Logo
>

Riset Kiwoom: Diversifikasi Jaga Laba ASII di Tengah Lesunya Otomotif

Kinerja Astra tetap defensif pada 2025 ditopang jasa keuangan dan agribisnis saat penjualan mobil nasional dan harga batu bara melemah.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Riset Kiwoom: Diversifikasi Jaga Laba ASII di Tengah Lesunya Otomotif
Gedung Astra International di kawasan pusat bisnis Jakarta dengan latar langit senja. Riset Kiwoom menilai diversifikasi bisnis menopang laba ASII 2025 di tengah turunnya penjualan mobil dan normalisasi harga batu bara. Foto: IG @rivaldi_penzol.

KABARBURSA.COM – Kinerja PT Astra International Tbk (ASII) sepanjang 2025 mencerminkan tekanan yang masih membayangi sektor konsumsi domestik dan komoditas. Pendapatan perseroan tercatat Rp323,4 triliun atau turun 1,5 persen secara tahunan, sementara laba bersih terkoreksi 3,3 persen menjadi Rp32,8 triliun.

Dalam riset yang dirilis Kiwoom Sekuritas, Head of Research Liza Camelia Suryanata bersama Equity Analyst Miftahul Khaer mencatat penurunan tersebut terutama berasal dari melemahnya segmen otomotif serta normalisasi harga batu bara di bisnis energi. Namun, struktur bisnis ASII yang terdiversifikasi membuat penurunan kinerja tetap terjaga.

“Kinerja Astra International (ASII) ini menunjukkan bahwa meskipun 2025 menjadi tahun yang penuh tekanan bagi sektor otomotif dan komoditas, fundamental perseroan tetap tergolong defensif berkat diversifikasi bisnisnya,” ujar Liza dalam keterangan tertulis, Jumat 28 Februari 2026.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata.

Tekanan paling dalam terjadi pada segmen otomotif ASII yang turun 8,2 persen secara tahunan. Pelemahan daya beli masyarakat membuat penjualan kendaraan belum kembali ke level sebelum periode anomali saat pandemi. Sementara itu, bisnis alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi atau HEMCE mencatatkan kenaikan pendapatan 9,1 persen, namun laba segmennya justru turun 24 persen karena penurunan harga komoditas.

Di tengah kondisi tersebut, dua lini usaha menjadi penopang utama stabilitas kinerja. Segmen jasa keuangan mulai membaik secara kuartalan dengan pertumbuhan 6,5 persen, sedangkan agribisnis mencatatkan pertumbuhan signifikan secara tahunan hingga 31,4 persen meski terkoreksi 14,8 persen secara kuartalan akibat normalisasi volume.

Perbaikan juga terlihat pada periode tiga bulan terakhir tahun lalu. Pada kuartal IV 2025, margin laba kotor ASII naik menjadi 24,1 persen dari sebelumnya 21,6 persen pada kuartal sebelumnya. Margin operasional ikut meningkat menjadi 12,9 persen.

Laba bersih kuartalan tercatat Rp8,3 triliun, tumbuh 3,1 persen secara tahunan meski turun dibanding kuartal sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan kemampuan perseroan menjaga kualitas laba di tengah tekanan pendapatan. “Artinya, downside risiko terlihat relatif terbatas selama segmen Financial Services dan Agribusiness mampu menjaga stabilitas kontribusi laba,” kata Liza.

Menurut dia, perbaikan margin pada akhir tahun mencerminkan efisiensi serta bauran bisnis yang lebih sehat. Hal ini menjadi sinyal bahwa kinerja ASII masih memiliki fondasi yang kuat meski pertumbuhan jangka pendek bergantung pada pemulihan daya beli domestik dan tren harga komoditas.

Dari sisi imbal hasil, perseroan membagikan dividen final Rp292 per saham dengan dividend yield sekitar 4,3 persen. Tingkat imbal hasil ini dinilai masih menarik bagi investor yang mencari kombinasi stabilitas dan pendapatan rutin. “Dengan dividend yield sekitar 4,3 persen, ASII masih menarik bagi investor yang mencari kombinasi stabilitas, eksposur siklikal, dan income play,” ujar Liza.

Di sisi valuasi, ASII saat ini masih diperdagangkan pada level yang relatif rendah dibandingkan rata-rata historisnya. Berdasarkan data Stockbit, price to earnings ratio (PER) berada di kisaran 8,25 kali, sementara price to book value (PBV) tercatat sekitar 1,18 kali. Rasio ini mencerminkan bahwa pasar masih memberi diskon terhadap prospek pertumbuhan jangka pendek perseroan di tengah tekanan sektor otomotif dan komoditas.

