Logo
>

Menkeu Purbaya Klaim Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen: Isu Pelemahan Tak Terbukti

Menkeu menegaskan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini dalam posisi yang sangat solid

Ditulis oleh Gusti Ridani
Menkeu Purbaya Klaim Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen: Isu Pelemahan Tak Terbukti
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Jakarta. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa menepis anggapan miring mengenai pelemahan ekonomi nasional di awal tahun 2026. Data terbaru menunjukkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tumbuh ekspansif hingga 31 Maret 2026, dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61 persen serta lonjakan penerimaan pajak yang signifikan di angka 20,7 persen pada triwulan pertama.

Menkeu menegaskan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini dalam posisi yang sangat solid, kontradiktif dengan isu penurunan daya beli yang berkembang di masyarakat.

“Jadi angka-angka ini kita pantau terus dari bulan ke bulan. Kalau ada yang melemah, kita perbaiki kebijakannya. Terus kita tahu nanti performanya seperti apa. Jadi tidak benar bahwa ekonomi kita melambat pada saat sekarang. Paling tidak sampai bulan April ya, sampai Mei,” tegas Purbaya dalam konferensi pers APBNKITA, Selasa 5 Mei 2026.

Manufaktur Melaju, Daya Beli Diklaim Solid

Berdasarkan data kementerian, sektor manufaktur tumbuh meyakinkan di angka 5,5 persen, disusul sektor non-manufaktur sebesar 5,4 persen.

Pertumbuhan ini bahkan lebih tinggi dibandingkan periode-periode sebelumnya. Sektor perdagangan yang mencerminkan konsumsi rumah tangga juga mencatatkan pertumbuhan impresif sebesar 5,52 persen.

“Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen. Jadi signifikan sekali. Sebelumnya kan 4,9, 4,95, sekarang 5,5. Kontribusi ke ekonominya 54,36. Jadi ini menunjukkan daya beli masyarakat baik! Bagus! Kira-kira begitu. Jadi itu yang saya bingung kenapa orang masih bilang hancur daya beli masyarakat,” ungkap Purbaya.

Pemerintah juga tengah menyiapkan stimulus tambahan, khususnya di sektor properti yang saat ini tumbuh 3,54 persen. Kerja sama dengan BP Tapera terus diintensifkan untuk membuka akses pinjaman perumahan bagi puluhan juta orang.

Purbaya juga menjelaskan bahwa realisasi belanja pemerintah yang tumbuh 21,81 persen di kuartal pertama tahun ini telah menjadi motor penggerak ekonomi.

Dari sisi pendapatan, pajak khusus saja tumbuh 20 persen, sementara pendapatan negara secara total tumbuh 10 persen hingga Maret.

Menanggapi kekhawatiran sejumlah pengamat terkait risiko hiperinflasi akibat kebijakan moneter dan fiskal yang longgar, Purbaya memberikan jawaban telak. Ia memaparkan bahwa inflasi per April 2026 masih terkendali di level 2,4 persen.

“Orang bilang ‘wah, ini bakal hiperinflasi gara-gara kebijakan kita, kita menuju hiperinflasi’. Padahal dia nggak tahu definisi hiperinflasi itu apa. Bisa 40 persen, bisa 50 persen itu hiperinflasi. Tapi kita lihat angka inflasinya. Ternyata hitungnya berapa inflasinya? Setelah faktor musiman ada di sistem, musiman ada di sistem otomatis ya, itu angka terakhir hanya 2 persen. April itu 2,4 persen. Itu angka yang saya sebutkan selama ini kan,” jelasnya.

Target Optimis Menuju 8 Persen

Di tengah ketidakpastian global, Menkeu Purbaya memastikan koordinasi antara pemerintah dan Bank Sentral tetap harmonis dalam menjaga suplai uang melalui instrumen Bond Stabilization Fund guna mengendalikan suku bunga dan ongkos utang.

Pemerintah mematok target pertumbuhan ekonomi yang cukup berani untuk beberapa tahun ke depan, didukung oleh mesin pertumbuhan sektor publik dan swasta yang mulai berjalan sinkron.

“Jadi karena angkanya bagus, kita jalankan kebijakan seoptimal mungkin supaya bisa diterima masyarakat. Supaya kita bisa tumbuh terus menuju ke arah 6 persen tahun ini, tahun depan 7 persen, tahun depannya lagi 8 persen. Dan Anda ingat, ini terjadi ketika dunianya sedang kacau,” pungkas Purbaya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang