KABARBURSA.COM — Pemerintah menegaskan komitmennya untuk membenahi tata kelola pasar saham, menyusul gejolak besar yang mengguncang Bursa Efek Indonesia dan menggerus kepercayaan investor global. Kekhawatiran lembaga indeks internasional terhadap transparansi kepemilikan dan perdagangan saham Indonesia memicu aksi jual masif yang menghapus nilai pasar sekitar USD80 miliar atau setara Rp1.348 triliun.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah tidak akan menghindar dari kritik tersebut. Justru sebaliknya, gejolak ini dijadikan momentum untuk mempercepat reformasi struktural di pasar modal.
Ia menegaskan langkah yang diambil bukan semata demi meredam kepanikan jangka pendek, melainkan untuk menjaga kredibilitas ekonomi nasional dalam jangka panjang.
“Sebagai respons atas situasi ini, pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas dan kredibilitas negara dan ini juga untuk kredibilitas pasar modal melalui sejumlah langkah strategis,” ujar Airlangga kepada wartawan di luar kantor Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia, dikutip dari Reuters, Jumat, 30 Januari 2026.
Menurut Airlangga, salah satu agenda utama yang kembali didorong adalah rencana demutualisasi Bursa Efek Indonesia. Proses ini sebenarnya telah disiapkan sebelum gejolak pasar terjadi, namun kini mendapat urgensi baru di tengah sorotan global. Demutualisasi dinilai penting untuk memperkuat independensi bursa, memperjelas akuntabilitas, serta mengurangi konflik kepentingan dalam pengelolaan pasar.
Selain itu, pemerintah juga mempercepat penyesuaian aturan kepemilikan saham publik. Free float saham akan dinaikkan menjadi minimum 15 persen, sesuai dengan kebijakan yang diumumkan Otoritas Jasa Keuangan sehari sebelumnya. Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan likuiditas, mempersempit ruang perdagangan terkoordinasi, serta memastikan saham-saham Indonesia lebih investable di mata investor internasional.
Reformasi tidak berhenti di situ. Airlangga juga menyebut pemerintah membuka ruang yang lebih luas bagi dana pensiun dan perusahaan asuransi untuk berpartisipasi di pasar modal. Batas alokasi investasi ke saham akan dinaikkan menjadi 20 persen dari total dana kelolaan, dari sebelumnya hanya 8 persen. Kebijakan ini diharapkan menjadi bantalan domestik di tengah arus keluar dana asing dan sekaligus memperdalam basis investor jangka panjang.
Reuters sebelumnya melaporkan bahwa dana pensiun negara dengan aset sekitar USD48 miliar atau setara Rp808,8 triliun tengah mempertimbangkan peningkatan eksposur ke pasar saham. Dengan perubahan regulasi ini, langkah tersebut kini memiliki payung kebijakan yang lebih jelas.
Dalam kesempatan yang sama, Chief Executive Officer Danantara Indonesia Rosan Roeslani menegaskan investasi yang akan dilakukan sovereign wealth fund tersebut di pasar modal juga akan mengikuti arah reformasi yang sedang disiapkan pemerintah. Rosan menyebut partisipasi Danantara tidak bisa dilepaskan dari proses demutualisasi yang bertujuan memperbaiki struktur dan kepercayaan pasar.
Gejolak yang terjadi menjadi pukulan terbaru bagi pasar saham Indonesia yang dalam beberapa waktu terakhir berjuang menjaga kepercayaan investor. MSCI sebelumnya menyoroti persoalan transparansi kepemilikan dan perdagangan saham di Indonesia, termasuk potensi perilaku perdagangan terkoordinasi yang dinilai dapat mengganggu pembentukan harga wajar.
Sorotan tersebut langsung berdampak signifikan. Aksi jual meluas terjadi di saham-saham berkapitalisasi besar, menyeret indeks dan memicu penghapusan nilai pasar dalam skala besar. Namun di mata pemerintah, tekanan ini justru membuka ruang untuk pembenahan yang selama ini tertunda.
Melalui kombinasi reformasi struktural, penyesuaian regulasi, dan penguatan peran investor domestik, pemerintah berharap pasar modal Indonesia dapat keluar dari krisis ini dengan fondasi yang lebih sehat. Pesannya jelas, kepercayaan investor tidak bisa diminta, tetapi harus dibangun melalui tata kelola yang transparan dan disiplin pasar yang tegas.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.