KABARBURSA.COM — Iran menolak tawaran gencatan senjata dari Amerika Serikat dan justru mengajukan syarat tandingan untuk mengakhiri konflik yang terus memanas. Salah satu poin paling sensitif adalah tuntutan Teheran untuk menguasai Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia.
Media pemerintah Iran melaporkan, proposal tandingan itu berisi lima poin utama yang menjadi prasyarat penghentian perang. Dalam skema tersebut, Iran ingin memastikan tidak hanya penghentian serangan, tetapi juga jaminan keamanan jangka panjang hingga kompensasi kerugian perang.
Selat Hormuz sendiri bukan sekadar jalur biasa. Sekitar 20 persen konsumsi minyak global melewati wilayah ini. Gangguan di kawasan tersebut telah mendorong harga minyak dunia melampaui USD100 per barel atau sekitar Rp1.690.000 per barel.
Tuntutan Iran agar memiliki kendali atas Selat Hormuz dinilai sulit diterima Washington. Dilansir dari CNBC, Kamis, 26 Maret 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya bahkan sempat melempar wacana pengelolaan bersama wilayah tersebut. Namun dari pihak Iran, posisi itu ditegaskan sebagai hak yang tidak bisa ditawar.
“Pelaksanaan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz adalah dan akan tetap menjadi hak alami dan sah Iran, dan hal itu merupakan jaminan bagi pelaksanaan komitmen pihak lain, serta harus diakui,” demikian pernyataan sumber yang dikutip media pemerintah Iran.
Selain soal Hormuz, Iran juga menuntut penghentian total agresi militer, jaminan perang tidak terulang, hingga pembayaran ganti rugi perang secara jelas dan terukur. Di sisi lain, upaya Amerika Serikat untuk mendorong gencatan senjata disebut terus meningkat. Namun Iran menegaskan tidak akan terburu-buru menerima skema damai yang dinilai tidak kredibel.
“Iran tidak menerima gencatan senjata,” ujar sumber tersebut.
Ia menambahkan, masuk ke proses negosiasi dengan pihak yang dianggap melanggar kesepakatan dinilai tidak masuk akal. “Pada dasarnya, tidak logis untuk masuk ke dalam proses seperti itu dengan pihak yang melanggar perjanjian,” katanya.
Iran juga menegaskan bahwa penghentian konflik hanya mungkin terjadi jika tujuan strategis mereka dalam perang telah tercapai. Artinya, gencatan senjata bukan menjadi prioritas dalam waktu dekat.
Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel sendiri pecah sejak akhir Februari, dipicu serangan militer yang memperluas ketegangan di kawasan Timur Tengah. Meski Presiden Trump mengklaim tengah berlangsung negosiasi, Iran membantah adanya pembicaraan langsung antara kedua negara.
Situasi ini menunjukkan bahwa jalur diplomasi masih jauh dari kata pasti, sementara risiko gangguan energi global terus membayangi pasar.(*)