KABARBURSA.COM – Saham Barito Pacific Tbk (BRPT) nge-gas di sesi pertama perdagangan Selasa, 5 Mei 2026. Saham melesat hingga 14 persen dan mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 57 poin atau 0,83 persen ke level 7.029. Volume perdagangan IHSG mencapai 253,4 juta lot dengan nilai transaksi Rp92,12 triliun.
Aaham-saham LQ45 menjadi penggerak utama indeks. BRPT, SMGR, BBRI, hingga BBNI masuk dalam daftar top gainers. Sementara tekanan datang dari INCO, ASII, hingga ANTM yang berada di sisi pelemahan.
BRPT menjadi sorotan utama pada sesi ini dengan lonjakan harga mencapai 14,36 persen. Pergerakan ini menempatkan saham tersebut sebagai pendorong signifikan di sektor basic industry yang mencatat kenaikan tertinggi sebesar 1,33 persen.
Selain BRPT, penguatan juga terlihat pada saham-saham dalam rantai industri serupa. TPIA naik 10,34 persen, SMGR menguat 3,96 persen, dan CPIN naik tipis 0,73 persen, memperkuat kontribusi sektor terhadap laju indeks.
Sebaliknya, sektor perindustrian justru bergerak berlawanan arah. Sektor ini turun 0,62 persen dengan tekanan paling dalam pada INDS yang melemah 11,62 persen dan ASII turun 4,12 persen.
Kontras pergerakan sektor ini menunjukkan distribusi penguatan yang tidak merata. IHSG terdorong oleh kelompok saham tertentu, sementara sebagian sektor lain masih mengalami tekanan.
Indeks Asia Bervariasi
Di sisi eksternal, pergerakan bursa Asia pada sesi siang cenderung berada di zona merah. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,3 persen di tengah likuiditas pasar yang menipis.
Beberapa indeks utama bergerak variatif dengan kecenderungan melemah. Hang Seng Hong Kong turun 1,16 persen, sementara indeks Australia S&P/ASX200 melemah 0,46 persen, di tengah ketidakpastian geopolitik.
Sentimen global dipengaruhi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat, termasuk aksi saling serang di wilayah Teluk yang berkaitan dengan Selat Hormuz.
Kondisi ini menambah tekanan terhadap pasar global. Selat Hormuz sebagai jalur utama perdagangan energi menjadi titik perhatian, terutama terkait potensi gangguan distribusi minyak.
Di saat yang sama, pasar juga mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Data ketenagakerjaan non-pertanian diperkirakan menunjukkan penambahan 62.000 tenaga kerja pada April, turun dari 178.000 pada Maret.
Ekspektasi pasar saat ini masih mengarah pada sikap wait and see dari Federal Reserve. Proyeksi menunjukkan suku bunga kemungkinan tetap ditahan di tengah tekanan inflasi yang dipicu dinamika energi global.
Rupiah Melemah 0,22 Persen
Pergerakan mata uang di kawasan Asia turut mencerminkan tekanan tersebut. Rupiah tercatat melemah 0,22 persen ke level 17.431 per dolar AS, seiring pelemahan sejumlah mata uang regional seperti baht, ringgit, dan rupee.
Dalam konteks ini, penguatan IHSG pada sesi I terjadi di tengah tekanan eksternal yang masih dominan. Dorongan dari saham-saham tertentu, terutama BRPT, menjadi faktor utama yang menjaga indeks tetap berada di atas level 7.000.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.