KABARBURSA.COM - Eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan sejumlah kekuatan besar terus menekan lanskap energi global. Dalam beberapa pekan terakhir, harga minyak mentah dunia memperlihatkan tren kenaikan yang tajam—sebuah sinyal yang tak bisa diabaikan oleh negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia.
Situasi ini menuntut respons cepat. Indonesia dinilai perlu segera memitigasi dampak lonjakan harga minyak, terlebih sejumlah negara telah lebih dahulu mengambil langkah preventif untuk meredam gejolak. Waktu menjadi faktor krusial.
Di kawasan Asia Tenggara, respons kebijakan mulai bermunculan. Filipina, misalnya, telah menetapkan status darurat energi. Malaysia memilih jalur subsidi dengan meningkatkan dukungan terhadap bahan bakar minyak. Sementara itu, Singapura, Thailand, dan Vietnam juga mengalami kenaikan harga BBM di pasar domestik mereka—sebuah refleksi langsung dari tekanan global.
Kondisi tersebut menjadi peringatan dini. Indonesia dihadapkan pada kebutuhan untuk merumuskan kebijakan yang sigap, presisi, dan terarah agar dampaknya tidak meluas ke sektor ekonomi lainnya.
Menanggapi perkembangan ini, Anggota Komisi XII DPR RI, Irsan Sosiawan, menekankan urgensi peningkatan kewaspadaan terhadap dinamika harga minyak dunia yang kian fluktuatif.
“Situasi global saat ini menunjukkan adanya tekanan terhadap harga minyak yang harus dicermati secara serius oleh pemerintah,” ujar Irsan dalam keterangannya yang dikutip di Jakarta, Minggu 30 Maret 2026.
Ia menilai adanya disparitas antara asumsi harga minyak dalam APBN dengan realisasi harga di pasar global berpotensi menimbulkan tekanan terhadap struktur fiskal negara. Dampaknya tidak sederhana. Pos subsidi dan kompensasi energi menjadi titik paling rentan.
Lebih jauh, Irsan menegaskan bahwa pemerintah memegang peran sentral dalam menjaga stabilitas ekonomi melalui kebijakan yang terukur dan berkelanjutan. Langkah tersebut mencakup pengelolaan subsidi yang efisien, optimalisasi anggaran, hingga strategi menjaga kestabilan harga energi di dalam negeri.
“Penguatan langkah antisipatif yang terencana diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional,” ujar politisi Fraksi Partai NasDem tersebut.
Ia juga menggarisbawahi bahwa fluktuasi harga energi memiliki implikasi langsung terhadap masyarakat. Daya beli terancam tergerus. Tekanan inflasi pun berpotensi meningkat, menciptakan efek berantai yang lebih luas.
Dalam pandangannya, ketidakpastian global yang masih membayangi memerlukan respons kebijakan yang adaptif dan kalkulatif. Tidak cukup reaktif. Pemerintah perlu menyiapkan berbagai skenario untuk menghadapi dinamika yang sulit diprediksi dan berpotensi berlangsung dalam jangka panjang.(*)