KABARBURSA.COM — Wall Street mulai membaca arah angin baru dari pasar kripto. Bank investasi raksasa JPMorgan menilai arus modal global yang mengalir ke aset digital tahun ini berpeluang melampaui rekor sebelumnya. Angkanya tidak main-main. Lebih besar dari rekor USD130 miliar atau sekitar Rp2.184 triliun yang terkumpul sepanjang 2025.
Penilaian itu muncul di tengah situasi pasar yang tidak sepenuhnya ramah. Setelah sembilan bulan bergerak naik, pasar kripto justru melemah pada kuartal terakhir. Namun JPMorgan melihat cerita besarnya tidak berhenti di situ. Dalam laporan riset yang disusun tim analis yang dipimpin Nikolaos Panigirtzoglou, bank ini memperkirakan total aliran masuk tahunan tetap melonjak sekitar sepertiga dibandingkan 2024.
Dilansir dari Coindesk, Jumat, 16 Januari 2026, cara JPMorgan membaca arus modal kripto juga tidak sekadar melihat satu indikator. Mereka menggabungkan data aliran dana ke aset kripto, posisi kontrak berjangka di Chicago Mercantile Exchange, aktivitas pendanaan modal ventura, hingga pembelian aset digital oleh bendahara perusahaan. Dari situ, terlihat gambaran yang lebih utuh soal siapa yang benar-benar mendorong pasar.
Selama beberapa tahun terakhir, aliran modal global ke aset digital memang menjadi semacam kompas bagi pasar kripto. Dari sanalah arah harga, likuiditas, hingga gairah spekulasi biasanya terbaca. Pasar ini sudah lama hidup dalam siklus ekstrem, dari lonjakan yang digerakkan investor ritel hingga penarikan dana oleh institusi. Namun kini polanya mulai bergeser. Regulasi, kondisi makro global, serta ketersediaan instrumen investasi seperti ETP, kontrak berjangka, dan strategi treasury perusahaan mulai memegang peranan lebih besar.
Lonjakan besar tahun lalu, menurut JPMorgan, sebagian besar masih ditopang permintaan ritel. Arus masuk deras ke ETF bitcoin dan ether menjadi motor utamanya, ditambah pembelian oleh kas aset digital perusahaan. Dari sinilah cerita menarik mulai muncul.
Lebih dari separuh total aliran masuk, sekitar USD68 miliar atau setara Rp1.142 triliun, berasal dari kas perusahaan. Di antara nama-nama besar itu, Strategy atau MSTR tampil paling mencolok. Perusahaan ini menyumbang sekitar USD23 miliar atau sekitar Rp386,4 triliun, sejalan dengan strategi pembelian agresif yang sudah mereka jalankan sejak 2024.
Perusahaan lain pun ikut mengejar. Total pembelian oleh korporasi lain melonjak ke sekitar USD45 miliar atau Rp756 triliun, dari hanya USD8 miliar atau sekitar Rp134,4 triliun setahun sebelumnya.
Strategy kini dikenal sebagai pemegang bitcoin korporat terbesar di dunia. Neraca keuangannya berubah menjadi semacam taruhan langsung pada nilai jangka panjang bitcoin. Langkah agresif perusahaan perangkat lunak ini ikut menormalkan bitcoin sebagai aset kas bagi perusahaan publik. Tapi ada harga yang harus dibayar. Eksposur terhadap volatilitas kripto menjadi semakin besar, dan pergerakan saham Strategy pun kian terikat dengan naik turunnya harga token.
Namun pesta itu tidak berlangsung tanpa jeda. Memasuki kuartal keempat, momentum mulai kendor. Laporan JPMorgan mencatat pembelian aset digital oleh treasury perusahaan melambat tajam setelah Oktober.
Pada saat yang sama, aktivitas institusional yang tercermin dari kontrak berjangka bitcoin dan ether di CME juga melemah sepanjang 2025. Ini menjadi sinyal bahwa hedge fund dan investor profesional lain mulai menarik rem, berbeda dengan sikap mereka pada 2024.
Sisi lain pasar juga tidak terlalu menggembirakan. Aktivitas modal ventura kripto sepanjang tahun lalu tergolong lesu. Memang ada sedikit kenaikan dari sisi nilai pendanaan, tetapi jumlah kesepakatan justru menurun.
Fokus investasi bergeser ke putaran pendanaan tahap lanjut, sementara pendanaan tahap awal melambat. JPMorgan melihat sebagian dana yang biasanya masuk ke kesepakatan ventura justru dialihkan ke strategi treasury korporat yang lebih likuid. Ini mencerminkan preferensi investor pada likuiditas jangka pendek ketimbang taruhan jangka panjang.
Meski begitu, JPMorgan belum mengibarkan bendera putih. Ke depan, bank ini memperkirakan komposisi aliran modal akan berubah lagi. Indikator aliran dan posisi kripto dinilai mulai mendekati titik terendah. Dari sanalah peluang rebound terbuka, dengan institusi berpotensi kembali memimpin pasar pada 2026.
Salah satu kunci yang dinanti adalah kepastian regulasi di Amerika Serikat. Tambahan kejelasan aturan, termasuk kemungkinan lahirnya undang-undang struktur pasar kripto, dinilai bisa menjadi katalis kuat bagi adopsi institusional berikutnya. Jika itu terjadi, arus modal yang kini tampak ragu bisa kembali mengalir deras, dan pasar kripto bersiap memasuki babak baru dengan wajah yang lebih institusional.(*)