KABARBURSA.COM - Sentimen negatif di dalam negeri bergerak seirama dengan kondisi bursa Asia yang juga diliputi tekanan. Pasar saham Asia jatuh pada perdagangan Jumat, 6 Februari 2026, seiring aksi jual di Wall Street yang semakin intensif.
Indeks MSCI Asia di luar Jepang melemah signifikan, dengan tekanan paling terasa datang dari Korea Selatan. Indeks Kospi sempat anjlok hingga 5 persen pada awal perdagangan, memaksa otoritas bursa setempat menghentikan sementara perdagangan untuk meredam kepanikan.
Meski penurunan akhirnya menyempit, Kospi tetap berada di zona merah dalam, mencerminkan tingginya tingkat volatilitas.
Di sisi lain, bursa Jepang justru mampu bergerak berlawanan arah. Nikkei 225 dan Topix ditutup menguat, menunjukkan bahwa tekanan tidak sepenuhnya merata di kawasan Asia.
Pasar China juga relatif stabil dengan pergerakan tipis di Shanghai dan Shenzhen, sementara Hang Seng, ASX200 Australia, dan Taiex Taiwan masih tertekan.
Perbedaan kinerja ini menggambarkan bahwa investor global tengah melakukan seleksi ketat, membedakan pasar yang dianggap lebih tahan terhadap guncangan eksternal dengan yang dinilai lebih rentan.
Tekanan di pasar saham global juga diperkuat oleh gejolak di kelas aset lain. Di Amerika Serikat, saham-saham perangkat lunak dan jasa S&P 500 jatuh tajam hingga 4,6 persen, menghapus sekitar USD1 triliun nilai pasar sejak akhir Januari dalam gelombang jual yang dijuluki “software-mageddon”.
Kekhawatiran bahwa model kecerdasan buatan baru dapat menggerus profitabilitas perusahaan perangkat lunak menjadi pemicu utama, mendorong pelepasan agresif pada posisi-posisi yang sebelumnya sangat ramai diperdagangkan.
Kripto dan Logam Mulia ke Titik Terendah
Volatilitas juga menjalar ke pasar komoditas dan kripto. Logam mulia masih berada di bawah tekanan meski sempat pulih dari titik terendahnya. Emas bergerak melemah tipis, sementara perak sempat anjlok hingga dua digit sebelum memangkas sebagian kerugiannya.
Di pasar kripto, volatilitas ekstrem mendorong pergerakan yang berlawanan arah intraday. Bitcoin dan Ether berhasil memantul setelah penurunan tajam sehari sebelumnya, namun pergerakan tersebut lebih mencerminkan aksi teknikal jangka pendek ketimbang perubahan sentimen yang mendasar.
Di pasar valuta Asia, pergerakan mata uang cenderung mencerminkan sikap risk-off. Yen Jepang menguat sebagai aset lindung nilai, sementara dolar Australia dan dolar Singapura bergerak menguat terbatas.
Rupiah justru berada di bawah tekanan, melemah ke kisaran 16.872 per dolar AS, sejalan dengan arus keluar dari pasar saham domestik. Pergerakan ini menegaskan bahwa tekanan terhadap aset Indonesia terjadi secara simultan di pasar ekuitas dan valuta.
Secara keseluruhan, pergerakan IHSG pada sesi pertama hari ini mencerminkan kombinasi tekanan domestik dan global yang saling memperkuat. Penurunan outlook kredit oleh Moody’s menjadi katalis lokal yang mempercepat reaksi pasar, sementara gelombang risk-off global menutup ruang bagi upaya stabilisasi jangka pendek.
Dengan volatilitas yang masih tinggi di bursa Asia dan Wall Street, serta tekanan yang meluas lintas kelas aset, pelaku pasar tampak memilih sikap defensif, menunggu kejelasan arah sentimen sebelum kembali meningkatkan eksposur.(*)