik sensitif menjelang pemilihan sela Kongres pada November. Partai Republik yang dipimpin Trump berusaha mempertahankan kendali atas Kongres.
Survei Reuters dan Ipsos yang dirilis Senin menunjukkan 67 persen warga Amerika memperkirakan harga bensin akan naik dalam beberapa bulan mendatang. Hanya 29 persen responden yang menyatakan mendukung perang tersebut.
Seorang pengemudi di Los Angeles mengeluhkan mahalnya harga bahan bakar. “Harganya mengerikan. Terlalu mahal. Tinggi sekali. Kadang Anda harus memilih antara membeli bensin atau membeli hal lain yang sebenarnya Anda butuhkan,” ujarnya.
Di Iran sendiri, situasi semakin memburuk setelah sebuah kilang minyak terkena serangan. Asap hitam tebal menyelimuti langit Teheran. Kepala Organisasi Kesehatan Dunia Tedros Ghebreyesus memperingatkan kebakaran di kilang itu berisiko mencemari makanan, air, dan udara.
Ketegangan regional juga merembet ke negara lain. Turki mengatakan sistem pertahanan udara NATO menembak jatuh sebuah rudal balistik yang ditembakkan dari Iran dan sempat memasuki wilayah udara Turki. Insiden itu menjadi yang kedua sejak perang berlangsung.
Militer Israel menyatakan mereka juga melancarkan serangan baru ke wilayah Iran bagian tengah dan menghantam ibu kota Lebanon Beirut. Serangan itu dilakukan setelah milisi Hizbullah yang didukung Iran menembakkan serangan lintas perbatasan.
Dampak perang bahkan terasa hingga Australia. Lima pemain tim sepak bola wanita Iran diberikan visa kemanusiaan setelah mereka meminta suaka karena takut mengalami persekusi di negara asalnya. Pemerintah Australia juga berjanji mengirim pesawat pengawas militer ke Timur Tengah serta rudal ke Uni Emirat Arab untuk membantu negara tersebut mempertahankan diri dari kemungkinan serangan Iran.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.