Logo
>

Perjanjian Dagang Resiprokal RI–AS, 1.819 Produk Dapat Tarif Nol Persen

Penandatanganan dilakukan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump setelah pertemuan bilateral sekitar 30 menit

Ditulis oleh KabarBursa.com
 Perjanjian Dagang Resiprokal RI–AS, 1.819 Produk Dapat Tarif Nol Persen
Pemerintah Indonesia resmi menandatangani perjanjian perdagangan resiprokal dengan Amerika Serikat yang diumumkan dalam konferensi pers. Foto: Tangkapan Layar

KABARBURSA.COM - Pemerintah Indonesia resmi menandatangani perjanjian perdagangan resiprokal dengan Amerika Serikat yang diumumkan dalam konferensi pers daring. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan kesepakatan bertajuk Toward a New Golden Age for the US-Indonesia Alliance tersebut menjadi tonggak baru kerja sama ekonomi bilateral.

Menurut Airlangga, penandatanganan dilakukan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump setelah pertemuan bilateral sekitar 30 menit. “Indonesia dan Amerika Serikat sepakat memperkuat kerja sama ekonomi dan mendorong pertumbuhan melalui perjanjian yang juga membentuk Council of Trade and Investment sebagai forum penyelesaian isu perdagangan dan investasi kedua negara,” ujarnya.

Airlangga menjelaskan, sebelum penandatanganan perjanjian utama, kedua negara telah menyepakati 11 nota kesepahaman di sektor perdagangan, energi, agrikultur, dan teknologi dengan nilai sekitar Rp38,4 miliar. Ia menambahkan kerja sama tersebut juga mencakup pengembangan mineral kritis, termasuk perpanjangan operasi Freeport-McMoRan hingga 2061, serta proyek hilirisasi silika untuk bahan baku semikonduktor.

Selain itu, kesepakatan meliputi pembelian jagung, kapas, furnitur, teknologi pemulihan ladang minyak, serta kolaborasi antar kawasan industri dengan perusahaan Amerika.

Dalam skema perjanjian, AS menetapkan tarif 0 persen untuk 1.819 pos tarif produk Indonesia, baik sektor pertanian maupun industri. Produk yang mendapat fasilitas tersebut antara lain minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik, semikonduktor, hingga komponen pesawat.

Khusus tekstil dan pakaian jadi, tarif nol persen diberikan melalui mekanisme kuota tarif. Airlangga menilai kebijakan ini berpotensi memberi dampak besar bagi sekitar 4 juta pekerja sektor tekstil dan hingga 20 juta masyarakat jika dihitung bersama keluarganya.

Sebagai timbal balik, Indonesia juga memberikan tarif 0 persen bagi sejumlah produk impor AS, terutama komoditas pertanian seperti gandum dan kedelai. “Masyarakat tidak dikenakan beban tambahan biaya bahan baku untuk produk berbasis kedelai dan gandum,” kata Airlangga.

Ia mengungkapkan bahwa sejak diumumkan oleh Presiden Trump pada April 2025, pemerintah Indonesia telah mengirim empat surat negosiasi tarif dan melakukan tujuh putaran perundingan, termasuk lebih dari sembilan pertemuan langsung maupun virtual dengan kantor United States Trade Representative.

“Sekitar 90 persen dokumentasi yang diajukan Indonesia dipenuhi oleh pihak Amerika dan tercantum dalam kesepakatan tarif,” ujarnya.

 Ia menegaskan perjanjian ini murni berfokus pada perdagangan karena AS menyetujui penghapusan klausul non-ekonomi yang biasanya muncul dalam kesepakatan sejenis.

Perjanjian juga memuat kesepakatan kedua negara untuk tidak mengenakan bea masuk atas transaksi elektronik sesuai prinsip forum World Trade Organization, serta mendorong transfer data lintas batas terbatas dengan perlindungan konsumen setara di kedua negara.

Indonesia berkomitmen mempermudah perizinan impor, standardisasi produk, serta mengurangi hambatan tarif dan non-tarif di sektor teknologi informasi, kesehatan, dan farmasi. Pemerintah juga akan menerapkan strategic trade management untuk memastikan perdagangan berlangsung aman dan tidak disalahgunakan.

Airlangga menambahkan perjanjian akan efektif 90 hari setelah proses hukum masing-masing negara selesai, termasuk konsultasi pemerintah dengan DPR. Ia menutup dengan menegaskan visi utama kesepakatan tersebut. 

“Tujuan perjanjian adalah mewujudkan kemakmuran ekonomi bersama, memperkuat rantai pasok, dan tetap menghormati kedaulatan masing-masing negara,” katanya.(*) (Nade)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

KabarBursa.com

Redaksi