Logo
>

Iran Sebut Proses Damai Berjalan, tapi Jalur Hormuz Masih Dikunci

Iran klaim negosiasi dengan AS terus berjalan, namun Selat Hormuz masih dikendalikan ketat di tengah konflik dan tekanan energi global.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Iran Sebut Proses Damai Berjalan, tapi Jalur Hormuz Masih Dikunci
Iran sebut negosiasi damai masih berlangsung, tapi Selat Hormuz tetap dikontrol ketat, picu ketidakpastian pasar energi global. Foto: Dok. Xinhua

KABARBURSA.COM — Tujuh pekan konflik antara Amerika Serikat dan Iran belum mampu menggulingkan pemerintahan Teheran. Namun, perang ini justru membuka sisi lemah Presiden Donald Trump, yakni tekanan ekonomi di dalam negeri.

Meski Iran akhirnya membuka kembali Selat Hormuz untuk pelayaran, dampak krisis energi yang terlanjur terjadi memperlihatkan batas toleransi Trump terhadap tekanan ekonomi domestik.

Serangan militer yang dimulai sejak akhir Februari dilakukan dengan dalih ancaman keamanan, terutama terkait program nuklir Iran. Namun dalam perkembangannya, situasi berbalik menjadi tekanan bagi ekonomi Amerika sendiri.

Harga bahan bakar naik, inflasi terdorong, dan tingkat persetujuan publik terhadap Trump ikut menurun. Kondisi ini membuat Gedung Putih mulai menggeser pendekatan dari militer ke diplomasi.

Para analis menilai Iran memang terpukul secara militer, tetapi mampu memberikan tekanan ekonomi yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Gangguan distribusi energi global memicu lonjakan biaya dan memperburuk situasi ekonomi.

“Trump merasakan tekanan ekonomi, yang menjadi titik lemahnya dalam perang ini,” ujar Brett Bruen, dikutip Consumer News and Business Channel, Ahad, 19 April 2026.

Gangguan di Selat Hormuz menjadi faktor utama. Jalur ini sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Penutupan jalur tersebut memicu lonjakan harga energi global dan meningkatkan kekhawatiran resesi.

Dana Moneter Internasional bahkan memperingatkan potensi perlambatan ekonomi global di tengah krisis ini. Tekanan ekonomi juga mulai terasa di dalam negeri Amerika. Petani mengalami dampak dari terganggunya pasokan pupuk, sementara harga tiket pesawat naik akibat lonjakan harga bahan bakar avtur.

Di tengah tekanan tersebut, Trump mulai mencari jalan keluar diplomatik. Perubahan sikap ini terjadi setelah tekanan dari pasar keuangan dan basis pendukungnya sendiri. “Presiden Trump bisa melakukan banyak hal sekaligus,” kata juru bicara Gedung Putih, Kush Desai.

Meski begitu, negosiasi belum sepenuhnya mulus. Sejumlah perbedaan masih muncul, terutama terkait isu nuklir Iran dan syarat-syarat yang diajukan kedua belah pihak. Di sisi lain, sekutu Amerika mulai mempertanyakan konsistensi kebijakan Trump. Keputusan perang yang diambil tanpa koordinasi dinilai meningkatkan ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global.

“Alarm bagi sekutu saat ini adalah bagaimana perang ini menunjukkan bahwa pemerintah bisa bertindak tidak terduga tanpa banyak mempertimbangkan dampaknya,” ujar Gregory Poling.

Sementara itu, negara-negara seperti China dan Rusia diperkirakan mencermati situasi ini sebagai pelajaran. Trump dinilai cenderung mencari jalur diplomasi ketika tekanan ekonomi di dalam negeri mulai meningkat.

Meski Selat Hormuz kembali dibuka dalam masa gencatan senjata, dampak ekonomi diperkirakan tidak akan langsung pulih. Para ahli menilai kerusakan pada pasar energi bisa memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun untuk diperbaiki.

Harga minyak sempat turun lebih dari 10 persen hingga di bawah USD90 per barel (Rp1.521.000 per barel) setelah kabar pembukaan jalur tersebut. Namun, ketidakpastian masih membayangi pasar global.

Di tengah negosiasi yang berlangsung, Iran menegaskan tidak akan menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya ke Amerika Serikat. “Saya bisa memastikan tidak ada material yang diperkaya yang akan dikirim ke Amerika Serikat,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh.

Situasi ini menunjukkan bahwa konflik belum sepenuhnya mereda. Di balik tekanan militer, perang justru bergerak ke arena yang lebih kompleks, yakni ekonomi global.

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).