KABARBURSA.COM - Mata uang rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sebesar 27 poin ke level Rp17.353. Pelemahan ini tidak lepas dari sentimen yang masih berkecamuk di Timur Tengah (Timteng).
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan Presiden AS, Donald Trump bersiap untuk blokade angkatan laut yang berkepanjangan terhadap Iran.
"Kekhawatiran atas skenario tersebut diperparah oleh laporan bahwa beberapa eksekutif minyak Amerika terkemuka bertemu dengan Trump di Gedung Putih untuk membahas bagaimana membatasi dampak konflik terhadap keluarga Amerika," ujar dia dalam keterangannya.
Ibrahim menyebut, blokade angkatan laut yang berkepanjangan kemungkinan akan membuat Iran terus memblokir Selat Hormuz sebagai pembalasan.
"Blokade yang berkepanjangan di jalur pelayaran tersebut menunjukkan gangguan pasokan minyak global yang lebih besar," ungkap dia.
Ia bilang, lalu lintas kapal melalui Hormuz telah melambat sejak Iran memblokir jalur tersebut pada akhir Februari, mengganggu sekitar 20 pasokan minyak dunia.
"Namun, sebuah laporan pada hari Rabu menunjukkan Trump mencari bantuan dari negara lain untuk membentuk koalisi internasional baru guna membuka kembali jalur air tersebut," kata Ibrahim.
Sentimen juga datang MSCI. Menurut Ibrahim, dampak kebijakan MSCI yang menahan aliran dana asing, membuat mata uang rupiah tertekan di tengah kombinasi sentimen global, tekanan makro, dan dinamika domestik.
"Keputusan tersebut membuka potensi keluarnya dana asing atau outflow hingga Rp15 triliun," jelasnya.
Adapun untuk perdagangan Senin pekan depan, 4 Mei 2026, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak flutuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.350-Rp17.400. (*)