Logo
>

PNLF Terlihat Murah Tapi Belum Mengalir, Mesin Uang Ada di Bank Bukan Asuransi

PNLF dinilai murah secara valuasi, namun laba lebih ditopang bank sementara dividen dan efisiensi masih jadi sorotan investor.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
PNLF Terlihat Murah Tapi Belum Mengalir, Mesin Uang Ada di Bank Bukan Asuransi
PNLF terlihat murah dari sisi valuasi, tapi laba ditopang bank dan efisiensi rendah membuat nilai belum sepenuhnya dinikmati investor. Foto: Dok. Ajaib

KABARBURSA.COM — Kinerja PT Panin Financial Tbk sepanjang 2025 menyisakan paradoks. Di satu sisi, laba tetap tumbuh dan aset membengkak. Di sisi lain, pasar belum sepenuhnya memberi apresiasi, seolah ada nilai yang belum benar-benar mengalir ke investor.

Penelusuran laporan keuangan menunjukkan akar persoalannya bukan sesederhana bisnis asuransi yang melemah. Struktur usaha PNLF sendiri ternyata sering disalahpahami sejak awal.

“Banyak investor yang mungkin belum sadar bahwa laba dan revenue perusahaan asuransi sekarang tidak bisa dibaca dengan cara lama,” tulis Researcher Komunitas Pintar Saham, Skydrugz27, Minggu, 19 April 2026.

Menurutnya, PNLF tidak bisa dilihat sebagai perusahaan asuransi murni. Mesin utama justru berada di sektor perbankan. Dari total aset konsolidasian sekitar Rp251,7 triliun, porsi terbesar mencapai Rp237,3 triliun atau sekitar 94 persen berasal dari segmen perbankan dan pembiayaan. Kontributor utamanya adalah PT Bank Pan Indonesia Tbk dan PT Clipan Finance Indonesia Tbk.

Sebaliknya, lini asuransi jiwa hanya menyumbang sekitar Rp43,5 triliun. Dari sisi kinerja, selisihnya bahkan lebih mencolok. Pendapatan bunga bersih mencapai Rp8,94 triliun, jauh di atas hasil jasa asuransi neto yang hanya sekitar Rp119,4 miliar. “Jadi kalau investor membaca PNLF hanya sebagai saham asuransi, dari awal sudah salah kamar,” tulisnya.

Perubahan standar akuntansi juga ikut mengubah cara membaca kinerja asuransi. Sejak 1 Januari 2025, Panin Dai-ichi Life menerapkan PSAK 117. Dampaknya, sebagian laba masa depan tidak langsung diakui, melainkan ditahan dalam komponen Contractual Service Margin sekitar Rp1,03 triliun.

Akibatnya, kinerja asuransi bisa terlihat mengecil di laporan, meski secara ekonomi belum tentu melemah. Namun, ada catatan yang perlu diperhatikan. Muncul komponen kerugian atau loss component sekitar Rp266,2 miliar dalam liabilitas asuransi. Ini menandakan adanya kontrak yang secara perhitungan aktuaria diperkirakan merugi.

Di luar asuransi, sorotan justru mengarah ke sektor perbankan, khususnya kredit kepada pihak berelasi. Pada 2025, total eksposur kredit bruto ke pihak afiliasi mencapai Rp1,236 triliun.

Dari angka tersebut, cadangan kerugian penurunan nilai atau CKPN yang dibentuk mencapai Rp323,2 miliar, atau sekitar 26,1 persen. Setelah dikurangi pencadangan, sisa kredit bersih masih sekitar Rp913,6 miliar.

Angka ini belum sepenuhnya aman. Bahkan, sebagian kredit tercatat sudah melewati jatuh tempo dengan total nilai bermasalah mencapai sekitar Rp274,38 miliar. Selain itu, terdapat kredit sebesar Rp469,25 miliar yang telah mengalami penurunan nilai secara individual dengan cadangan Rp320,15 miliar.

Masalah lain muncul dari sisi transparansi. Laporan keuangan tidak merinci secara jelas identitas debitur bermasalah, hanya menyebut kategori besar seperti grup usaha dan manajemen kunci. Di tengah berbagai catatan tersebut, kinerja laba masih menunjukkan pertumbuhan. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk naik dari Rp1,54 triliun pada 2024 menjadi Rp1,74 triliun pada 2025.

Artinya, secara fundamental, perusahaan masih menghasilkan pendapatan nyata, terutama dari bunga kredit. Namun persoalan muncul pada efisiensi. Bank Panin memiliki rasio kecukupan modal atau CAR sekitar 38,01 persen, tergolong sangat tebal. Dari sisi keamanan, ini menjadi bantalan kuat. Tapi dari sisi produktivitas, modal besar tersebut belum dimanfaatkan optimal.

Return on Equity hanya sekitar 4,5 persen, relatif rendah untuk ukuran grup keuangan besar. Return on Assets di kisaran 1,4 persen masih wajar, tetapi belum cukup untuk menarik minat investor secara agresif.

Di sisi valuasi, PNLF terlihat sangat murah. Dengan harga saham Rp252 dan laba per saham sekitar Rp54,47, rasio price to earnings hanya sekitar 4,62 kali. Sementara nilai buku per saham sekitar Rp1.187, membuat price to book value berada di kisaran 0,21 kali.

Secara teori, ini mencerminkan diskon besar dari pasar. Namun, rendahnya valuasi ini tidak otomatis menjadi daya tarik. Dividen yang dibagikan juga relatif kecil. Untuk tahun sebelumnya, total dividen sekitar Rp126,1 miliar atau setara Rp3,9 per saham. Dengan harga Rp252, imbal hasilnya hanya sekitar 1,5 persen.

Kombinasi ini membuat sebagian investor menilai PNLF sebagai saham yang murah tetapi sulit menghasilkan keuntungan dalam waktu cepat.

Kualitas kredit juga menunjukkan tekanan. Rasio kredit bermasalah bruto naik menjadi 2,82 persen dari sebelumnya 2,50 persen. Sementara NPL neto meningkat ke 1,04 persen dari 0,62 persen. Kenaikan ini belum masuk kategori krisis, tetapi cukup untuk memicu kehati-hatian pasar, terutama jika dikaitkan dengan kredit pihak berelasi yang kualitasnya menurun.

Pada akhirnya, tekanan harga saham PNLF bukan semata karena fundamental yang lemah. Perusahaan tetap memiliki aset besar, laba stabil, dan permodalan kuat. Namun, seperti dicatat dalam riset tersebut, persoalannya terletak pada bagaimana nilai itu diterjemahkan menjadi manfaat bagi investor.

“PNLF itu seperti grup keuangan yang kaya, sehat, dan aman, tetapi pengelolaannya terlalu hemat,” tulisnya.

Tanpa katalis besar seperti aksi korporasi, perbaikan efisiensi, atau peningkatan distribusi dividen, valuasi murah tersebut berisiko bertahan lama. Bukan karena bisnisnya lemah, melainkan karena nilai yang ada belum sepenuhnya terbuka.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).