KABARBURSA.COM — Pergerakan pemudik menggunakan pesawat pada Lebaran 2026 diproyeksikan menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Pemerintah memperkirakan jumlah penumpang udara selama periode angkutan Lebaran tahun ini sekitar 4,98 juta orang, lebih rendah dibandingkan realisasi pada 2025 yang mencapai sekitar 6,18 juta penumpang.
Penurunan ini terjadi di tengah upaya pemerintah menjaga mobilitas masyarakat melalui berbagai kebijakan, termasuk pemangkasan harga tiket pesawat hingga hampir seperlima dari tarif normal.
Data Kementerian Perhubungan menunjukkan bahwa pada musim mudik Lebaran 2025, transportasi udara masih menjadi salah satu moda penting bagi perjalanan jarak jauh. Pada periode tersebut, jumlah penumpang pesawat mencapai sekitar 6,18 juta orang secara nasional.
Lonjakan pergerakan udara juga terlihat di bandara utama. Bandara Soekarno-Hatta, misalnya, melayani sekitar 3,56 juta penumpang selama periode angkutan Lebaran 2025, meningkat sekitar 7,9 persen dibandingkan 2024 yang mencatat sekitar 3,29 juta penumpang.
Pada puncak arus mudik tahun lalu, pergerakan penumpang di bandara tersebut bahkan mencapai sekitar 173.854 orang dalam satu hari. Angka tersebut mencerminkan tingginya mobilitas masyarakat pada periode Lebaran sekaligus menjadi indikator kuatnya aktivitas ekonomi domestik.
Operator bandara InJourney Airports juga mencatat bahwa pada H-1 Lebaran 2025 terdapat sekitar 256.107 penumpang yang terbang dari 37 bandara di seluruh Indonesia. Dengan kapasitas kursi sekitar 405.100 seat, tingkat keterisian pesawat atau load factor mencapai sekitar 63,2 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sektor penerbangan masih menikmati permintaan yang cukup kuat selama musim mudik, meskipun harga tiket pesawat relatif tinggi pada periode tersebut.
Namun, memasuki musim mudik 2026, pemerintah memperkirakan dinamika berbeda. Kementerian Perhubungan memproyeksikan jumlah penumpang udara Lebaran tahun ini sekitar 4,98 juta orang atau turun sekitar 1,2 juta penumpang dibandingkan tahun sebelumnya.
Secara keseluruhan, jumlah masyarakat yang melakukan perjalanan mudik menggunakan berbagai moda transportasi juga diperkirakan menurun. Total pergerakan masyarakat pada Lebaran 2026 diproyeksikan mencapai sekitar 143,9 juta orang, turun sekitar 1,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Penurunan mobilitas ini mendorong pemerintah untuk mengambil langkah menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan industri penerbangan tetap bergerak selama periode mudik.
Salah satu kebijakan yang diterapkan adalah pemangkasan harga tiket pesawat. Pemerintah memberikan diskon tiket penerbangan domestik hingga sekitar 17 persen hingga 18 persen selama periode mudik Lebaran 2026.
Diskon ini berlaku untuk penerbangan pada 14 Maret hingga 29 Maret 2026. Kebijakan tersebut dilakukan melalui sejumlah skema, mulai dari penurunan biaya layanan bandara hingga pengurangan komponen biaya operasional maskapai.
Selain itu, pemerintah juga menurunkan harga avtur sekitar 10 persen di 37 bandara untuk membantu menekan biaya operasional maskapai selama musim mudik. Langkah lain yang dilakukan adalah pengurangan fuel surcharge atau biaya tambahan bahan bakar pada tiket pesawat serta pemangkasan biaya layanan bandara hingga sekitar 50 persen.
Dengan berbagai insentif tersebut, pemerintah berharap harga tiket pesawat menjadi lebih terjangkau sehingga mobilitas masyarakat tetap terjaga selama periode Lebaran.
Dari sisi kesiapan operasional, pemerintah menyiapkan sekitar 392 pesawat untuk melayani angkutan Lebaran 2026. Armada ini akan beroperasi melalui 257 bandara di seluruh Indonesia. Jumlah pesawat yang disiapkan pada tahun ini sedikit lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Pada musim mudik Lebaran 2025, total armada yang disiagakan mencapai sekitar 404 pesawat.
Meski armada sedikit berkurang, pemerintah memastikan kapasitas penerbangan tetap memadai untuk melayani lonjakan perjalanan selama musim mudik.
Secara ekonomi, pergerakan penumpang udara selama Lebaran sering dijadikan indikator aktivitas konsumsi kelas menengah. Lonjakan mobilitas biasanya berkorelasi dengan meningkatnya pengeluaran masyarakat untuk transportasi, pariwisata, dan aktivitas ekonomi di daerah tujuan mudik.
Karena itu, perubahan tren mudik udara pada 2026 menjadi sinyal penting bagi industri penerbangan maupun perekonomian nasional. Penurunan jumlah penumpang yang diproyeksikan tahun ini menunjukkan adanya penyesuaian mobilitas masyarakat, meskipun pemerintah telah memberikan berbagai stimulus untuk menjaga keterjangkauan harga tiket pesawat.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.