Logo
>

Saham Wall Street Melemah di Pengujung 2025

Wall Street bergerak melemah jelang akhir 2025, dipicu koreksi saham teknologi dan penyesuaian posisi investor.

Ditulis oleh Syahrianto
Saham Wall Street Melemah di Pengujung 2025
Ilustrasi: Suasana New York Stock Exchange (NYSE) atau populer sebagai Wall Street. (Foto: Public Domain Pictures)

KABARBURSA.COM – Saham-saham di Wall Street bergerak melemah dalam perdagangan yang relatif sepi pada Senin, 29 Desember 2025, mengawali pekan perdagangan lain yang dipersingkat oleh hari libur.

Pelemahan tersebut tidak banyak memengaruhi kinerja tahunan indeks-indeks utama, yang masih mencatat kenaikan signifikan menjelang hari-hari terakhir perdagangan tahun ini. 

Tersisa dua hari perdagangan sebelum penutupan tahun. Pasar saham Amerika Serikat (AS) akan tutup pada Kamis, 1 Januari 2026 untuk libur Tahun Baru.

Sebagaimana dilansir Associated Press, indeks S&P 500 turun 24,20 poin atau 0,3 persen ke level 6.905,74. Indeks acuan tersebut masih naik lebih dari 17 persen sepanjang tahun dan berada di jalur untuk mencatat kenaikan bulanan kedelapan berturut-turut.

Dow Jones Industrial Average turun 249,04 poin atau 0,5 persen ke 48.461,93. Nasdaq Composite melemah 118,75 poin atau 0,5 persen ke 23.474,35.

Saham-saham teknologi besar dengan valuasi tinggi menjadi penekan utama pasar. Saham Nvidia turun 1,2 persen dan Broadcom melemah 0,8 persen. Optimisme investor terhadap masa depan kecerdasan buatan telah mendorong sektor ini menguat hampir sepanjang tahun dan membawa pasar ke serangkaian rekor baru.

Namun, menjelang akhir tahun, saham teknologi menunjukkan pergerakan yang lebih tidak stabil. Sektor ini sebagian besar melemah pada November dan hanya mencatat kenaikan terbatas sepanjang Desember. 

Nvidia dan sejumlah perusahaan lain yang berfokus pada kecerdasan buatan atau sangat diuntungkan oleh perkembangan teknologi tersebut kini menjadi beberapa perusahaan paling bernilai di dunia. 

Meski demikian, investor mulai bersikap lebih skeptis terhadap apakah hasil akhir dari teknologi ini akan sepadan dengan besarnya investasi yang telah digelontorkan.

Saham sektor energi justru menguat seiring kenaikan harga minyak. Minyak mentah acuan Amerika Serikat melonjak 2,4 persen dan ditutup di USD58,08 per barel. Harga minyak Brent sebagai acuan internasional naik 2,1 persen ke USD61,94 per barel. Saham Exxon Mobil naik 1,2 persen.

Harga emas dan perak terkoreksi dari lonjakan tajam sebelumnya setelah Chicago Mercantile Exchange, salah satu bursa perdagangan komoditas terbesar di dunia, meminta pelaku pasar menambah setoran dana untuk transaksi logam mulia.

Harga emas turun 4,6 persen, meski sepanjang tahun masih naik sekitar 64 persen. Harga perak anjlok 8,7 persen, tetapi secara keseluruhan telah melonjak lebih dari dua kali lipat sepanjang 2025.

Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury turun. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke 4,11 persen dari 4,13 persen pada akhir perdagangan Jumat.

Imbal hasil Treasury telah turun signifikan sejak awal tahun. Penurunan ini sebagian dipicu ekspektasi awal terhadap pemangkasan suku bunga serta realisasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve sepanjang 2025. Bank sentral memangkas suku bunga acuannya sebanyak tiga kali pada paruh akhir tahun.

Namun pada saat yang sama, The Fed menghadapi kondisi ekonomi yang semakin kompleks, di mana inflasi tetap tinggi sementara pasar tenaga kerja mulai melambat.

Pemangkasan suku bunga dilakukan untuk mengimbangi dampak perlambatan pertumbuhan lapangan kerja terhadap ekonomi. Langkah ini berisiko memicu inflasi yang sudah berada di atas target The Fed sebesar 2 persen. 

Pemangkasan suku bunga dapat mendorong ekonomi dengan menurunkan biaya pinjaman, tetapi manfaat tersebut berpotensi teredam jika inflasi yang meningkat justru menahan pertumbuhan ekonomi.

Pasar saham Eropa dan Asia bergerak bervariasi. Saham di Taiwan menguat meski militer China menyatakan tengah melakukan latihan militer di sekitar pulau tersebut, yang diklaim Beijing sebagai wilayahnya. Indeks Taiex Taiwan naik 0,9 persen. 

Sementara itu, indeks Hang Seng di Hong Kong berbalik melemah 0,7 persen setelah sempat mencatat kenaikan pada awal perdagangan. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Syahrianto

Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.