KABARBURSA.COM - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menaruh perhatian serius terhadap laju konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Solar. Pasalnya, memasuki kuartal kedua tahun ini, kumulatif penyaluran Solar subsidi tercatat sudah melewati batas kuota yang ditetapkan alias mengalami defisit.
Meski dibayangi rapor merah pada kuota Solar, otoritas hilir migas memastikan pergerakan pasokan dan ketahanan stok energi di dalam negeri secara umum masih berada dalam radar yang sangat aman.
Ketua Komite BPH Migas, Wahyudi Anas, membeberkan bahwa berdasarkan data evaluasi teranyar, defisit volume Solar tersebut sudah mulai merangkak sejak awal April lalu. Sebaliknya, komoditas BBM penugasan seperti Pertalite justru mencatatkan performa pasokan yang melimpah.
"Untuk minyak tanah kita masih surplus kuotanya, dan khusus untuk minyak solar yang menjadi perhatian, memang kita sejak 1 April ini mengalami minus kumulatif -50.090 KL (Kilo Liter)," ujar Wahyudi Anas saat memaparkan capaian kinerja di rapat Komisi XII DPR RI, dikutip Rabu 20 Mei 2026.
"Kalau Pertalite sangat aman, kita surplus 525.646 KL. Ini penting dan itu kita cermati. Kinerja gas bumi juga cukup aman," tambahnya.
BPH Migas menegaskan saat ini fokus memperketat pengawasan di lapangan agar penyaluran BBM subsidi dan kompensasi negara tidak semakin jebol serta bisa lebih tepat sasaran.
Kendati grafik kuota Solar menunjukkan tren defisit, Wahyudi meminta masyarakat tidak perlu panik. Manajemen rantai pasok (supply chain) yang dikelola badan usaha diklaim masih sangat solid dengan tingkat ketahanan operasional hari (day of supply) yang mumpuni. Per tanggal 18 Mei kemarin, stok harian seluruh lini produk BBM tercatat terjaga di level aman.
"Stok BBM nasional per tanggal 18 hari kemarin bahwasanya kita sangat aman. Dari Pertalite pada posisi 16 hari, kemudian RON 92 (Pertamax) 27,8 hari, RON 98 (Pertamax Turbo) 61,7 hari," rinci Wahyudi.
Sedangkan untuk bahan bakar mesin diesel dan kebutuhan penerbangan, kondisinya juga masih bergerak stabil di atas batas minimum operasional.
"Untuk Solar continue di level 16,4 hari dan selanjutnya Pertamina Dex 35 hari, avtur juga 26,6 hari, dan avargas (ferozin) 11,8 hari. Ini sangat aman dan terjaga di level tersebut," tegasnya.
Di samping urusan utak-atik kuota, BPH Migas juga terus tancap gas memperluas aksesibilitas energi di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Sepanjang tahun 2026 ini, pemerintah membidik pembangunan puluhan titik baru lembaga penyalur BBM Satu Harga demi mendongkrak keadilan energi.
"Terkait dengan capaian kinerja BPH Migas tahun 2026, di mana BBM yang disampaikan pimpinan bahwasanya 2026 kita menargetkan 55 lembaga penyalur," kata Wahyudi.
Wahyudi optimistis target ekspansi megaproyek pemetaan energi ini dapat rampung tepat waktu sebelum pergantian tahun, mengingat rantai birokrasi dan pengerjaan fisik di lapangan terus bergulir.
"Saat ini sudah proses pembangunan serta proses perizinan, sehingga akhir tahun akan tercapai. Ini menambah kumulatif dari jumlah BBM Satu Harga yang tercapai sampai 2025 sebanyak 599 lembaga penyalur, akan meningkat di 2026 menjadi 654 lembaga penyalur," pungkasnya.(*)