KABARBURSA.COM - Bank Indonesia (BI) diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuannya di level 4,75 persen dalam rapat kebijakan yang dijadwalkan berlangsung pekan depan, Selasa 17 Maret 2026. Jika proyeksi ini terealisasi, keputusan tersebut akan menjadi kali keenam secara beruntun bank sentral menahan tingkat suku bunga tanpa perubahan.
Mayoritas ekonom dalam survei Reuters menilai ruang pelonggaran kebijakan moneter saat ini sangat terbatas. Tekanan baru terhadap rupiah—yang dipicu meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah—membuat bank sentral harus bersikap lebih berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan.
Sebelumnya, BI sempat memberi sinyal kesiapan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan yang lebih akomodatif. Namun sejak Oktober lalu, bank sentral memilih mempertahankan sikap kebijakan yang relatif ketat. Pelemahan nilai tukar rupiah memaksa otoritas moneter menempatkan stabilitas mata uang sebagai prioritas utama, sejalan dengan mandat inti lembaga tersebut.
Reuters pada Kamis (12/3) melaporkan bahwa sentimen pasar juga tertekan oleh kekhawatiran investor terhadap kredibilitas fiskal pemerintah. Rencana belanja Presiden Prabowo Subianto yang dikhawatirkan berpotensi memperlebar defisit anggaran menjadi salah satu sumber kekhawatiran. Di sisi lain, muncul pula pertanyaan mengenai independensi bank sentral yang semakin memperburuk persepsi pasar dan memicu arus keluar modal.
Tekanan terhadap rupiah kian meningkat setelah pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Pada Senin lalu, mata uang Indonesia itu bahkan sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah. Sepanjang tahun ini, rupiah telah melemah lebih dari satu persen, setelah sebelumnya terdepresiasi sekitar empat persen sepanjang tahun lalu. Kondisi tersebut dinilai hampir menutup peluang penurunan suku bunga pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang akan digelar Selasa pekan depan.
Hasil survei Reuters menunjukkan mayoritas ekonom—24 dari total 26 responden yang disurvei pada periode 9 hingga 12 Maret—memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan seven-day reverse repo rate di level 4,75 persen. Sementara itu, suku bunga fasilitas simpanan semalam diperkirakan tetap berada di 3,75 persen, sedangkan suku bunga fasilitas pinjaman diprediksi bertahan di level 5,50 persen.
Menurut Tay Qi Hang, ekonom dari Economist Intelligence Unit, bank sentral kemungkinan belum memiliki ruang untuk kembali ke kebijakan yang lebih longgar. Pelemahan rupiah dalam sebulan terakhir—terutama dalam dua pekan terakhir setelah memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran—menjadi faktor utama yang membatasi langkah tersebut.
Meskipun peluang penurunan suku bunga pada RDG kali ini dinilai sangat kecil, sebagian besar ekonom tetap memperkirakan pelonggaran kebijakan akan terjadi pada kuartal berikutnya. Sekitar 70 persen responden—atau 14 dari 20 ekonom—memproyeksikan BI akan mulai memangkas suku bunga dalam periode tersebut.
Prediksi itu muncul meskipun inflasi telah melampaui kisaran target bank sentral yang berada di rentang 1,5 persen hingga 3,5 persen. Pada bulan lalu, inflasi tercatat mencapai 4,76 persen, level tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir.
Dari kelompok ekonom tersebut, sebanyak 11 responden memperkirakan BI akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 4,50 persen pada akhir kuartal kedua. Tiga ekonom bahkan memprediksi penurunan yang lebih agresif, yakni sebesar 50 basis poin hingga mencapai 4,25 persen. Sementara enam ekonom lainnya memperkirakan suku bunga acuan akan tetap bertahan di level 4,75 persen.
Proyeksi terbaru ini menunjukkan perubahan yang cukup signifikan dibandingkan survei sebelumnya. Pada survei terdahulu, sekitar 85 persen ekonom memperkirakan penurunan suku bunga akan terjadi pada kuartal kedua tahun ini.
Hang menilai lonjakan inflasi pada Februari kemungkinan tidak akan menjadi faktor penentu dalam keputusan BI. Namun demikian, waktu pemangkasan suku bunga berikutnya diperkirakan akan tertunda hingga setidaknya bulan Juni.
Menurutnya, pelemahan rupiah menjadi faktor pembatas utama yang membuat bank sentral belum memiliki keleluasaan—baik secara teknis maupun strategis—untuk melonggarkan kebijakan lebih cepat.
Dalam jangka yang lebih panjang, lebih dari separuh ekonom yang disurvei masih memperkirakan arah kebijakan moneter akan bergerak menuju pelonggaran. Sebanyak 11 dari 19 ekonom memproyeksikan suku bunga kebijakan BI akan berakhir sekitar 50 basis poin lebih rendah di level 4,25 persen pada akhir tahun. Meski demikian, belum ada konsensus yang jelas mengenai kapan tepatnya pemangkasan tersebut akan dimulai.(*)