Logo
>

Kemenperin Perkuat Industri Baja Lewat CGL 2 Tata Metal

Kemenperin meresmikan pembangunan CGL 2 PT Tata Metal Lestari untuk memperkuat industri baja nasional dan mendorong hilirisasi.

Ditulis oleh Harun Rasyid
Kemenperin Perkuat Industri Baja Lewat CGL 2 Tata Metal
Ilustrasi Kemenperin ungkap investasi lanjutan PT Tata Metal Lestari senilai Rp1,5 triliun. Ini manfaatnya untuk industri. Foto: dok. Tata Metal

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat industri baja nasional untuk menopang pertumbuhan ekonomi. Upaya ini direalisasikan melalui peletakan batu pertama atau ground breaking pada fasilitas Continuous Galvanizing Line (CGL) 2 PT Tata Metal Lestari di Purwakarta, Jawa Barat.

    Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan, industri baja memegang peran vital dalam mendukung pembangunan infrastruktur dan penguatan sektor industri turunan.

    “Industri baja nasional memiliki peran strategis dalam upaya mendukung pembangunan infrastruktur, pengembangan teknologi, serta penguatan industri turunan seperti permesinan, otomotif, galangan kapal, dan sektor energi,” ujarnya lewat keterangan resmi yang dikutip, Selasa, 27 Januari 2026 

    Menurut catatan Kemenperin, produksi baja nasional meningkat hampir 98,5 persen dalam lima tahun terakhir, dari 8,5 juta ton pada 2019. “Ini mencerminkan kapasitas industri baja nasional yang terus tumbuh dan semakin kompetitif,” ungkap Menperin.

    Demi menjaga momentum positif tersebut, Kemenperin mengoptimalkan berbagai kebijakan, mulai dari tindakan pengamanan perdagangan, SNI (Standar Nasional Indonesia) wajib, fasilitas Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), insentif fiskal, hingga penerapan prinsip industri hijau.

    “Kebijakan ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas dan utilisasi industri baja nasional secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat daya saing produk baja dalam negeri di pasar domestik maupun ekspor,” tutur Agus.

    Kemenperin kemudian mengapresiasi PT Tata Metal Lestari dan Tatalogam Group atas investasi berkelanjutannya lewat pembangunan fasilitas CGL 2 yang sejalan dengan implementasi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam penguatan kemandirian industri dan hilirisasi.

    “Kami berharap fasilitas ini dapat beroperasi optimal, berdaya saing, serta memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional dan penguatan industri dalam negeri,” ujar Direktur Industri Logam Kemenperin Dodiet Prasetyo, mewakili Dirjen ILMATE Setia Diarta.

    Dodiet menyebut, kehadiran CGL 2 bakal memperkokoh ekosistem industri baja dari hulu hingga hilir, meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, hingga mendorong penciptaan lapangan kerja.

    “Melalui proyek ini tentu akan meningkatkan daya saing nasional, menciptakan job creation, dan juga pemberdayaan ekonomi lokal,” tambahnya.

    Dari sisi korporasi, VP of Operations PT Tata Metal Lestari Stephanus Koeswandi menyatakan, pembangunan CGL 2 merupakan bagian dari penguatan industri antara (midstream) baja nasional.

    “Industri antara memiliki peran krusial sebagai penghubung antara industri hulu dan hilir. Tanpa sektor ini yang kuat, rantai pasok akan rapuh dan ketergantungan impor terus tinggi,” jelas Stephanus.

    Sejauh ini, PT Tata Metal Lestari tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga telah mengekspor produk baja lapis ke 25 negara, termasuk Amerika Serikat dan Eropa.

    “Pembangunan CGL 2 ini merupakan bagian dari peta jalan kami untuk mencapai kapasitas terpasang hingga 2,5 juta ton baja lapis secara bertahap hingga 10 tahun ke depan, sekaligus mendukung program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) dan menghadirkan produk Made in Indonesia berstandar global,” kata Stephanus.

    Fasilitas CGL 2 ditargetkan mampu memproduksi 250 ribu ton baja lapis per tahun. Fasilitas tersebut juga melengkapi kapasitas 500 ribu ton per tahun dari CGL 1 yang berdiri di Cikarang, Jawa Barat. 

    Dalam pengembangannya, perusahaan menggandeng Tenova asal Italia untuk memastikan efisiensi energi dan penerapan teknologi ramah lingkungan.

    “Investasi ini juga menjadi bukti keseriusan kami dalam mendukung transformasi menuju industri hijau dan target net-zero emission, melalui efisiensi energi dan optimalisasi proses produksi,” tambah Stephanus.

    Selain memperkuat ketahanan industri nasional, proyek ini diharapkan memberikan multiplier effect bagi daerah.

    Sebagai informasi, total investasi lanjutan untuk CGL 2 dilaporkan mencapai Rp1,5 triliun dan berpotensi menyerap sekitar 350 tenaga kerja baru. 

    Fasilitas ini juga menjadi yang pertama di Asia Tenggara yang menggunakan teknologi pelapisan zinc magnesium dan zinc aluminium magnesium, yang mampu meningkatkan umur pakai baja hingga empat kali lipat.

    Lebih lanjut, pembangunan CGL 2 PT Tata Metal Lestari berpeluang menekan impor baja lapis, memperkuat neraca perdagangan, serta meningkatkan kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). 

    Penguatan industri antara juga menciptakan rantai pasok yang lebih efisien bagi sektor strategis seperti infrastruktur, otomotif, dan energi.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Harun Rasyid

    Harun Rasyid adalah jurnalis KabarBursa.com yang fokus pada liputan pasar modal, sektor komersial, dan industri otomotif. Berbekal pengalaman peliputan ekonomi dan bisnis, ia mengolah data dan regulasi menjadi laporan faktual yang mendukung pengambilan keputusan pelaku pasar dan investor. Gaya penulisan lugas, berbasis riset, dan memenuhi standar etika jurnalistik.