KABARBURSA.COM – JP Morgan dalam sebuah laporannya pada Rabu, 4 Maret 2026, menyampaikan eskalasi konflik Amerika Serikat-Israel di Iran dapat menyebabkan kehilangan produksi lebih dari 3 juta barel per hari pada akhir pekan ini, dengan potensi kehilangan melampauai 4 juta barel perhari jika perang berlanjut lebih dari beberapa minggu.
Seperti dilansir oilprice.com, dalam perhitungannya, analis komoditas JP Morgan mengatakan bahwa Irak menjadi negara paling rentan, dengan ruang penyimpanan minyak hanya tersisa untuk tiga hari.
Sementara itu, Kuwait memiliki kapasitas penyimpanan sekitar dua minggu sebelum terpaksa mulai mengurangi produksi.
Irak telah mulai menghentikan produksi minyak karena keterbatasan kapasitas penyimpanan. Hingga saat ini, penghentian produksi tersebut telah memengaruhi sekitar 1,5 juta barel per hari, namun angka ini dapat meningkat menjadi 3 juta barel per hari, yang hampir mencakup seluruh ekspor minyak Irak.
Menurut JP Morgan, dan sejalan dengan logika umum, semakin lama perang berlangsung, semakin buruk situasi pasokan minyak.
“Pada hari ke-15 perang, volume produksi yang dihentikan dapat mencapai 3,8 juta barel per hari, dan pada hari ke-18 dapat meningkat menjadi 4,7 juta barel per hari,” tuli JP Morgan seperti dikutip, Rabu, 4 Maret 2026.
Sebelumnya diketahui bahwa Iran pada Senin, 2 Maret 2026 menyatakan akan menyerang kapal tanker mana pun yang mencoba memasuki Selat Hormuz.
“Selat itu ditutup. Jika ada yang mencoba melintas, para pahlawan Garda Revolusi dan angkatan laut reguler akan membakar kapal-kapal tersebut,” kata seorang penasihat pimpinan Korps Garda Revolusi Iran Ebrahim Jabari, seperti dikutip Al Jazeera.
“Kami juga akan menyerang pipa minyak dan tidak akan mengizinkan setetes pun minyak keluar dari kawasan ini. Harga minyak akan mencapai USD200 dalam beberapa hari ke depan,” tambah Ebrahim.
Memang, telah muncul berbagai laporan mengenai serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz, dan lalu lintas tanker dilaporkan menurun tajam, menurut data dari penyedia layanan pelacakan kapal seperti Vortexa dan Kpler.
Sebagai respons terhadap gangguan lalu lintas tersebut, Presiden Donald Trump pada awal pekan ini mengatakan bahwa Amerika Serikat sedang mempertimbangkan untuk menyediakan asuransi kapal tanker serta pengawalan angkatan laut bagi kapal tanker di Teluk Persia “jika diperlukan”.
Harga minyak Brent mendekati USD83
Harga minyak terus meningkat pada Rabu, 4 Maret 2026, di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah, meskipun laju kenaikannya melambat setelah Presiden AS Donald Trump berjanji akan memastikan pasokan energi global tetap lancar, menurut laporan Report yang mengutip data perdagangan.
Harga kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk Mei di bursa ICE Futures London tercatat USD82,66 per barel, naik USD1,26 atau 1,55 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Kontrak berjangka minyak mentah WTI untuk April di New York Mercantile Exchange (NYMEX) naik USD0,95 atau 1,27 persen menjadi USD75,51 per barel.
Sejak awal pekan ini, harga Brent telah naik 12 persen, sementara WTI meningkat 11 persen. (*)