KABARBURSA.COM - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyampaikan inflasi 2026 berpotensi menghadapi tekanan pada kuartal I 2026. Menurutnya, hal ini yang disebabkan oleh ketidakpastian global (imported inflation), iklim dan faktor cuaca, serta pola musiman HBKN Ramadhan dan Idulfitri.
Untuk itu, pemerintah menyiapkan stimulus berupa pemberian diskon transportasi dan diskon tarif tol, serta pemberian bantuan pangan kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang berada pada desil 1 sampai dengan 4 di bulan Februari dan Maret 2026.
“Pemerintah juga terus mendorong di daerah bencana untuk dukungan infrastruktur dan logistik agar kita bisa menjaga, dan tadi disampaikan bahwa di daerah tersebut inflasi sudah mulai turun," ujar dia dalam keterangannya, Jumat, 30 Desember 2026.
Kemudian untuk menjelang Hari Raya Lebaran nanti, kata Airlangga, beberapa program telah dipersiapkan. Termasuk untuk diskon transportasi, baik itu pesawat, kereta api, angkutan laut, angkutan darat, dan juga jalan tol itu sudah dipersiapkan.
"Demikian pula untuk bantuan sosial, baik itu beras maupun minyak kita sedang siapkan juga,” jelasnya.
Dalam kaitan ini, upaya ditempuh dengan implementasi program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera, yang merupakan penguatan dari program GNPIP. Untuk memperkuat efektivitas pengendalian inflasi, Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) berencana melaksanakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengendalian Inflasi Tahun 2026 pada akhir Juni 2026.
Target Pertumbuhan Ekonomi RI 2025 Tak Bergeser dari 5,2 Persen Meski Dilanda Bencana
Diberitakan sebelumnya, di tengah kerusakan luas akibat banjir besar yang melanda sejumlah wilayah pada akhir tahun lalu, laju ekonomi Indonesia ternyata masih mampu bertahan. Pemerintah optimistis pertumbuhan produk domestik bruto sepanjang 2025 tetap berada di jalur target.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan mampu mencapai target 5,2 persen pada 2025, meski tekanan bencana alam sempat mengganggu aktivitas ekonomi. Bahkan, menurut dia, kinerja ekonomi justru menunjukkan akselerasi pada kuartal keempat.
Target pertumbuhan ekonomi untuk 2026 pun tidak bergeser. Pemerintah tetap mematok pertumbuhan 5,4 persen bagi perekonomian Indonesia yang bernilai sekitar USD1,4 triliun atau setara Rp23.590 triliun. Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya dalam pertemuan Dewan Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia pada Selasa, 27 Januari 2026.
Di sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia memilih tetap berhati-hati. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo yang mengatakan bank sentral masih membuka ruang untuk memangkas suku bunga demi menopang pertumbuhan ekonomi, namun stabilitas nilai tukar menjadi pertimbangan utama dalam waktu dekat.
Menurut Perry, suku bunga acuan dipertahankan dalam beberapa bulan terakhir untuk menjaga stabilitas rupiah, yang sempat tertekan pada awal tahun ini di tengah kekhawatiran pasar terhadap independensi bank sentral. Bank Indonesia, kata dia, akan terus menjaga nilai tukar rupiah, termasuk melalui langkah-langkah intervensi di pasar.
“Dalam merumuskan kebijakan moneter, kami akan selalu melihat data inflasi, nilai tukar, dan pertumbuhan ekonomi,” kata Perry, dikutip dari Reuters, Rabu, 28 Januari 2026. (*)