Logo
>

Pidato Prabowo di DPR tak Mampu Angkat IHSG, Dana Asing Juga Lari

IHSG tetap bergerak di zona merah saat Presiden Prabowo memaparkan arah RAPBN 2027. Investor asing tercatat masih melakukan tekanan jual.

Ditulis oleh Syahrianto
Pidato Prabowo di DPR tak Mampu Angkat IHSG, Dana Asing Juga Lari
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato pada Rapat Paripurna DPR RI ke-19 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025–2026 dalam rangka Penyampaian Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran 2027 yang digelar di Ruang Rapat Paripurna Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, pada Selasa, 20 Mei 2026. (Foto: Dok. BPMI Setpres)

KABARBURSA.COM – Pidato Presiden Prabowo Subianto di hadapan sidang paripurna MPR/DPR terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) RAPBN 2027 belum mampu mengangkat sentimen pasar saham domestik.

Hingga akhir sesi I perdagangan Rabu, 20 Mei 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bergerak di zona merah. Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG masih turun 38,50 poin atau 0,60 persen ke level 6.332,18.

Tekanan jual terlihat mendominasi sejak awal perdagangan. IHSG sempat dibuka di level 6.352,20 sebelum bergerak di rentang 6.215,56 hingga 6.459,56 sepanjang sesi pagi. Volume transaksi tercatat mencapai 27,44 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp17,44 triliun.

Pelemahan pasar terjadi ketika Presiden Prabowo menyampaikan pidato kenegaraan di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Jakarta. Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan APBN merupakan instrumen utama untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional dan melindungi masyarakat di tengah tekanan global.

“APBN adalah alat untuk melindungi rakyat. Alat untuk memperkokoh dasar-dasar dan sendi-sendi ekonomi bangsa,” ujar Presiden Prabowo dalam pidato KEM PPKF RAPBN 2027.

Presiden juga menegaskan pemerintah tetap menjaga optimisme ekonomi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi global. Menurut dia, pemerintah akan menjaga kesinambungan pembangunan melalui kebijakan fiskal yang sehat dan tepat sasaran.

Namun pidato tersebut belum cukup mengubah arah pergerakan pasar. Data foreign activity yang dihimpun Kabarbursa.com menunjukkan investor asing masih cenderung melakukan distribusi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar.

Sepanjang sesi pertama, total pembelian asing tercatat sebesar Rp5,13 triliun. Sementara penjualan asing mencapai Rp4,72 triliun sehingga pasar masih membukukan net foreign buy sekitar Rp404,84 miliar.

Meski secara agregat masih mencatat net buy, tekanan jual asing terkonsentrasi pada sejumlah saham besar yang menjadi penekan utama indeks.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi emiten dengan net foreign sell terbesar mencapai Rp184,67 miliar. Setelah itu disusul PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar Rp141,85 miliar dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar Rp90,96 miliar.

Investor asing juga tercatat melepas saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) senilai Rp83,08 miliar. Tekanan jual lain terlihat pada saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), hingga PT Astra International Tbk (ASII).

Di sisi lain, aliran dana asing masih masuk ke sejumlah saham berbasis komoditas dan energi. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatat net foreign buy terbesar sebesar Rp243,92 miliar.

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga mencatat net buy asing Rp224,72 miliar dengan volume transaksi mencapai 1,26 miliar saham. Selain itu, saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), hingga PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) masih masuk radar transaksi aktif investor asing.

Aktivitas broker menunjukkan perdagangan pasar masih didominasi sekuritas besar. UBS Sekuritas Indonesia (AK) menjadi broker dengan nilai transaksi terbesar mencapai Rp3,37 triliun, disusul Mandiri Sekuritas (CC) Rp3,25 triliun dan Stockbit Sekuritas Digital (XL) sekitar Rp3,1 triliun.

Broker asing dan institusi besar lain seperti Maybank Sekuritas Indonesia (ZP), Mirae Asset Sekuritas Indonesia (YP), hingga J.P. Morgan Sekuritas Indonesia (BK) juga masih aktif mendominasi transaksi pasar sesi pertama.

Pergerakan pasar tersebut menunjukkan sentimen global dan reposisi dana asing masih menjadi faktor utama pembentuk arah IHSG. 

Di tengah pidato pemerintah yang menekankan optimisme fiskal dan ketahanan ekonomi nasional, investor terlihat masih berhati-hati menghadapi tekanan eksternal, mulai dari penguatan dolar AS, rebalancing MSCI, hingga volatilitas global yang belum mereda.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Syahrianto

Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.