Valuasi berbasis arus kas juga menunjukkan kondisi serupa. Price to cash flow dan price to free cash flow masing-masing berada di level sekitar 6,05 kali, sedangkan EV to EBITDA tercatat 5,01 kali. Level tersebut menempatkan ASII pada kategori saham dengan valuasi yang relatif murah untuk ukuran emiten berkapitalisasi besar dengan model bisnis terdiversifikasi.

Dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp270,2 triliun dan free float 44,10 persen, likuiditas saham ini tetap terjaga sehingga menjadi salah satu pilihan utama investor institusi. Kondisi valuasi yang masih terdiskon ini memperkuat pandangan bahwa ruang penurunan harga relatif terbatas, sejalan dengan kemampuan perseroan menjaga profitabilitas dan konsistensi pembagian dividen.

Ke depan, arah kinerja ASII dinilai akan sangat ditentukan oleh dua faktor utama, yakni pemulihan konsumsi domestik yang berpengaruh pada penjualan otomotif serta pergerakan harga komoditas yang memengaruhi lini bisnis energi dan alat berat. Selama kedua faktor tersebut belum menguat signifikan, strategi diversifikasi diperkirakan tetap menjadi bantalan utama bagi laba perseroan.

Daya Beli Mobil Melemah, Batu Bara Terkoreksi

Tekanan pada segmen otomotif ASII sejalan dengan perlambatan pasar kendaraan nasional sepanjang 2025. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan mobil dari pabrik ke dealer atau whole sales hanya mencapai 803.687 unit, turun 7,2 persen dibandingkan 865.723 unit pada 2024. Penjualan ritel dari dealer ke konsumen juga turun 6,3 persen menjadi 833.692 unit.

Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto menyebut penurunan tersebut mencerminkan melemahnya permintaan kendaraan baru sepanjang tahun lalu. Meski begitu, selisih antara whole sales dan retail masih berada dalam batas yang terkendali.

Perbaikan sempat terlihat pada akhir tahun. Penjualan whole sales pada Desember 2025 mencapai 94.100 unit, melonjak 26,9 persen dibandingkan November 2025 dan naik 25,7 persen secara tahunan. Penjualan ritel pada bulan yang sama tercatat 93.833 unit atau tumbuh 22,7 persen dibandingkan Desember 2024. Namun lonjakan tersebut belum cukup untuk menutup kontraksi sepanjang tahun.

Dominasi merek Jepang masih kuat dengan Toyota, Daihatsu, dan Mitsubishi Motors memimpin penjualan whole sales. Pada sisi ritel, Toyota, Daihatsu, dan Honda tetap menjadi kontributor utama. Sementara itu, produsen asal Cina BYD muncul sebagai merek dengan penjualan tertinggi dari kelompok non-Jepang, dan VinFast menjadi satu-satunya merek Asia Tenggara yang mencatatkan distribusi lebih dari 10 ribu unit sepanjang 2025.

Di luar otomotif, tekanan juga datang dari lini usaha yang terkait dengan komoditas. Harga batu bara Newcastle yang menjadi acuan global menunjukkan tren penurunan tajam setelah fase supercycle. Pada 2022, harga sempat mencetak rekor di atas USD450 per ton.

Memasuki 2023, harga rata-rata turun ke kisaran sekitar USD170 per ton, lalu kembali melemah pada 2024 ke rentang sekitar USD125–USD136 per ton. Sepanjang 2025, normalisasi berlanjut dengan rata-rata hanya sekitar USD104 per ton. Pada awal 2026, harga bergerak stabil di kisaran USD110–USD115 per ton.

Tren penurunan dari level puncak tersebut berarti harga telah terkoreksi lebih dari 70 persen dalam tiga tahun terakhir. Kondisi ini membuat margin bisnis alat berat, kontraktor tambang, dan energi tertekan. Aktivitas produksi yang tetap berjalan menjaga pendapatan segmen, namun turunnya harga jual komoditas menggerus profitabilitas.

Bagi ASII, situasi ini menjelaskan mengapa pendapatan dari segmen yang berkaitan dengan pertambangan masih dapat tumbuh, tetapi laba segmennya justru turun karena tekanan pada sisi harga.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).