KABARBURSA.COM – Ketegangan konflik Iran-Israel memicu kekhawatiran akan distribusi BBM di kawasan global. Pemerintah Indonesia tampaknya masih cukup tenang terkait potensi krisis energi akibat konflik Iran-Israel, serta tersendatnya jalur pasokan energi dunia di Selat Hormuz.
Sebelumnya, Yuliot Tanjung selaku Wakil Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan, ketersediaan BBM Indonesia masih terhitung aman dengan cadangan yang mencapai 27-28 hari.
Untuk menghadapi risiko krisis energi dunia, pemerintah Indonesia berencana menerapkan pemberlakuan WFH (Work From Home) untuk mengurangi konsumsi BBM dan mobilitas masyarakat.
Sementara itu di negara tetangga, Malaysia melakukan cara berbeda dengan pembatasan pembelian BBM bersubsidi. Mengutip Paultan, Kementerian Perdagangan Dalam Negeri dan Biaya Hidup (KPDN) memastikan larangan penjualan bensin RON (Research Octane Number) 95 kepada kendaraan berpelat asing.
Pembatasan BBM RON 95 atau setara dengan produk Pertamax Green atau Shell V-Power di Indonesia, resmi berlaku mulai 1 April 2026.
Menteri KPDN Datuk Armizan Mohd Ali menyatakan, aturan baru ini tidak hanya menyasar operator SPBU, tetapi juga diperluas kepada para pengguna kendaraan oelat asing di Malaysia.
“Mulai 1 April, pelanggaran ini juga akan diperluas ke pengemudi dan pemilik kendaraan yang terdaftar di luar negeri,” kata Armizan dikutip, Sabtu, 28 Maret 2026.
Kebijakan ini menjadi upaya pemerintah Malaysia dalam memperkuat pengawasan distribusi BBM bersubsidi, seiring meningkatnya risiko penyelundupan bahan bakar akibat gejolak harga energi global.
Sebagai catatan, Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi minyak dunia. Ketegangan di kawasan tersebut, imbas konflik Iran dan Israel yang turut melibatkan Amerika Serikat berpotensi mendorong lonjakan harga energi dan memperbesar tekanan fiskal negara-negara pengimpor maupun pengekspor BBM.
Malaysia sendiri saat ini menggelontorkan subsidi besar untuk menjaga stabilitas harga energi domestik. Kementerian Keuangan Negeri Jiran juga mencatat, pemerintah menghabiskan lebih dari RM3 miliar atau lebih dari Rp12,9 triliun per bulan untuk subsidi bensin RON 95 yang dijual seharga RM1,99 (Rp8.616) per liter melalui program Budi95.
Selain itu, harga solar juga dijaga di level RM2,15 (Rp9.309) per liter, khususnya untuk sektor transportasi umum dan logistik darat.
Dalam konteks ini, pemerintah memperkuat penegakan hukum melalui Operasi Tiris 4.0 guna menekan praktik penyelundupan BBM lintas batas negara.
Di sisi lain, pemerintah Malaysia juga tengah mengkaji opsi pengurangan kuota bensin RON 95 bersubsidi yang saat ini mencapai 300 liter per bulan.
Selain BBM RON 95, penggunaan solar di sejumlah wilayah Malaysia seperti Sabah, Sarawak, dan Labuan dibatasi per 1 April mendatang.
Paultan melaporkan, upaya ini untuk membatasi penimbunan dan penyelundupan solar di Malaysia Timur. Beberapa golongan kendaraan seperti mobil, taksi, van, dan pikap juga dibatasi pembelian solarnya dengan kuota maksimal 50 liter.
Sedangkan untuk kendaraan komersial, angkutan barang, serta kendaraan penumpang yang tidak melebihi tiga ton, batas pembeliannya maksimal 100 liter. Sementara untuk kendaraan dengan berat lebih dari tiga ton, pembelian solarnya dibatasi sebanyak 150 liter.(*)