Logo
>

Infrastruktur Energi Smelter Mempawah Dikebut, Danantara Bidik Rampung 2028

Danantara mempercepat pembangunan kelistrikan untuk proyek hilirisasi bauksit–aluminium di Mempawah agar operasional smelter dapat berjalan tepat waktu.

Ditulis oleh KabarBursa.com
Infrastruktur Energi Smelter Mempawah Dikebut, Danantara Bidik Rampung 2028
Danantara menargetkan infrastruktur energi proyek smelter Mempawah rampung 2028, guna mendukung hilirisasi bauksit dan produksi aluminium nasional. Foto: Dok. INALUM

KABARBURSA.COM — Langkah besar hilirisasi bauksit menuju produksi alumina dan aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat, memasuki babak baru. Badan Pengelola Investasi atau BPI Danantara menargetkan seluruh infrastruktur energi yang menopang proyek strategis tersebut dapat selesai dalam waktu dua tahun ke depan. Kelistrikan dianggap menjadi kunci utama agar operasional smelter bisa berjalan sesuai jadwal.

Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menegaskan bahwa percepatan pembangunan infrastruktur listrik menjadi prioritas mendesak. Tanpa pasokan energi yang memadai, rangkaian pabrik pengolahan bauksit hingga aluminium tidak akan bisa beroperasi optimal.

“Kita harapkan ini akan selesai dalam jangka waktu dua tahun, sehingga pada 2028 seluruh infrastruktur energi sudah siap mendukung operasional,” ujar Dony saat Ground Breaking Enam Proyek Hilirisasi Fase I di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat, 6 Februari 2026.

Target tersebut disusun sejalan dengan rencana besar operasional proyek hilirisasi di kawasan itu. Smelter aluminium baru dijadwalkan mulai beroperasi pada 2028, sementara Smelter Grade Alumina Refinery atau SGAR Fase II ditargetkan menyusul pada 2029. Total investasi untuk kedua proyek raksasa ini mencapai Rp104,55 triliun.

Untuk memastikan proyek berjalan efisien, Danantara memutuskan skema penyediaan listrik yang dianggap paling ekonomis. Pasokan energi bagi proyek yang digarap PT Indonesia Asahan Aluminium dan PT Aneka Tambang Tbk itu akan disuplai oleh PT Bukit Asam Tbk.

“Untuk kebutuhan listrik proyek ini nantinya akan dibangun oleh PTBA. Karena sumber energinya berasal dari batu bara, biaya operasional bisa ditekan sehingga produk yang dihasilkan tetap kompetitif,” jelas Dony.

Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Sebelumnya, isu ketersediaan listrik sempat menjadi pembahasan serius dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI pada September 2025. Saat itu muncul kekhawatiran apakah pasokan energi untuk proyek sebesar ini bisa terpenuhi tepat waktu.

Danantara akhirnya memilih skema Wilayah Usaha mandiri atau Wilus, sehingga pengelolaan energi untuk kawasan smelter berada di luar wilayah usaha PT PLN Persero. Skema ini diyakini memberi fleksibilitas lebih besar dalam pengendalian biaya dan keandalan pasokan.

Dony menekankan bahwa faktor harga listrik akan sangat menentukan keberhasilan proyek smelter aluminium. Industri ini dikenal sangat boros energi, sehingga sedikit saja selisih tarif bisa berdampak besar pada biaya produksi. “Salah satu key success factor dalam smelter aluminium adalah harga listrik. Karena itu, kami mengajukan Wilus sendiri agar biaya energinya bisa lebih terkendali,” tegasnya.

Dari sisi kebutuhan teknis, proyek ini memerlukan daya listrik dalam jumlah sangat besar. Head of Business Development and Strategy Group Inalum, Al Jufri, menyebut kebutuhan energi untuk smelter baru diperkirakan mencapai 1,2 Gigawatt. Target harga listrik yang diincar pun cukup ketat, yakni di kisaran USD4 hingga USD5 sen per kilowatt hour atau sekitar Rp674 hingga Rp842 per kWh.

"Pasokan listrik harus sudah masuk pada kuartal IV 2028. Dari sisi sumber energi, kami tidak terlalu membatasi. Yang terpenting adalah harga. Siapa yang bisa memberikan harga terbaik, itu yang kami ambil,” kata Al Jufri.

Persiapan teknis di lapangan juga sudah mulai dimatangkan. Inalum telah menyiapkan lahan sekitar 100 hektare di kawasan pesisir Kijing sebagai lokasi pembangunan pembangkit dan fasilitas pendukung. Pemilihan lokasi itu didasarkan pada pertimbangan efisiensi logistik, terutama untuk pengangkutan batu bara.

“Kami sudah memetakan area di dekat pelabuhan Kijing sekitar 100 hektare. Kapal pengangkut batu bara bisa langsung bersandar, dan jarak transmisi ke smelter hanya sekitar lima kilometer,” lanjut Al Jufri.

Dari pihak penyedia energi, PT Bukit Asam Tbk memastikan kesiapan mendukung proyek strategis ini. Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, menyatakan komitmen perusahaan untuk menjadi bagian penting dalam ekosistem hilirisasi nasional melalui penyediaan listrik yang andal dan terjangkau.

“PTBA berkomitmen mendukung program strategis hilirisasi melalui penyediaan energi yang andal, efisien, dan berdaya saing. Dukungan energi untuk pengolahan alumina–aluminium terpadu di Mempawah menjadi bukti keseriusan kami memperkuat rantai pasok industri dan ketahanan energi nasional,” ujar Arsal.

Proyek hilirisasi di Mempawah memang menjadi salah satu tulang punggung ambisi Indonesia memperkuat industri berbasis sumber daya alam. Dengan mengolah bauksit di dalam negeri hingga menjadi aluminium bernilai tinggi, pemerintah berharap ketergantungan pada ekspor bahan mentah bisa terus berkurang.

Namun seluruh rencana itu hanya bisa berjalan mulus jika prasyarat utama terpenuhi, yakni ketersediaan listrik yang cukup dan murah. Karena itu, percepatan pembangunan infrastruktur energi menjadi pekerjaan rumah paling penting bagi Danantara dan seluruh pihak terkait.

Jika target 2028 tercapai, Indonesia akan memasuki babak baru industri aluminium nasional dengan kapasitas produksi yang jauh lebih besar dan rantai pasok yang lebih terintegrasi. Bagi pemerintah, keberhasilan proyek ini bukan sekadar urusan bisnis, melainkan juga langkah strategis memperkuat kedaulatan industri dan daya saing ekonomi nasional. (ADI SUBCHAN)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

KabarBursa.com

Redaksi