KABARBURSA.COM - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, blak-blakan mengenai kondisi ironis sektor energi nasional, di mana Indonesia masih terjebak dalam ketergantungan impor Liquefied Petroleum Gas (LPG). Bahlil mengungkapkan bahwa setiap tahunnya, devisa negara terkuras hingga ratusan triliun rupiah hanya untuk mendatangkan komoditas tersebut dari luar negeri.
"Sekarang kita belanja LPG per tahun devisa kita keluar Rp137 triliun. Dari Rp137 triliun itu yang disubsidi oleh negara Rp80 sampai Rp87 triliun per tahun. Ini sedih bagi saya, sedih ini. Sampai saya dulu pikir-pikir ini kita pintar atau kita setengah pintar gitu," ujar Bahlil dalam diskusi baru-baru ini, dikutip Selasa 5 April 2026.
Bahlil menyoroti ketimpangan antara konsumsi dan produksi dalam negeri. Saat ini, kebutuhan LPG nasional mencapai 8,6 juta ton per tahun, namun kapasitas produksi lokal hanya mampu menyumbang sekitar 1,7 juta ton. Padahal, Indonesia memiliki cadangan gas yang sangat melimpah bahkan diekspor.
Persoalannya, lanjut Bahlil, terletak pada kandungan spesifik gas Indonesia yang didominasi oleh C1 dan C2, sementara bahan baku LPG memerlukan C3 dan C4 dalam jumlah besar.
"Kenapa LPG kita impor? Karena LPG itu bahan bakunya C3 C4. Saya pun enggak belajar ini barang. Saya dikursus kilat oleh Pak Hilmi. Beliau menyampaikan C3, C4 itu berbeda dengan kebanyakan gas kita. Gas kita itu C1, C2, C3, C4. Ini kecil. Makanya kita membangun industri dalam negerinya kecil," jelasnya.
Untuk mengatasi kebocoran devisa tersebut, Bahlil menegaskan pemerintah sedang mengakselerasi hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) sebagai pengganti LPG. Meski mengakui adanya hambatan dari pihak-pihak tertentu di masa lalu, ia memastikan proyek ini akan tetap berjalan.
"DME ini adalah hasilisasi daripada batu bara low kalori untuk kita konversi dia untuk menjadi pengganti LPG. Waktu di zamannya Pak Jokowi udah ground breaking waktu saya jadi Menteri investasi tapi diintersep di tengah jalan waktu itu belum jadi ketua partai soalnya jadi masih bisa diintersep belum jadi ketum partai. Tapi kalau sekarang jangan coba-coba intersep," tegas Bahlil.
Selain DME, pemerintah juga mulai mendorong penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif yang lebih ekonomis. Bahlil mengeklaim penggunaan CNG mampu memangkas biaya hingga 40 persen dibandingkan LPG konvensional.
"Munculah ide untuk kita bikin CNG. CNG ini adalah sama juga gas tapi dia bukan LPG dan sekarang sudah dipakai untuk hotel, restoran dan beberapa MPG-MPG tetapi untuk yang 3 kg-nya ini baru mau dibuat ya kita dan ini costnya lebih murah 30 sampai 40% Pak Rektor," paparnya.
Menutup keterangannya, Bahlil menyatakan tidak akan mundur meskipun banyak tantangan dalam mengimplementasikan kebijakan efisiensi energi ini. Baginya, kepentingan pelayanan terhadap rakyat harus menjadi prioritas utama di atas kepentingan kelompok.
"Dan ini tantangannya juga banyak. Saya bilang tidak ada urusan untuk efisiensi kebaikan dan pelayanan rakyat," pungkasnya.(*)
Ironi Energi Nasional, Bahlil Sebut RI 'Setengah Pintar' soal LPG
Kandungan spesifik gas Indonesia yang didominasi oleh C1 dan C2, sementara bahan baku LPG memerlukan C3 dan C4 dalam jumlah besar
Ditulis oleh
Gusti Ridani
•