KABARBURSA.COM – Pidato Presiden Prabowo Subianto di hadapan sidang paripurna MPR/DPR terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) RAPBN 2027 belum mampu mengangkat sentimen pasar saham domestik.
Hingga akhir sesi I perdagangan Rabu, 20 Mei 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bergerak di zona merah. Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG masih turun 38,50 poin atau 0,60 persen ke level 6.332,18.
Tekanan jual terlihat mendominasi sejak awal perdagangan. IHSG sempat dibuka di level 6.352,20 sebelum bergerak di rentang 6.215,56 hingga 6.459,56 sepanjang sesi pagi. Volume transaksi tercatat mencapai 27,44 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp17,44 triliun.
Pelemahan pasar terjadi ketika Presiden Prabowo menyampaikan pidato kenegaraan di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Jakarta. Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan APBN merupakan instrumen utama untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional dan melindungi masyarakat di tengah tekanan global.
“APBN adalah alat untuk melindungi rakyat. Alat untuk memperkokoh dasar-dasar dan sendi-sendi ekonomi bangsa,” ujar Presiden Prabowo dalam pidato KEM PPKF RAPBN 2027.
Presiden juga menegaskan pemerintah tetap menjaga optimisme ekonomi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi global. Menurut dia, pemerintah akan menjaga kesinambungan pembangunan melalui kebijakan fiskal yang sehat dan tepat sasaran.
Namun pidato tersebut belum cukup mengubah arah pergerakan pasar. Data foreign activity yang dihimpun Kabarbursa.com menunjukkan investor asing masih cenderung melakukan distribusi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar.
Sepanjang sesi pertama, total pembelian asing tercatat sebesar Rp5,13 triliun. Sementara penjualan asing mencapai Rp4,72 triliun sehingga pasar masih membukukan net foreign buy sekitar Rp404,84 miliar.
Meski secara agregat masih mencatat net buy, tekanan jual asing terkonsentrasi pada sejumlah saham besar yang menjadi penekan utama indeks.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi emiten dengan net foreign sell terbesar mencapai Rp184,67 miliar. Setelah itu disusul PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar Rp141,85 miliar dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar Rp90,96 miliar.
Investor asing juga tercatat melepas saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) senilai Rp83,08 miliar. Tekanan jual lain terlihat pada saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), hingga PT Astra International Tbk (ASII).
Di sisi lain, aliran dana asing masih masuk ke sejumlah saham berbasis komoditas dan energi. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatat net foreign buy terbesar sebesar Rp243,92 miliar.
Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga mencatat net buy asing Rp224,72 miliar dengan volume transaksi mencapai 1,26 miliar saham. Selain itu, saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), hingga PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) masih masuk radar transaksi aktif investor asing.
Aktivitas broker menunjukkan perdagangan pasar masih didominasi sekuritas besar. UBS Sekuritas Indonesia (AK) menjadi broker dengan nilai transaksi terbesar mencapai Rp3,37 triliun, disusul Mandiri Sekuritas (CC) Rp3,25 triliun dan Stockbit Sekuritas Digital (XL) sekitar Rp3,1 triliun.
Broker asing dan institusi besar lain seperti Maybank Sekuritas Indonesia (ZP), Mirae Asset Sekuritas Indonesia (YP), hingga J.P. Morgan Sekuritas Indonesia (BK) juga masih aktif mendominasi transaksi pasar sesi pertama.
Pergerakan pasar tersebut menunjukkan sentimen global dan reposisi dana asing masih menjadi faktor utama pembentuk arah IHSG.
Di tengah pidato pemerintah yang menekankan optimisme fiskal dan ketahanan ekonomi nasional, investor terlihat masih berhati-hati menghadapi tekanan eksternal, mulai dari penguatan dolar AS, rebalancing MSCI, hingga volatilitas global yang belum mereda.(*)