Logo
>

Harga Pangan Jakarta Tetap Terkendali Jelang Lebaran, Cabai Jadi Pengecualian

Harga bahan pokok di Jakarta relatif stabil jelang Lebaran, namun cabai melonjak dipicu cuaca dan distribusi.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Harga Pangan Jakarta Tetap Terkendali Jelang Lebaran, Cabai Jadi Pengecualian
Harga pangan Jakarta jelang Lebaran stabil, stok beras aman, namun cabai naik signifikan akibat faktor cuaca dan distribusi. Foto: Dok. KabarBursa

KABARBURSA.COM — Satu hari menjelang Idulfitri 1447 Hijriah, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memastikan harga kebutuhan pokok di Ibu Kota masih dalam kondisi terkendali. Pemantauan harian menunjukkan sejumlah komoditas utama seperti beras, daging, hingga sayuran tidak mengalami lonjakan yang mengganggu daya beli masyarakat.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah DKI Jakarta, Elisabeth Ratu Rente Allo, menyebut stabilitas ini tidak datang begitu saja. Menurut dia, kondisi tersebut merupakan hasil dari upaya menjaga pasokan dan memperkuat distribusi menjelang Lebaran.

“Pada H-1 Idulfitri 1447 Hijriah ini, harga kebutuhan pokok di Jakarta berada dalam kondisi stabil. Memang terdapat kenaikan pada sejumlah komoditas, namun masih dalam batas wajar dan tidak mengganggu daya beli masyarakat,” ujar Elisabeth dalam keterangan tertulis, Jumat 20 Maret 2026.

Dari data informasi pangan Jakarta, harga beras terpantau bergerak stabil dengan kenaikan tipis. Beras IR I berada di kisaran Rp15.000 hingga Rp15.600 per kilogram. Beras IR II berkisar Rp14.500 dan IR III sekitar Rp13.500 per kilogram. Untuk beras premium seperti Setra I berada di rentang Rp16.300 hingga Rp16.400 per kilogram.

Elisabeth menilai kondisi tersebut menunjukkan pasokan beras masih aman dan distribusi berjalan lancar. “Data ini menunjukkan bahwa pasokan beras di Jakarta relatif aman dan distribusi berjalan baik. Tidak ada lonjakan signifikan jelang Idulfitri,” kata dia.

Pada komoditas protein hewani, harga daging ayam berada di kisaran Rp45.000 per kilogram dengan kenaikan tipis. Sementara daging sapi dijual antara Rp140.000 hingga Rp155.000 per kilogram, tergantung jenis potongan. “Lalu untuk daging kambing relatif stabil di kisaran Rp151.000 per kilogram dan bahkan mengalami penurunan tipis,” ujarnya.

Cabai Melonjak, Dipicu Cuaca

Di tengah stabilitas sejumlah komoditas, cabai menjadi pengecualian. Harga cabai rawit merah tercatat menembus Rp115.000 per kilogram. Cabai merah keriting dan cabai merah besar juga mengalami kenaikan. Menurut Elisabeth, lonjakan harga cabai tidak lepas dari faktor cuaca dan distribusi yang membuat fluktuasinya lebih tinggi dibanding komoditas lain.

“Khusus cabai ini terjadi kenaikan signifikan. Kenaikan ini sangat dipengaruhi faktor cuaca dan distribusi, sehingga fluktuasinya lebih tinggi. Namun kami terus melakukan intervensi pasar untuk menjaga kestabilan,” kata dia.

Sementara itu, harga minyak goreng curah berada di kisaran Rp20.000 hingga Rp21.000 per kilogram. Kenaikan yang terjadi masih tergolong ringan dan tidak signifikan. Komoditas lain seperti telur ayam, bawang, dan aneka sayuran juga terpantau stabil meski mengalami kenaikan tipis. Pemerintah daerah terus memantau pergerakan harga agar tidak terjadi lonjakan menjelang hari raya.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menegaskan upaya pengendalian harga tidak berhenti pada momen Lebaran saja. Berbagai langkah telah dilakukan untuk memastikan pasokan tetap tersedia hingga setelah hari raya. “Sesuai arahan Pak Gubernur, kami terus berupaya memastikan stok pangan mencukupi hingga pasca-Lebaran. Berbagai langkah telah dilakukan, mulai dari bazar pangan murah di 43 titik se-Jakarta, kerja sama antar daerah, hingga pemantauan distribusi secara real-time,” ujar Elisabeth.

Ia juga memastikan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan bahan pokok. “Kami memastikan masyarakat tidak perlu khawatir. Ketersediaan pangan aman, harga terkendali, dan kami terus melakukan pengawasan hingga setelah Idulfitri,” katanya.

Di balik harga pangan yang relatif stabil, pemerintah pusat sebelumnya memastikan pasokan beras dalam kondisi aman. Cadangan Beras Pemerintah yang dikelola Bulog per Maret 2026 berada di kisaran 3,7 juta ton, meningkat dari posisi Februari yang berada di rentang 3,3 juta hingga 3,5 juta ton.

Secara keseluruhan, stok beras nasional pada awal tahun ini mencapai sekitar 12,53 juta ton. Persediaan tersebut tidak hanya berada di gudang Bulog, tetapi juga tersebar di pasar dan rumah tangga sehingga memperkuat bantalan pasokan di tingkat konsumen.

Ketahanan stok bahkan disebut mampu menjangkau hingga 324 hari ke depan. Pemerintah juga memastikan pasokan cukup untuk memenuhi kebutuhan selama Ramadan hingga Idulfitri, dengan proyeksi peningkatan cadangan hingga 5 juta sampai 6 juta ton dalam beberapa bulan mendatang. Kondisi pasokan yang tebal ini menjadi salah satu faktor utama yang menahan lonjakan harga di pasar, meski permintaan meningkat menjelang Lebaran.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).