KABARBURSA.COM - Pergerakan dolar Amerika Serikat pada akhir pekan ini begitu rapuh. Serangkaian data ekonomi yang positif, tidak sepenuhnya mengubah arah kebijakan moneter. Sepertinya, pasar masih wait and see terhadap langkah Federal Reserve berikutnya.
Indeks dolar tercatat turun tipis 0,07 persen ke level 96,85 dan berada di jalur pelemahan 0,84 persen sepanjang pekan.
Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan indeks harga konsumen naik 0,2 persen secara bulanan, lebih rendah dari estimasi 0,3 persen. Angka ini menandakan tekanan harga mulai melunak, meskipun belum cukup signifikan untuk mendorong ekspektasi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.
Pasar membaca kondisi ini sebagai ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tetap lebih lama, terutama karena inflasi belum sepenuhnya kembali ke target jangka panjang.
Di sisi lain, data pasar tenaga kerja tetap solid. Tingkat pengangguran menurun, pertumbuhan lapangan kerja Januari kuat, dan klaim pengangguran baru lebih rendah dari perkiraan.
Kombinasi inflasi yang sedikit melunak dan tenaga kerja yang tetap kokoh menciptakan keseimbangan yang membuat dolar tidak memiliki katalis kuat untuk reli maupun koreksi tajam.
Reaksi pasar yang minim terhadap rangkaian data tersebut memperlihatkan bahwa pelaku pasar lebih fokus pada arah kebijakan bank sentral dibanding sekadar rilis angka bulanan.
Euro bergerak relatif stabil di USD1,1873 dan mencatat kenaikan sekitar 0,5 persen sepanjang pekan. Penguatan moderat euro terhadap dolar menandakan bahwa tekanan terhadap greenback lebih banyak bersifat teknikal dan taktis, bukan perubahan besar dalam fundamental makro.
Dolar juga melemah terhadap franc Swiss sebesar 0,22 persen dan menuju penurunan mingguan 1 persen, memperlihatkan adanya arus dana ke aset safe haven alternatif di tengah ketidakpastian global.
Faktor eksternal turut memengaruhi sentimen dolar. Kebijakan domestik AS yang dinilai bergejolak pada Januari serta aksi jual di sektor perangkat lunak telah mengurangi keunggulan pasar saham Amerika dibanding kawasan lain.
Dalam situasi ini, dolar kehilangan sebagian daya tariknya sebagai aset berbasis pertumbuhan. Penguatan yuan China yang berlangsung stabil juga menambah tekanan terhadap indeks dolar secara keseluruhan, terutama karena bobot mata uang Asia cukup signifikan dalam pergerakan global.
Yen Jepang Menguat Hampir Tiga Persen
Yen Jepang menjadi sorotan utama pekan ini. Mata uang tersebut menuju penguatan hampir 3 persen secara mingguan, yang merupakan kinerja terbaik sejak November 2024. Kemenangan Perdana Menteri Sanae Takaichi dalam pemilu meredakan kekhawatiran terhadap stabilitas fiskal Jepang, sehingga memperkuat yen.
Selain faktor politik domestik, pasar juga mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga Bank of Japan dalam pertemuan Maret atau April. Ekspektasi ini mempersempit selisih imbal hasil antara AS dan Jepang, yang selama ini menjadi pendorong utama pelemahan yen.
Pasangan USD/JPY turun ke kisaran 152,67 per dolar dan menunjukkan kecenderungan risiko-imbalan yang mengarah ke penurunan jangka pendek. Namun secara struktural, risiko pelemahan yen masih ada dalam jangka panjang jika diferensial suku bunga kembali melebar atau intervensi tidak berlanjut.
Dolar Australia, yang sebelumnya menjadi mata uang dengan kinerja terbaik sepanjang 2026 berkat sikap hawkish Reserve Bank of Australia, terkoreksi tipis ke US$0,70765. Meski turun 0,20 persen pada hari tersebut, mata uang ini masih mencatat kenaikan hampir 1 persen dalam sepekan.
Hal ini menunjukkan bahwa arus modal global masih selektif mencari imbal hasil lebih tinggi di luar Amerika Serikat.
Dolar Kanada menguat tipis ke C$1,361 per dolar AS, tetapi tetap mencatat penurunan mingguan sekitar 0,45 persen. Pergerakan ini mencerminkan keseimbangan antara dinamika harga komoditas dan arah kebijakan moneter Kanada yang belum sepenuhnya divergen dari The Fed.
Secara keseluruhan, sentimen terhadap dolar AS saat ini berada dalam fase netral cenderung melemah ringan. Inflasi yang lebih rendah dari perkiraan belum cukup kuat untuk mengubah ekspektasi suku bunga secara drastis, sementara ketahanan pasar tenaga kerja membatasi ruang pelemahan tajam.
Pasar valuta asing kini bergerak dalam rentang sempit sambil menunggu sinyal lebih jelas dari Federal Reserve mengenai arah kebijakan selanjutnya. Dalam kondisi seperti ini, dolar cenderung bergerak reaktif terhadap data berikutnya, terutama inflasi inti, komentar pejabat The Fed, dan dinamika diferensial suku bunga global.(*)