KABARBURSA.COM – Proyeksi harga minyak dunia untuk 2026 bergerak naik tipis setelah ketegangan geopolitik kembali menjadi faktor penahan pelemahan pasar. Di tengah kekhawatiran kelebihan pasokan yang belum sepenuhnya hilang, para analis mulai mengoreksi naik perkiraan rata-rata harga tahunan.
Survei terhadap 34 ekonom dan analis yang dilakukan pada Februari memperkirakan harga Brent berada di kisaran USD63,85 per barel atau sekitar Rp1,07 juta per barel. Angka ini lebih tinggi dibanding proyeksi Januari yang berada di level USD62,02 per barel. Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat diproyeksikan rata-rata USD60,38 per barel atau setara Rp1,01 juta per barel, naik dari perkiraan sebelumnya USD58,72.
Sepanjang tahun berjalan, kedua acuan tersebut sebenarnya masih berada di level yang lebih tinggi. Brent rata-rata tercatat USD70,48 per barel dan minyak AS USD65,01 per barel.
Kenaikan proyeksi ini tidak lepas dari tambahan premi risiko akibat dinamika politik global. Kepala Ekonom dan Riset Next Generation di lembaga Julius Baer, Norbert Rucker, menyebut harga minyak saat ini masih ditopang faktor tersebut.
“Harga minyak dipenuhi premi risiko geopolitik yang cukup besar,” ujarnya, dikutip dari Reuters, 28 Februari 2026. Ia menambahkan, ketegangan dengan Iran berpotensi hanya bersifat sementara dan perhatian pasar akan kembali pada persoalan kelebihan pasokan yang memberi tekanan jangka panjang.
Premi Risiko dan Bayang-Bayang Surplus
Para analis memperkirakan premi risiko geopolitik berada di kisaran USD4 hingga USD10 per barel atau sekitar Rp67.400 hingga Rp168.500. Kekhawatiran terhadap konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu tambahan harga tersebut, terutama setelah Presiden Donald Trump sempat menyinggung skenario serangan dalam pidato kenegaraan.
Namun, dalam jangka menengah hingga akhir tahun, faktor fundamental berupa kelebihan pasokan diperkirakan kembali menjadi penggerak utama harga. Perkiraan surplus berada di rentang 0,8 juta hingga 3,5 juta barel per hari, bergantung pada kebijakan penimbunan cadangan strategis China.
Ekonom Hamburg Commercial Bank, Cyrus De La Rubia, menyebut langkah China selama ini menambah sekitar 1 juta barel per hari ke cadangan strategisnya telah menyerap sebagian surplus dari pasar. “Perlambatan penimbunan strategis China akan memperbesar kelebihan pasokan karena selama ini tambahan sekitar 1 juta barel per hari tersebut menyerap sebagian surplus dari pasar,” katanya.

Di sisi pasokan, arah kebijakan OPEC+ masih menjadi perhatian. Kelompok produsen ini disebut mempertimbangkan kenaikan produksi sekitar 137 ribu barel per hari mulai April. Langkah tersebut akan mengakhiri jeda tiga bulan peningkatan output dan dilakukan menjelang periode puncak permintaan musim panas.
Analis MarketPulse by OANDA, Zain Vawda, menilai keputusan itu sangat bergantung pada kondisi geopolitik. “Jika premi risiko geopolitik masih bertahan saat itu, hal ini dapat semakin mendorong OPEC untuk melanjutkan peningkatan produksi,” ujarnya.
Di luar OPEC+, produksi minyak Amerika Serikat pada 2026 diperkirakan cenderung stagnan atau sedikit menurun. Sementara permintaan global diproyeksikan hanya tumbuh sekitar 0,5 juta hingga 1,1 juta barel per hari.
Analis Economist Intelligence Unit, Surabhi Menon, melihat pertumbuhan tersebut akan menghadapi sejumlah tekanan. “Harga yang tinggi, perlambatan ekonomi akibat ketidakpastian perdagangan, serta adopsi kendaraan listrik yang lebih cepat akan menambah tekanan terhadap pertumbuhan permintaan,” katanya.
Kombinasi antara premi risiko geopolitik, potensi kenaikan produksi, dan ancaman surplus membuat pergerakan harga minyak pada 2026 diperkirakan tetap terbatas dalam rentang moderat. Pasar energi global untuk sementara masih bergerak di antara dua kutub, yakni ketegangan politik yang mendorong harga dan fundamental pasokan yang menahannya.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.