Logo
>

Lonjakan Brent Tertahan, WTI Melemah di Tengah Krisis

Minyak mentah berjangka Brent, yang menjadi acuan global, ditutup naik USD1,27 atau 1,18 persen ke level USD108,65 per barel

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Lonjakan Brent Tertahan, WTI Melemah di Tengah Krisis
Ilustrasi minyak dunia. Foto: Dok Pertamina

KABARBURSA.COM - Pergerakan harga minyak dunia menunjukkan volatilitas tinggi pada perdagangan Kamis, seiring memanasnya eskalasi konflik di Timur Tengah. Minyak Brent memang ditutup menguat, namun posisinya jauh di bawah puncak intraday, sementara West Texas Intermediate (WTI) justru berakhir melemah tipis setelah sebelumnya sempat menembus level psikologis USD100 per barel.

Minyak mentah berjangka Brent, yang menjadi acuan global, ditutup naik USD1,27 atau 1,18 persen ke level USD108,65 per barel. Sebelumnya, harga sempat melonjak lebih dari USD11 hingga menyentuh USD119,13—level yang mendekati rekor tertinggi dalam tiga setengah tahun terakhir, sebagaimana dilaporkan Reuters dari Houston.

Di sisi lain, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) yang menjadi patokan Amerika Serikat turun 0,19 persen atau 18 sen ke posisi USD96,14 per barel, setelah sempat menyentuh USD100,02. Saat ini, selisih harga antara WTI dan Brent melebar ke level tertinggi dalam 11 tahun terakhir, mencerminkan dislokasi pasar yang kian tajam.

Fluktuasi tajam ini dipicu oleh serangan Iran terhadap infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah. Situasi tersebut mendorong pemerintah Amerika Serikat mengambil langkah cepat untuk meningkatkan pasokan energi domestik. Di balik kebijakan ini, terselip pula kalkulasi politik menjelang pemilu paruh waktu November, di mana Presiden Donald Trump berupaya mempertahankan dominasi partainya di Kongres.

Di pasar regional, premi minyak acuan Timur Tengah seperti Dubai dan Oman melonjak drastis, bahkan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di kisaran USD65 per barel.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengungkapkan bahwa pemerintah tengah mempertimbangkan opsi pencabutan sanksi terhadap minyak Iran yang tertahan di kapal tanker, dengan estimasi volume mencapai 140 juta barel. Meski jumlah tersebut relatif terbatas, analis Again Capital, John Kilduff, menilai pasokan tambahan ini cukup untuk meredam reli harga dalam jangka pendek.

Selain itu, pemerintah AS juga membuka kemungkinan untuk kembali menggelontorkan cadangan minyak dari Strategic Petroleum Reserve sebagai langkah stabilisasi pasar.

Analis Price Futures Group, Phil Flynn, melihat koreksi harga dari level tertinggi sebagai indikasi bahwa pasar mulai memperoleh kepercayaan terhadap kecukupan pasokan. Namun, optimisme tersebut tetap dibayangi ketegangan geopolitik yang belum mereda.

Di lapangan, situasi masih bergejolak. Israel sebelumnya melancarkan serangan terhadap ladang gas South Pars milik Iran—salah satu cadangan gas terbesar di dunia yang berbagi wilayah dengan Qatar.

Presiden Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat dan Qatar tidak terlibat dalam serangan tersebut. Ia juga memperingatkan bahwa Washington akan memberikan respons tegas apabila Iran melancarkan serangan ke Doha.

Ketegangan semakin meningkat setelah QatarEnergy melaporkan serangan rudal Iran ke fasilitas Ras Laffan, pusat produksi LNG terbesar di dunia. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan signifikan. Bahkan, fasilitas gas-to-liquid Pearl milik Shell dengan kapasitas 140.000 barel per hari turut terdampak, memaksa penghentian produksi.

Imbasnya langsung terasa di pasar global. Harga gas di Eropa melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir.

Di kawasan lain, Arab Saudi mengklaim berhasil mencegat empat rudal balistik dan satu serangan drone yang menargetkan fasilitas gas. Kilang SAMREF milik Saudi Aramco di Yanbu—yang juga melibatkan ExxonMobil—ikut menjadi sasaran serangan udara, sempat mengganggu distribusi sebelum akhirnya kembali normal.

Sementara itu, Kuwait Petroleum Corporation melaporkan bahwa kilang Mina al-Ahmadi terkena serangan drone yang memicu kebakaran terbatas.

Di tengah situasi yang semakin kompleks ini, pemerintahan Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan pengiriman ribuan pasukan tambahan ke Timur Tengah. Langkah tersebut menandai potensi eskalasi konflik yang lebih luas dan berkepanjangan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.