KABARBURSA.COM – Mengikuti pergerakan Wall Street yang stagnan dan, bursa Asia-Pasifik memulai perdagangan Jumat, 5 Desember 2025, dengan langkah yang tidak stabil. Efek bursa Amerika Serikat memberikan efek domino dan membuat indeks-indeks utama kawasan dibuka di zona merah.
Pasar regional tampak sedang berusaha mencari arah di tengah naiknya imbal hasil obligasi Jepang dan meningkatnya kewaspadaan investor terhadap saham-saham teknologi.
Sinyal tekanan paling kuat datang dari Jepang. Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun melonjak ke 1,94 persen—level tertinggi sejak Juli 2007. Lonjakan yield ini langsung menekan sentimen ekuitas, terutama saham-saham sensitif terhadap pergerakan suku bunga.
Nikkei 225 anjlok 1,38 persen ke 50.323,73, mengikuti penurunan pada pembukaan yang sudah mencapai -1,36 persen. Indeks Topix juga merosot 1,12 persen. Lemahnya pergerakan kedua indeks menandakan pelemahan yang cukup merata di pasar Jepang.
Di sini, pasar menyerap sinyal bahwa tekanan kebijakan moneter BOJ semakin nyata di tengah ekspektasi pasar mengenai potensi kenaikan suku bunga pada akhir bulan.
Kospi dan Kosdaq Bergerak Lemah
Di Korea Selatan, pembukaan perdagangan juga dibayangi kehati-hatian. Kospi bergerak sedikit di bawah level datar sebelum akhirnya menguat tipis 0,14 persen menjadi 4.033,96. Sebaliknya, Kosdaq, yang lebih banyak diisi saham teknologi dan pertumbuhan, turun 0,25 persen.
Kinerja keduanya menunjukkan sensitivitas pasar terhadap kekhawatiran potensi gelembung di sektor teknologi global. Meski demikian, pergerakan saham-saham besar tampaknya cukup mampu menjaga Kospi bertahan dari pelemahan lebih dalam.
Di Australia, ASX 200 dibuka turun 0,17 persen. Namun indeks dengan cepat berbalik arah dan menguat tipis 0,09 persen menjadi 8.626,30 pada pukul 08.15 WIB. Penguatan tipis ini menunjukkan adanya rotasi selektif ke saham-saham yang dinilai masih mampu bertahan di tengah ketidakpastian global, meskipun sentimennya belum cukup kuat untuk mendorong reli yang lebih meyakinkan.
Sementara itu, SoftBank menjadi sorotan di Jepang setelah sempat melonjak hampir 4 persen dan mencatat kenaikan tiga hari berturut-turut. Namun aksi ambil untung membuat kenaikan tersebut terpangkas dan menyisakan kenaikan terakhir hanya sekitar 1,02 persen.
Gerak SoftBank yang fluktuatif ini mencerminkan betapa sensitifnya sektor teknologi terhadap sentimen risiko saat ini.
IHSG Berpeluang Lanjutkan Penguatan, tapi Lebih Hati-hati
Untuk Indonesia, IHSG diproyeksikan masih berpeluang melanjutkan penguatan setelah naik 0,33 persen pada sesi sebelumnya ke level 8.640. Namun ruang naiknya diperkirakan semakin terbatas.
Tekanan jual bersih asing sebesar Rp182 miliar kemarin menjadi sinyal bahwa investor global belum sepenuhnya kembali ke pasar domestik. Bahkan ETF EIDO di New York, yang mencerminkan sentimen investor asing terhadap saham Indonesia, turun 0,40 persen menjadi USD18,78.
Secara teknikal, IHSG kini berada di fase krusial menguji level support 8.600, dengan ruang penguatan menuju 8.700 jika tekanan asing mereda. Analis Indo Premier melihat bahwa reli awal Desember yang mencapai 1,35 persen masih membuka peluang lanjutan, didukung momentum musiman seperti window dressing dan Santa Claus rally.
Selain itu, ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve dan kemungkinan langkah serupa dari Bank Indonesia pekan depan menjadi penopang sentimen yang cukup kuat.
Secara keseluruhan, pembukaan bursa Asia pagi ini menggambarkan pasar yang bergerak hati-hati, di tengah kombinasi tekanan global dan dinamika domestik. Jepang mengalami tekanan paling berat akibat lonjakan yield, Korea dan Australia bergerak moderat, sementara IHSG masih mencoba mempertahankan tren naiknya walau dibayangi aliran dana asing keluar.
Arah perdagangan kawasan selanjutnya sangat bergantung pada respons pasar terhadap rilis data ekonomi global dan ekspektasi kebijakan bank sentral yang akan mendominasi pergerakan menjelang pertengahan Desember.(*)