Logo
>

Pesona Batu Bara Indonesia Masih Memikat, Bagaimana Arahnya di 2026?

Produksi batu bara Indonesia masih solid, tetapi pemerintah mulai menyiapkan penyesuaian lewat pemangkasan produksi dan peningkatan DMO untuk menjaga harga dan pasokan energi.

Ditulis oleh Yunila Wati
Pesona Batu Bara Indonesia Masih Memikat, Bagaimana Arahnya di 2026?
Ilustrasi emisi batu bara yang terus meningkat. Foto: dok KabarBursa.com.

KABARBURSA.COM – Pesona batu bara Indonesia masih memikat. Produksi sepanjang Januari hingga Oktober 2025 menunjukkan performa yang sangat kuat. Dengan realisasi mencapai 661,18 juta ton dari target 739 juta ton tahun ini, industri batu bara mempertahankan laju produksinya yang tinggi.

Dari total produksi tersebut, 180,98 juta ton atau sekitar 27,36 persen terserap untuk kebutuhan domestik melalui skema Domestic Market Obligation (DMO). Porsi ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga keamanan energi nasional, terutama karena sektor pembangkit listrik masih menjadi pengguna terbesar batu bara domestik. 

Konsumsi untuk kelistrikan pada Oktober saja mencapai 7,47 juta ton, atau sekitar 66 persen dari total pemanfaatan DMO. Selain kelistrikan, sektor metalurgi menjadi pengguna strategis kedua dengan serapan 2,98 juta ton. Artinya, intensitas energi industri smelter terus meningkat sejalan dengan proyek hilirisasi mineral.

Sektor industri lainnya, seperti kertas, semen, tekstil, dan industri umum, secara bersama-sama memanfaatkan lebih dari 2,7 juta ton batu bara. Angka ini memperlihatkan bahwa meskipun permintaan global berubah cepat, kebutuhan industri domestik tetap stabil, bahkan menunjukkan pertumbuhan pada beberapa sektor berbasis energi intensif.

Ekspor Batu Bara Indonesia Paling Dominan

Di sisi ekspor, performa batu bara Indonesia tetap dominan. Hingga Oktober 2025, volume ekspor mencapai 421,92 juta ton atau 63,79 persen dari total produksi. Batu bara memberikan kontribusi nilai perdagangan sebesar USD24,43 miliar. 

Ekspor yang masih tinggi menunjukkan bahwa Indonesia tetap menjadi pemain utama dalam memenuhi kebutuhan batu bara dunia, meskipun permintaan dari beberapa negara besar mulai mengalami perlambatan. 

Rata-rata harga batu bara acuan (HBA) berada pada level USD111,24 per ton, yang artinya harga masih stabil namun lebih rendah dari puncak komoditas beberapa tahun terakhir.

Direktur Penerimaan Mineral dan Batu Bara Totoh Abdul Fatah, dalam diskusi publik IESR, menegaskan bahwa realisasi produksi masih berada dalam jalur menuju target. Tetapi ke depan, pemerintah harus berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan. 

Sinyal tersebut kemudian ditegaskan oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang menyampaikan bahwa pemerintah tengah mengevaluasi rencana pemangkasan produksi batu bara untuk tahun depan, sembari membuka potensi peningkatan porsi DMO.

Alasan utamanya adalah perbedaan yang semakin mencolok antara prediksi kebutuhan batu bara global dan proyeksi produksi dalam dokumen RKAB periode 2024–2026. Di dalam RKAB tiga tahunan sebelumnya, target produksi dipatok sekitar 900 juta ton per tahun. Tetapi, permintaan batu bara internasional justru diperkirakan menyusut, dengan kebutuhan dunia hanya sekitar 1,3 miliar ton dan kapasitas suplai Indonesia mampu mencapai 600 juta ton. 

Ketidakseimbangan tersebut menimbulkan risiko oversupply, sehingga pemangkasan produksi dipandang sebagai opsi strategis untuk menahan tekanan harga di pasar global.

Produksi Dipangkas untuk Menjaga Ketersediaan Pasokan

Selain menjaga harga, pemangkasan produksi juga berfungsi memastikan ketersediaan pasokan domestik, khususnya bagi PLN yang membutuhkan 140–160 juta ton per tahun untuk menjaga stabilitas sistem kelistrikan nasional. 

Bahlil menekankan bahwa proporsi DMO ke depan kemungkinan tidak akan turun di bawah 25 persen, meskipun angka final masih menunggu hasil rekap RKAB terbaru.

Dari keseluruhan dinamika tersebut, performa batu bara Indonesia pada 2025 terlihat kokoh namun sedang memasuki fase penyesuaian, terutama menjelang 2026. Produksi yang tinggi, ekspor yang kuat, dan konsumsi domestik yang stabil memperlihatkan ketahanan sektor ini. 

Namun, langkah pemerintah untuk mengevaluasi produksi dan memperbesar porsi DMO menandakan fase transisi menuju kebijakan yang lebih berhati-hati. 

Penyesuaian ini bukan hanya untuk menjaga keseimbangan pasar, tetapi juga untuk memastikan keberlanjutan suplai domestik, stabilitas harga, dan ketahanan energi nasional di tengah perubahan kebutuhan global yang semakin dinamis.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79