KABARBURSA.COM - Pergerakan harga emas global dan domestik diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif pada pekan depan. Hal ini seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan dinamika tersebut akan menjadi faktor utama yang akan menentukan arah harga emas.
Ia menyebut, harga emas dunia pada perdagangan terakhir, Sabtu, 25 April 2026, ditutup di harga USD4.708 per troy ons. Sementara logam mulia domestik berada di level Rp2.845.000 per gram.
Untuk pekan depan, Ibrahim memproyeksikan adanya potensi koreksi dengan sejumlah level support yang perlu dicermati pelaku pasar.
Jika terjadi penurunan, ia bilang, emas dunia bakal diperkirakan USD4.65 per troy ons. Sementara harga logam mulia Rp2.800.000 per gram.
"Kemudian support kedua itu di USD4.520 per troy ons. Kemudian logam mulia di level Rp2.790.000 per gram," ujar dia dalam keterangannya pada Minggu, 26 April 2026.
Di sisi lain, potensi penguatan harga emas juga tetap terbuka. Ibrahim memprediksi, jika terjadi kenaikan, harga emas dunia berpeluang menguji level resistance di USD4.779 per troy ons dengan logam mulia sekitar Rp2.865.000 per gram.
Adapun resistance lanjutan emas dunia diperkirakan berada di kisaran USD4.232 per troy ons, serta logam mulia mendekati Rp2.980.000 per gram.
Lebih lanjut, Ibrahim menjelaskan bahwa pergerakan harga emas sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor global, mulai dari fluktuasi harga minyak, pergerakan indeks dolar AS, hingga kondisi geopolitik dan kebijakan moneter.
Dari sisi geopolitik, ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali menjadi sorotan utama. Ia menilai situasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran masih berpotensi memanas, meskipun terdapat wacana pertemuan lanjutan di Pakistan.
"Walaupun Presiden AS Donald Trump mengatakan siap untuk menghancurkan kapal-kapal Iran di Selat Hormuz, tetapi di sisi lain ia mengatakan akan melakukan genjatan senjata permanen dengan Iran," kata Ibrahim.
Menurut Ibrahim, situasi ini menjadi sangat krusial. Jika konflik meningkat, apalagi sampai berdampak pada penutupan Selat Hormuz, maka harga minyak akan melonjak dan berpotensi mendorong inflasi global.
Selain faktor geopolitik, perhatian pasar juga tertuju pada kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed). Ibrahim menyoroti potensi pergantian kepemimpinan dari Jerome Powell ke Kevin Warsh. (*)