KABARBURSA.COM - Harga emas mengalami pelemahan pada perdagangan Senin, 13 April 2026. Tertekan oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kegagalan pembicaraan antara AS-Iran pada akhir pekan.
Mengutip Reuters, harga emas spot turun 0,4 persen ke level USD4.728,59 per ons, setelah mencapai titik terendah sejak 7 April 2026 di awal sesi. Kontrak berjangka emas AS berada di harga USD4.752,20 atau menyusut 0,7 persen menjadi USD4.752,20.
"Ini adalah pasar yang sangat dipengaruhi oleh berita utama. Semua mata tertuju pada harga minyak mentah karena akan memengaruhi inflasi dan yang bakal memengaruhi kebijakan Federal Reserve (The Fed)," kata Phillip Streible, kepala ahli strategi pasar di Blue Line Futures.
Harga energi yang tinggi bisa memicu kekhawatiran inflasi dan membatasi ruang gerak The Fed untuk memangkas suku bunga. Jika suku bunga tinggi, mana bakal mengurangi daya tarik emas batangan dengan imbal hasil nol, meskipun perannya sebagai lindung nilai terhadap inflasi.
FedWatch Tool dari CME menyampaikan, saat ini pasar memprediksi penurunan suku bunga AS pada akhir tahun sekitar 21 persen. Angka ini turun dari 40 persen sebulan sebelumnya.
Paul Wong, ahli strategi pasar di Sprott Asset Management, dalam sebuah catatan menyampaikan jika Selat Hormuz tetap tertutup, pasar kemungkina tidak mengikuti pola penghindaran risiko yang khas.
"Karena kekurangan energi dan kendala pembayaran dapat meningkatkan peran emas sebagai aset penyelesaian lintas batas yang tepercaya ketika mata uang dibatasi," kata dia.
Ia menambahkan, ketidakpastian mengenai pasokan minyak di masa depan berpotensi mendorong permintaan struktural yang kuat untuk perak melalui percepatan investasi dalam energi surya fotovoltaik.
Adapun, harga perak spot turun 2,4 persen menjadi USD74,07 per ons. Platinum turun 1,2 persen menjadi USD2.021,28, sementara paladium menguat 0,4 persen menjadi USD1.527,45. (*)