Pemerintah Pastikan Momentum Pertumbuhan Ekonomi 2026 Terjaga
KABARBURSA.COM— Pemerintah menegaskan stabilitas ekonomi nasional tetap solid di awal 2026 seiring penurunan suku bunga kredit dan meningkatnya optimisme masyarakat. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, menyampaikan bahwa tren indikator makro menunjukkan arah pemulihan yang konsisten.
Ia mengungkapkan suku bunga kredit telah turun menjadi 8,80 persen per Januari 2026 dari sebelumnya 9,12 persen. Menurutnya, penurunan ini merupakan hasil koordinasi kebijakan pemerintah dengan Bank Indonesia guna menjaga likuiditas dan mendorong aktivitas ekonomi.
“Suku bunga kredit sudah turun ke 8,80 persen. Pemerintah dan BI akan terus menjaga koordinasi kebijakan agar stabilitas pasar tetap terjaga,” ujar dia dalam konferensi pers APBN Kita, Senin, 23 Februari 2026.
Purbaya menambahkan, sektor manufaktur mengalami ekspansi selama enam bulan berturut-turut, menandakan permintaan domestik yang kuat. Indeks penjualan ritel digital juga meningkat, menunjukkan konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Ini menandakan konsumsi rumah tangga tetap solid sebagai penopang utama. Persepsi masyarakat terhadap ekonomi juga berada di level tinggi,” katanya.
Ia menilai kepercayaan publik terhadap pemerintah yang berada di level indeks 117 menjadi modal penting menjaga stabilitas sosial, politik, dan ekonomi dalam beberapa bulan mendatang.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 2026 berada di kisaran 5,5 hingga 6 persen dengan menjaga momentum tahun sebelumnya. Strateginya meliputi optimalisasi belanja negara, percepatan program pembangunan desa, serta stimulus konsumsi menjelang Ramadan.
“Pertumbuhan 2025 akan dipertahankan momentumnya agar bisa lebih tinggi lagi di 2026,” tegasnya.
Program penguatan ekonomi desa juga terus dipercepat melalui pembentukan 30.000 kawasan pembangunan berbasis desa dengan nilai investasi puluhan triliun rupiah. Hingga 20 Februari, lebih dari 24 ribu kawasan telah masuk tahap pembangunan.
Untuk menjaga daya beli masyarakat, pemerintah menyiapkan stimulus transportasi dan bantuan sosial, termasuk bantuan pangan bagi lebih dari 35 juta keluarga penerima manfaat. Selain itu, anggaran tambahan dialokasikan untuk subsidi energi serta rehabilitasi wilayah terdampak bencana di Aceh dan Sumatera Utara.
Pemerintah juga melaporkan arus investasi yang terus masuk, termasuk proyek industri strategis dan energi. Upaya deregulasi perizinan disebut berhasil meningkatkan minat investor global dan memperkuat daya saing logistik nasional. Sebagian investasi juga melibatkan kerja sama regional, termasuk dengan Malaysia.
“Karena fundamental ekonomi kita kuat, kepercayaan investor global lebih mudah kembali dibandingkan bila kondisinya lemah,” jelasnya.
Di sisi lain, inflasi diproyeksikan tetap terjaga di kisaran 3,5 persen berkat intervensi kebijakan stabilisasi harga dan pengendalian energi. Pemerintah menilai ruang inflasi yang terkendali memberi kesempatan untuk mendorong pertumbuhan tanpa risiko overheating.
Secara keseluruhan, pemerintah optimistis kombinasi stabilitas makro, konsumsi domestik kuat, serta percepatan investasi akan menjaga ekonomi nasional tetap resilien dan tumbuh lebih tinggi sepanjang 2026. (*) (Nur Nadiyah)