Logo
>

Harga Emas Global Naik di USD4.079 per Ons: Pergerakan Semu?

Emas stabil setelah komentar dovish The Fed memicu lonjakan ekspektasi pemangkasan suku bunga, namun tekanan mingguan dan lemahnya permintaan fisik menunjukkan pasar masih rapuh.

Ditulis oleh Yunila Wati
Harga Emas Global Naik di USD4.079 per Ons: Pergerakan Semu?
Ilustrasi kepingan logam mulia. Foto: Freepik.

KABARBURSA.COM - Harga emas menutup sesi Jumat waktu setempat, 21 November 2025, dengan pergerakan yang relatif stabil. Meski sebelumnya sempat jatuh lebih dari satu persen akibat dinamika sentimen pasar yang berubah cepat, harga emas akhirnya stabil di sekitar USD4.079 per ounce.

Hal ini mencerminkan tarik-menarik antara ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dan data ekonomi yang menunjukkan sinyal campuran. Para pelaku pasar yang semula berhati-hati, mendadak menaikkan proyeksi pemangkasan suku bunga The Fed pada Desember.

Proyeksi ini meningkat setelah komentar dovish Presiden The Fed New York John Williams, yang menyatakan ruang penurunan suku bunga masih terbuka tanpa mengganggu target inflasi.

Repricing ekspektasi tersebut menjadi bahan bakar utama pemulihan emas setelah tekanan awal. Peluang pemangkasan suku bunga yang melonjak dari 46 persen menjadi 70 persen dalam hitungan jam, memberi dorongan psikologis bagi emas sebagai aset non-yield. 

Namun dorongan itu tidak cukup untuk menghapus pelemahan mingguan, karena emas tetap berada di jalur penurunan tipis 0,1 persen. Kondisi ini memperlihatkan bahwa meski sentimen dovish membantu menahan tekanan jangka pendek, pasar emas masih belum menemukan pijakan yang solid.

Data Tenaga Kerja AS Ciptakan Kebingungan

Di sisi lain, rilis data tenaga kerja AS menciptakan kebingungan tambahan. Nonfarm payrolls tercatat naik 119.000, lebih dari dua kali lipat estimasi. Ini biasanya menjadi sinyal negatif untuk emas, karena mengindikasikan ekonomi masih cukup kuat. 

Tetapi tingkat pengangguran yang justru naik ke level tertinggi sepanjang empat tahun terakhir, cukup menebar keraguan baru mengenai kekuatan pemulihan ekonomi. Campuran data seperti ini membuat pelaku pasar harus menafsirkan ulang arah kebijakan moneter, apakah The Fed akan fokus pada sisi inflasi atau mulai mengkhawatirkan pelemahan pasar tenaga kerja.

Ketidakpastian semakin besar karena tidak semua pejabat The Fed memberi sinyal yang sama. Meski Williams terdengar dovish, Presiden The Fed Dallas Lorie Logan tetap mempertahankan sikap hawkish dan menilai suku bunga sebaiknya dipertahankan lebih lama. 

Perbedaan pandangan ini menyebabkan volatilitas tetap tinggi dan membatasi potensi kenaikan emas. Sentimen pasar pun berayun mengikuti perubahan nada dari pejabat bank sentral.

Faktor eksternal lain yang membayangi pergerakan emas adalah pasar saham. Wall Street dibuka menguat pada hari yang sama setelah optimisme pemangkasan suku bunga kembali muncul. Penguatan pasar saham biasanya menjadi tekanan tambahan bagi emas, karena meningkatnya selera risiko. 

Jika reli saham berlanjut, minat terhadap aset-aset safe haven bisa kembali surut.

Sementara itu, permintaan fisik emas di pasar Asia masih malas bergerak. Volatilitas suku bunga membuat pembeli enggan masuk ke pasar, sehingga permintaan ritel tidak mampu menjadi penopang harga. 

Aset logam mulia lainnya pun mengalami tekanan serupa. Perak turun 0,5 persen, sementara platinum mendatar dan palladium menguat tipis.

Kombinasi ini menunjukkan bahwa meski komentar dovish Fed mampu menghentikan penurunan harga emas secara cepat, pasar tetap berada dalam fase rapuh. 

Emas tidak hanya bergantung pada ekspektasi suku bunga, tetapi juga dipengaruhi oleh ketidakpastian data ekonomi, dinamika pasar saham, serta lemahnya permintaan fisik di Asia. Untuk saat ini, emas bertahan, tetapi belum benar-benar meyakinkan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79