Logo
>

Produksi Batu Bara China Diprediksi Melambat, Impor dari Indonesia Tertekan

Kebijakan pemangkasan produksi dan penghentian ekspor spot Indonesia mendorong China mengandalkan stok domestik pada 2026.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Produksi Batu Bara China Diprediksi Melambat, Impor dari Indonesia Tertekan
Produksi batu bara China 2026 diproyeksi melambat sementara impor dari Indonesia tertekan akibat pemangkasan kuota produksi dan tarif ekspor. Foto: Dok. China Daily

KABARBURSA.COM — Produksi batu bara China pada 2026 diperkirakan masih akan naik, tetapi dengan laju paling lambat sepanjang dekade ini. Asosiasi industri utama di negeri tersebut memperkirakan output batu bara akan bertambah sekitar 35 juta metrik ton menjadi 4,86 miliar ton pada tahun depan. Kenaikan itu setara dengan pertumbuhan hanya 0,7 persen, angka yang jauh lebih rendah dibandingkan tren beberapa tahun sebelumnya.

Perlambatan tersebut terjadi di tengah proyeksi penurunan impor batu bara untuk tahun kedua berturut-turut. Salah satu penyebab utamanya adalah langkah pemasok terbesar, Indonesia, yang menghentikan ekspor spot dan berencana memangkas kuota produksi secara signifikan.

Asosiasi Transportasi dan Distribusi Batu Bara China menyebutkan impor batu bara China pada 2026 diperkirakan turun 5,1 persen menjadi 465 juta ton. Kondisi ini dipicu oleh kebijakan baru dari Indonesia yang berupaya menahan kejatuhan harga batu bara global.

“Kabar mengenai pengurangan kuota produksi di Indonesia dan diberlakukannya kembali tarif ekspor telah memunculkan ekspektasi adanya penurunan signifikan terhadap impor batu bara dari Indonesia,” kata asosiasi tersebut dalam laporannya, dikutip dari Reuters, Kamis, 12 Februari 2026.

Penurunan pasokan dari Indonesia dinilai akan membuat China lebih banyak mengandalkan stok dalam negeri. Asosiasi itu memperkirakan laju konsumsi batu bara di China masih akan lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pasokan pada tahun ini, sehingga cadangan yang ada akan dimanfaatkan lebih intensif.

Pemerintah Indonesia sendiri sebelumnya mengusulkan pemotongan produksi dalam jumlah besar untuk menstabilkan harga yang terus merosot. Langkah tersebut mendorong para penambang di Tanah Air menghentikan ekspor spot batu bara, sebuah kebijakan yang langsung berdampak pada pasar China.

Meski demikian, asosiasi industri China menilai produksi domestik masih bisa ditingkatkan apabila impor benar-benar turun lebih dalam dari perkiraan. “Jika impor batu bara mengalami penurunan yang lebih signifikan, produksi dalam negeri masih dapat ditingkatkan,” ujar laporan itu.

Di sisi lain, perubahan besar sedang terjadi dalam struktur energi China. Pada 2025, pembangkit listrik berbasis batu bara di negara tersebut mencatat penurunan produksi untuk pertama kalinya dalam satu dekade. Hal ini terjadi karena kapasitas energi terbarukan yang terus bertambah mampu menopang kenaikan permintaan listrik sekitar 5 persen hingga mencapai rekor tertinggi.

Meskipun demikian, rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga batu bara baru justru kembali meningkat. Para analis menilai langkah itu lebih ditujukan untuk menjaga stabilitas sistem kelistrikan, bukan sebagai sumber energi utama. China sendiri tetap diklaim berada di jalur untuk mencapai puncak emisi karbon pada 2030.

Konsultan energi Wood Mackenzie menilai peran pembangkit batu bara di China kini mulai bergeser.. “Pembangkit listrik tenaga batu bara kini beralih dari pemasok utama listrik menjadi penyedia fleksibilitas,” kata lembaga tersebut dalam sebuah pernyataan.

Sebagian armada pembangkit batu bara disebut sedang beralih fungsi menjadi cadangan untuk menopang kebutuhan listrik saat permintaan memuncak.

Data Wood Mackenzie menunjukkan tingkat pemanfaatan pembangkit listrik tenaga batu bara di China terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2011, tingkat utilisasi masih berada di kisaran 60 persen. Angka itu turun menjadi 48,2 persen pada 2025 dan diperkirakan kembali merosot hingga hanya 32 persen pada 2035.

Perubahan tersebut menegaskan bahwa peran batu bara di China perlahan mulai berkurang seiring semakin masifnya penggunaan energi terbarukan. Namun, dalam jangka pendek, komoditas ini masih tetap menjadi penopang penting bagi kebutuhan energi raksasa ekonomi dunia tersebut.

Dengan kombinasi kebijakan pemangkasan produksi di Indonesia dan transisi energi di China, dinamika pasar batu bara global diperkirakan akan semakin menarik pada 2026. Para pelaku industri kini menunggu bagaimana keseimbangan baru antara produksi, impor, dan konsumsi akan terbentuk di tahun-tahun mendatang.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).