KABARBURSA.COM – Harga emas dan logam mulia kembali naik gila-gilaan. Kenaikan ini didorong oleh Keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang membatalkan seluruh tarif yang sebelumnya dibuat oleh Presiden Donald Trump.
Harga emas spot naik 1,5 persen menjadi USD5.071,48 per ons, sementara kontrak berjangka April 2026 ditutup di USD5.080,90 per ons. Kenaikan ini terjadi setelah data PDB Amerika Serikat kuartal keempat tercatat 1,4 persen secara tahunan, lebih rendah dari perkiraan 3 persen, di tengah dinamika kebijakan tarif baru dan putusan Mahkamah Agung AS.
Di saat yang sama, indeks PCE naik 0,4 persen pada Desember, sedikit di atas ekspektasi 0,3 persen. Kombinasi perlambatan ekonomi dan inflasi yang masih bertahan membentuk latar makro yang saat ini direspons pasar melalui penguatan harga logam mulia.
Sinyal Apa, Jual atau Beli?
Jika dilihat dari teknikalnya, ringkasan indikator menunjukkan kondisi sangat beli dengan 10 indikator berada pada sinyal beli dan tidak ada sinyal jual. RSI berada di level 72,783 yang menempatkan harga di area tinggi dalam pengukuran momentum.
MACD juga tercatat positif di 359,95 dengan sinyal beli, sementara ROC di 21,132 juga menunjukkan percepatan laju kenaikan harga. ADX yang berada di 69,394 mengindikasikan kekuatan tren yang tinggi.
Begitu pula dengan Bull/Bear Power di 664,0043 dan CCI di 123,8019, memperlihatkan dominasi sisi atas dalam perhitungan indikator.
Dari sisi rata-rata pergerakan, harga emas berada di atas seluruh moving average utama. MA5 berada di kisaran 4.929–4.970, MA10 di 4.721–4.760, MA20 di 4.434–4.464, hingga MA200 di 2.536–2.810.
Posisi harga yang berada ratusan hingga ribuan poin di atas rata-rata jangka pendek dan panjang menunjukkan tren naik yang telah berlangsung secara bertahap dan konsisten.
Sementara, berdasarkan pivot point klasik, area 5.030 menjadi titik pivot utama dengan resistance berikutnya di 5.160 dan 5.274. Dengan harga spot di atas 5.030 dan mendekati resistance berikutnya, pergerakan saat ini berada di zona atas struktur pivot.
Untuk ATR di level 287,8221 menunjukkan volatilitas yang tinggi, yang berarti rentang pergerakan harga harian relatif lebar.
Kondisi indikator yang menunjukkan sangat beli, RSI di atas 70, serta posisi harga yang jauh di atas seluruh rata-rata pergerakan, mencerminkan tren naik yang kuat dalam jangka pendek hingga menengah.
Pada saat yang sama, level momentum yang tinggi dan volatilitas yang meningkat menggambarkan bahwa harga sedang bergerak dalam fase ekspansi tren. Respons investor terhadap kondisi ini secara umum tercermin pada interaksi harga terhadap level pivot dan resistance terdekat, serta perubahan komposisi sinyal indikator apabila terjadi pergeseran momentum pada sesi berikutnya.
Inflasi AS dan Harga Logam Mulia Lainnya
Tren kenaikan emas masih berlangsung, baik untuk periode pendek maupun jangka menengah. Apalagi jika dilihat secara makro, Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS, yang menjadi tolok ukur inflasi favorit Federal Reserve, naik 0,4 persen pada Desember 2025. Angka tersebut di atas ekspektasi kenaikan sebesar 0,3 persen.
Kepala strategi pasar senior RJO Futures Bob Haberkorn, mengatakan bahwa data tersebut menunjukkan inflasi masih ada, tetapi dengan PDB yang lebih rendah. Artinya, ekonomi belum mendekati titik balik. Apalagi, masih ada banyak hal yang belum pasti seputar ekonomi AS. Dan, ini menjadi pendukung kuat kenaikan emas.
Selain itu, para pedagang juga masih memperkirakan akan terjadi pemangkasan suku bunga oleh the Fed sebesar 25 basis poin, dengan yang pertama diperkirarkan terjadi pada Juni 2026. Emas juga cenderung berkinerja baik saat suku bunga rendah.
Sementara, harga logam mulia lainnya ikut terkerek naik. Perak spot naik 5,8 persen menjadi USD82,92 per ons. Platina spot naik 4,5 persen menjadi USD2.163,53 per ons, sementara paladium bertambah 4 persen menjadi USD1.751,70 per ons.(*)