Logo
>

EPC Segera Dimulai, Bahlil Pastikan Proyek Blok Tuna Kembali Berjalan

Setelah sempat tersendat akibat sanksi terhadap perusahaan Rusia, proyek strategis gas Blok Tuna kini dipercepat usai Harbour Energy melepas sahamnya ke pengusaha nasional. Pemerintah menargetkan produksi paling lambat pada 2029.

Ditulis oleh Gusti Ridani
EPC Segera Dimulai, Bahlil Pastikan Proyek Blok Tuna Kembali Berjalan
Bahlil Lahadalia memastikan proyek Blok Tuna segera masuk tahap EPC setelah Harbour Energy melepas sahamnya. Pemerintah targetkan produksi gas mulai 2028. Foto: Gusti Ridani/KabarBursa.com.

KABARBURSA.COM — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membawa kabar positif perihal proyek Strategis Nasional (PSN) Blok Tuna yang dipastikan segera memasuki tahapan engineering, procurement, and construction (EPC) setelah sempat terhambat sanksi internasional.

Bahlil mengungkapkan, proses EPC untuk Blok Tuna akan segera dimulai dalam waktu dekat. Tak tanggung-tanggung, pemerintah memasang target produksi atau onstream paling lambat pada 2028.

"Kemarin dari Rusia, dari Harbour Inggris itu sudah melepas sebagian sahamnya untuk pengusaha nasional. Jadi saya pikir itu sebentar lagi sudah EPC-nya sudah jalan. Dan kita targetkan untuk bisa melakukan percepatan produksinya di 2028, paling lambat 2029," ujar Bahlil saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Senin, 11 Mei 2026.

Kepastian nasib Blok Tuna ini menyusul hengkangnya Harbour Energy melalui entitasnya Premier Oil Tuna B.V. Dimana perusahaan asal Inggris tersebut resmi menandatangani purchase and sale agreement (PSA) untuk melepas seluruh hak partisipasinya kepada Prime Group.

Menariknya, Bahlil menegaskan sosok di balik "pengusaha nasional" yang mengambil alih hak partisipasi tersebut bukanlah perusahaan pelat merah. "Bukan Pertamina, swasta," tegas Bahlil saat dikonfirmasi mengenai keterlibatan BUMN dalam pengalihan aset tersebut.

Masuknya Prime Group diharapkan menjadi solusi atas kebuntuan proyek yang berbatasan langsung dengan perairan Vietnam ini. Sebelumnya, pengembangan Blok Tuna sempat tersendat akibat sanksi Uni Eropa dan Inggris terhadap Zarubezhneft (ZAL), perusahaan asal Rusia yang memegang 50 persen hak partisipasi di blok tersebut.

Diketahui, Blok Tuna merupakan salah satu proyek strategis yang telah mengantongi persetujuan Plan of Development (PoD) sejak Desember 2022. Dengan target onstream pada 2028-2029, ladang gas ini diproyeksikan bakal menjadi pilar baru bagi ketahanan energi nasional sekaligus memperkuat posisi geopolitik Indonesia di wilayah Natuna.

Selain urusan hulu di Blok Tuna, Bahlil juga menyinggung progres hilir di Kilang Tuban.  Kerja sama strategis antara Pertamina dan Rosneft kini disebutnya mulai menunjukkan tanda-tanda percepatan setelah sekian lama jalan di tempat.

Bahlil menekankan masalah lahan sudah tuntas dan investasi Joint Venture (JV) pun telah berjalan. Ia tidak ingin proyek prestisius ini terus-menerus tertunda karena masalah teknis birokrasi. "Tidak akan bisa kita merasakan manfaat dari investasi ini ketika kita tidak melakukan percepatan. Dan mungkin itu bagian sebagai tindak lanjut dari apa yang dilakukan dalam percepatan kemarin," jelasnya.

Meski enggan memaparkan detail tanggal eksekusi secara teknis karena merasa itu adalah ranah manajemen Pertamina, Bahlil memberikan instruksi yang sangat jelas "Yang penting cepat. Lebih cepat lebih baik," kata Bahlil.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang