KABARBURSA.COM – Gelombang jual yang melanda pasar saham Indonesia pekan ini menjadi salah satu yang paling brutal sejak krisis Asia 1998. Dua hari berturut-turut, Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG terjun bebas. Hal ini memantik kegelisahan investor global soal ke mana arah ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini akan dibawa oleh Presiden Prabowo Subianto.
Pemicu awalnya datang dari peringatan Morgan Stanley Capital International atau MSCI perihal aspek investabilitas pasar Indonesia. Sinyal itu langsung disambut eksodus dana asing dan membuat IHSG rontok tajam sebelum sedikit menahan laju kejatuhan pada Kamis, 29 Januari 2026 setelah regulator menjanjikan serangkaian langkah perbaikan. Namun, di mata sejumlah manajer investasi global, badai belum sepenuhnya berlalu.
Beberapa pengelola dana, seperti Aberdeen Investments dan Valverde Investment Partners, justru memperkirakan tekanan terhadap saham Indonesia masih akan berlanjut. Kekhawatiran mereka tidak berdiri sendiri. Di belakang gejolak pasar, ada sederet kebijakan dan sinyal politik yang dinilai menambah ketidakpastian.
Sorotan tajam mengarah pada langkah Prabowo. Tak lama setelah Sri Mulyani Indrawati lengser dari kursi Menteri Keuangan, muncul manuver untuk mendorong keponakan presiden ke jajaran puncak bank sentral. Di saat bersamaan, pemerintah melaporkan defisit anggaran melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari dua dekade, di luar masa pandemi, seiring agresifnya belanja sosial yang digulirkan pemerintahan baru.
Peran negara dalam perekonomian juga kian melebar lewat Danantara, sovereign wealth fund yang dibentuk Prabowo tahun lalu dan bertanggung jawab langsung kepada presiden. Sekitar USD5 miliar per tahun atau setara Rp84,25 triliun dalam bentuk dividen BUMN yang sebelumnya masuk ke kas negara kini dialihkan ke Danantara. Tak hanya itu, sebuah perusahaan negara lain yang dipimpin purnawirawan militer kini mengelola perkebunan sawit sitaan regulator dengan luas hampir setara wilayah Swiss.
Langkah MSCI dan dampaknya ke pasar disebut mempercepat keputusan keluar bagi investor yang sejak awal sudah ragu. “Ini mempercepat keputusan untuk keluar dari pasar bagi siapa pun yang masih berada di posisi abu-abu,” kata manajer dana di Aberdeen, Xin-Yao Ng, dikutip dari Bloomberg, Jumat, 30 Januari 2026.
Ia menambahkan, “Kami sudah lama khawatir terhadap arah kebijakan yang cenderung terlalu sosialis tanpa manfaat konkret bagi pertumbuhan konsumsi, sementara risiko bagi sektor swasta justru melonjak.”
Di tengah gejolak itu, Prabowo yang dikenal gemar bepergian ke luar negeri memilih bungkam dan menyerahkan panggung kepada para menterinya. Pemerintah kini berpacu dengan waktu untuk meyakinkan MSCI lewat reformasi cepat agar bobot Indonesia di indeks global tetap terjaga dan status emerging market tidak dicabut. Jika sampai diturunkan ke kategori frontier market, Indonesia akan mencatat sejarah pahit, menyusul Pakistan yang terdegradasi pada 2021.
Dari pasar obligasi, sinyal kehati-hatian juga menguat. Surat utang Indonesia kini diperdagangkan dengan premi sekitar 35 basis poin di atas rerata negara emerging market lain, sedikit di bawah level Brasil dan Kolombia yang pernah mengalami kegelisahan serupa akibat kebijakan pemerintah. Jason Tuvey dari Capital Economics menilai biaya pinjaman tersebut menunjukkan “cukup banyak kabar buruk sudah tercermin dalam harga”.
Tekanan turut menimpa rupiah. Mata uang Garuda yang sempat menyentuh rekor terendah pekan lalu melemah sekitar 0,6 persen terhadap dolar AS sejak Kamis kemarin, mengarah pada penurunan dua hari terbesar sejak September 2025.
Meski demikian, Indonesia bukan pasar yang mudah diabaikan. Dengan populasi terbesar keempat dunia, konsumsi domestik yang relatif stabil, komoditas andalan seperti sawit dan nikel, serta ekosistem kendaraan listrik yang tumbuh pesat, daya tarik jangka panjang tetap ada.
Daniel Lau dari Eastspring Investments menyebut gejolak ini memang mengganggu, namun reformasi yang dipicu justru bisa memperbaiki kualitas pasar saham Indonesia. Ia mengatakan pihaknya memanfaatkan koreksi tajam untuk mengoleksi saham perusahaan lokal berkualitas. “Sebagai investor jangka panjang, turbulensi bukan hal asing,” ujarnya. “Dan fundamental tetap menjadi kompas utama kami.”
Prabowo sendiri memasarkan kebijakan-kebijakannya sebagai prasyarat untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi hingga sekitar 8 persen per tahun, jauh di atas rata-rata 5 persen dua dekade terakhir. Menurutnya, Danantara dan belanja sosial besar-besaran dibutuhkan untuk meningkatkan kesejahteraan hampir 300 juta penduduk dan merebut kembali kekayaan nasional yang selama ini dinilai dinikmati segelintir elite.
Namun, investor internasional juga mulai merasakan dampak langsung dari agenda tersebut. Di tengah kekacauan pasar pada Rabu, 28 Januari 2026, pemerintah mengumumkan entitas baru di bawah Danantara akan mengambil alih tambang emas besar yang sebelumnya dioperasikan unit PT Astra International, yang kepemilikannya terhubung dengan Jardine Matheson Holdings.
Homin Lee dari Lombard Odier Singapore mengaku masih bersikap defensif terhadap Indonesia dan lebih memilih pasar seperti Korea Selatan, China, India, dan Afrika Selatan. Selain tekanan dari MSCI, ia menyoroti melemahnya disiplin kebijakan dan minimnya katalis laba jangka pendek.
Tanda-tanda bahwa Prabowo akan mengubah haluan pun belum terlihat. Parlemen yang sejalan dengan pemerintah tengah mengkaji penghapusan batas defisit anggaran 3 persen dari produk domestik bruto, aturan yang diberlakukan pascakrisis 1998 dan menjadi fondasi kredibilitas fiskal Indonesia. Rencana belanja presiden saat ini sudah mendekati ambang tersebut, yang sebenarnya lebih ketat dibanding banyak negara berkembang lain.
Tak berhenti di situ, DPR juga membuka wacana memperluas mandat bank sentral agar lebih aktif menopang pertumbuhan ekonomi. Bank Indonesia bahkan telah dilibatkan untuk menanggung sebagian biaya utang proyek pemerintah, praktik berisiko yang dikenal sebagai burden sharing.
Merespons kekhawatiran MSCI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengumumkan aturan baru yang mulai berlaku bulan depan, mewajibkan emiten memiliki free float minimum 15 persen, naik dari 7,5 persen sebelumnya. OJK juga menyatakan Danantara dapat ikut aktif di pasar untuk membantu likuiditas saham melalui anak usahanya.
“Ini adalah panggilan untuk bangun,” kata Kepala Ekonom PT Bank Central Asia, David Sumual. “Ini momentum bagi kita untuk benar-benar melakukan reformasi agar diakui secara internasional dan selaras dengan standar global.”(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.