KABARBURSA.COM - Aktivitas penjualan eceran pada April 2026 diperkirakan masih bergerak stabil meski mencatat koreksi secara bulanan. Bank Indonesia (BI) melaporkan Indeks Penjualan Riil (IPR) berada di level 231, turun sekitar 10 persen dibandingkan posisi Maret yang mencapai 256,7.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyebut perlambatan tersebut merupakan fase normalisasi setelah lonjakan konsumsi masyarakat selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), khususnya Ramadan dan Idul Fitri 1447 Hijriah.
Menurut Ramdan, meskipun mengalami kontraksi bulanan, performa penjualan ritel tetap menunjukkan ekspansi secara tahunan. Pertumbuhan terutama ditopang kelompok suku cadang dan aksesori kendaraan, perlengkapan rumah tangga lainnya, serta subkelompok sandang yang masih mencatat permintaan cukup resilien.
“Kinerja penjualan eceran April tetap tumbuh tahunan, terutama pada kelompok suku cadang dan aksesori, perlengkapan rumah tangga lainnya, serta subkelompok sandang,” ujar Ramdan dalam keterangan resminya, Selasa, 12 Mei 2026.
Sebelumnya, pada Maret 2026, sektor ritel sempat mengalami akselerasi cukup tajam dengan pertumbuhan bulanan mencapai 10,3 persen. Angka tersebut melampaui capaian Februari yang berada di level 4,1 persen.
Kenaikan itu dipicu peningkatan konsumsi hampir di seluruh kelompok barang. Mulai dari kebutuhan makanan, minuman dan tembakau, barang budaya serta rekreasi, hingga bahan bakar kendaraan bermotor dan produk sandang, semuanya mengalami eskalasi permintaan menjelang Lebaran.
Dari sisi harga, Bank Indonesia juga mencermati potensi kenaikan tekanan inflasi pada pertengahan hingga kuartal ketiga tahun ini. Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) untuk Juni dan September 2026 masing-masing tercatat sebesar 175,6 dan 163,2. Posisi tersebut lebih tinggi dibandingkan Mei dan Agustus yang berada di level 157,4 serta 157,2.
Peningkatan ekspektasi harga itu dipengaruhi kenaikan biaya bahan baku yang mulai merambat ke rantai distribusi dan harga jual di tingkat konsumen.
Meski penjualan eceran mengalami penyesuaian setelah euforia konsumsi Lebaran mereda, data April tetap memperlihatkan daya beli masyarakat yang relatif terjaga. Situasi ini sekaligus memberi sinyal bahwa konsumsi domestik masih menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional secara tahunan.(*)