Logo
>

Saham CPO Jadi Incaran Saat IHSG Melemah, Harga Sawit Kian Panas

Pergerakan itu terlihat pada penutupan sesi I perdagangan Bursa hari ini Senin, 4 Mei 2026. PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) menjadi bintang utama setelah melonjak 4,07 persen ke level 6.400

Ditulis oleh Desty Luthfiani
Saham CPO Jadi Incaran Saat IHSG Melemah, Harga Sawit Kian Panas
Saham-saham emiten crude palm oil atau CPO justru mulai dilirik investor. (Foto: dok Astra Agro Lestari)

KABARBURSA.COM – Di tengah tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang belum juga mereda, saham-saham emiten crude palm oil atau CPO justru mulai dilirik investor.

Saat pasar bergerak dalam tren turun, dana asing masih deras keluar, dan sentimen global belum menunjukkan perbaikan, sektor sawit perlahan muncul sebagai tempat berlindung baru karena dianggap punya daya tahan lebih baik terhadap gejolak.

Pergerakan itu terlihat pada penutupan sesi I perdagangan Bursa hari ini Senin, 4 Mei 2026. PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) menjadi bintang utama setelah melonjak 4,07 persen ke level 6.400. Kenaikan SMAR sekaligus menjadi penguatan tertinggi di kelompok saham sawit dan menunjukkan adanya aksi akumulasi pada emiten yang punya eksposur besar terhadap harga crude palm oil.

Penguatan juga terjadi pada PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk (UNSP) yang naik 2,70 persen ke harga 380. PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) ikut menanjak 1,09 persen ke level 1.395, sementara PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) bertambah 0,31 persen ke posisi 8.125.

Di sisi lain, PT Gozco Plantations Tbk (GZCO) bergerak datar di harga 216, PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) stagnan di level 134, dan PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) tertahan di posisi 910.

Adapun saham sawit yang masih berada di zona merah dipimpin PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) yang terkoreksi 5,80 persen ke level 1.625. PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) ikut turun 3,90 persen ke harga 740, PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA) melemah 2,44 persen ke posisi 1.200.

Ada juga PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) yang turun 1,90 persen ke 2.060, PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS) melemah 1,85 persen ke 795, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) turun 1,14 persen ke level 1.735, PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN) turun 0,80 persen ke posisi 620, PT FAP Agri Tbk (FAPA) melemah 0,71 persen ke harga 7.000, serta PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) turun tipis 0,46 persen ke level 2.180.

Meski tidak seluruh saham sawit kompak menghijau, pasar menangkap satu pesan yang sama: sektor ini sedang mendapatkan angin karena ditopang kenaikan harga komoditas global.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, sebelumnya dalam riset mingguannya menegaskan bahwa pelemahan pasar saat ini bukan sekadar koreksi biasa.

“Penurunan ini bukan sekadar koreksi teknikal biasa ini adalah tekanan sistemik yang berlangsung konsisten,” kata David Senin, 4 Mei 2026.

Pernyataan itu menggambarkan bahwa investor kini tidak lagi leluasa menempatkan dana di saham-saham pertumbuhan umum.

Dalam kondisi IHSG yang melemah 2,52 persen dalam sepekan terakhir, terkoreksi 19,55 persen secara year to date, dan empat bulan beruntun ditutup di zona merah, pelaku pasar cenderung mencari sektor yang masih punya penopang laba.

David menyebut salah satu sektor yang dinilai tetap kokoh adalah komoditas, khususnya sawit. “Komoditas nikel dan CPO diprediksi tetap memiliki ketahanan yang kuat berkat adanya keterbatasan pasokan global dan dukungan kebijakan domestik,” tutur dia.

Di sinilah cerita saham-saham CPO mulai menarik. Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz membuat harga minyak dunia bertahan tinggi di atas USD100 per barel. Efek dominonya langsung terasa ke industri sawit karena crude palm oil ikut terdorong mahal.

Di saat bersamaan, pelemahan rupiah ke kisaran Rp17.200 sampai Rp17.300 per dolar AS membuat biaya impor, logistik, dan distribusi dalam negeri melonjak.

Artinya, komoditas sawit kini bergerak dalam level harga yang tinggi dan memberi ruang margin lebih besar bagi produsen hulu.

Analis dan Pengamat Ekonomi Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P Sasmita, menjelaskan mahalnya harga sawit saat ini bahkan sudah terasa sampai ke produk turunan seperti Minyakita.

“Tingginya harga Minyakita dari Harga Eceran Tertinggi (HET) di berbagai daerah bukan hanya masalah kenakalan pedagang, tapi cerminan dari ketimpangan struktur biaya,” kata dia dalam pernyataan tertulis.

Menurut Ronny, mahalnya crude palm oil internasional membuat produsen jauh lebih tertarik pada pasar dengan margin lebih tinggi.

Sementara kewajiban pasokan domestik justru menekan karena harga jualnya dibatasi. Akibatnya, pasar membaca bahwa perusahaan-perusahaan sawit hulu adalah pihak yang paling berpotensi menikmati situasi ini.

Ia bahkan menegaskan bahwa secara perhitungan ekonomi, level harga saat ini sudah berubah total. “Harga Rp17.000 bertindak sebagai titik keseimbangan baru,” ucap dia.

Inilah alasan kenapa saham seperti SMAR, UNSP, SSMS, hingga AALI mulai diburu saat IHSG masih limbung. Investor melihat ada peluang cuan dari emiten yang langsung terhubung dengan kenaikan harga komoditas dunia.

Bahkan LSIP yang pada sesi I ini turun cukup dalam pun belum kehilangan perhatian. IPOT sebelumnya masih memasukkan LSIP ke dalam daftar buy on pullback karena menilai sentimen utama sawit belum berubah.

Ketika IHSG masih terseret tekanan global dan domestik, saham-saham CPO justru mulai tampil sebagai ceruk yang menawarkan pertahanan. Harga minyak dunia yang panas, crude palm oil yang mahal, rupiah yang lemah, dan insentif ekspor yang besar membuat investor menilai emiten sawit sebagai salah satu sektor paling rasional untuk dikoleksi saat pasar sedang tidak baik-baik saja.

Data Trading Economics menunjukkan harga crude palm oil global masih berada pada level yang relatif tinggi. Hingga akhir April 2026, harga palm oil tercatat di MYR 4.570 per ton atau masih naik 16,88 persen secara tahunan. Jika dibandingkan beberapa bulan sebelumnya, level ini jauh lebih premium.

Pada November 2025 harga CPO masih bergerak di kisaran MYR 4.100, lalu sempat turun ke area MYR 4.000 hingga MYR 3.900 pada Desember 2025 sampai Januari 2026.

Memasuki Februari, harga mulai pulih ke kisaran MYR 4.250 sebelum melonjak mendekati MYR 4.800 pada Maret 2026. Meski terkoreksi tipis 0,17 persen secara harian pada pembaruan terakhir, posisi MYR 4.570 menunjukkan harga sawit dunia masih bertahan jauh di atas level awal tahun dan tetap berada di zona premium bebarengan dengan memanasnya gejolak Timur Tengah.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Desty Luthfiani

Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".