Logo
>

Selat Hormuz dan the Fed Guncang Rupiah, Neraca Jadi Benteng

Eskalasi konflik Iran dan sinyal agresif The Fed dorong sentimen risk off, rupiah melemah ke Rp16.872 meski surplus neraca perdagangan USD0,95 miliar jadi penahan tekanan.

Ditulis oleh Yunila Wati
Selat Hormuz dan the Fed Guncang Rupiah, Neraca Jadi Benteng
Dolar terus menguat di tengah konflik AS-Iran, sehingga menekan pergerakan rupiah pada hari ini. (Foto: Dok KabarBursa)

KABARBURSA.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup melemah tipis pada perdagangan Selasa, 3 Maret 2026. Rupiah berada di level Rp16.872 per dolar AS, turun 4 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.868.

Ada banyak faktor eksternal yang tentunya memaksa rupiah turun tipis 0,02 persen. Meningkatnya eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, menjadi salah satu penyebabnya. Konflik tersebut telah menggeser sentimen global ke arah risk off.

Ketegangan ini tidak hanya menggeser sentimen global, namun juga menguatkan indeks dolar AS. Menurut pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi, penguatan indeks dolar AS menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

“Saat ini, perang meluas. Israel tidak hanya menyerang Iran, namun juga Lebanon. Iran membalasnya dengan menyerang infrastruktur energi di negara-negara Teluk dan kapal-kapal tanker yang ada di Selat Hormuz,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Selasa sore, 3 Maret 2026.

Akibat serangan tersebut, kapal-kapal tanker dan kontainer mengubah rute perjalanan. Alasannya tentu saja keselamatan dan dibatalkannya pertanggungan mereka untuk kapal-kapal tersebut oleh perusahaan asuransi. Dan yang lebih penting, tarif pengiriman minyak dan gas global melonjak drastis.

Intensitas kekhawatiran semakin meningkat setelah adanya laporan terkait penutupan Selat Hormuz. Ibrahim mengatakan, seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran mengatakan Selat Hormuz ditutup dan memperingatkan akan menembak kapal mana pun yang mencoba melewatinya.

“Sementara, sekitar 20 persen minyak dan gas dunia melewati selat tersebut,” ujar dia.

Celoteh Netanyahu

Yang membuat gejolak ini tidak akan berhenti dalam waktu dekat adalah pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia sempat berujar, bahwa perang ini membutuhkan beberapa waktu, tetapi tidak sampai bertahun-tahun.

Dari pernyataan ini, analis langsung menyimpulkan bahwa harga minyak akan tetap tinggi dalam beberapa hari ke depan, sementara pasar fokus pada dampak meningkatnya konflik di Timur Tengah.

Pernyataan the Fed

Dari konflik Timur Tengah, pasar juga mencermati pernyataan sejumlah pejabat bank sentral AS. Menurut Ibrahim, saat ini pasar akan memperhatikan pernyataan Presiden Fed New York John Williams, Presiden Fed Kansas City Jeff Schmid, dan Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari.

Ketiganya akan berbicara, dan pembicaraan yang cenderung agresif dari para pejabat Fed dapat memperkuat dolar AS.

Selanjutnya terkait dengan rilis data ketenagakerjaan AS yang keluar pada pekan ini. Data tersebut akan berbarengan dengan data perubahan ketenagakerjaan ADP dan laporan Nonfarm Payrolls (NFP). Keseluruhan data dapat membentuk ekspektasi untuk jalur kebijakan moneter Fed.

Sementara, data ekonomi terbaru menunjukkan inflasi tetap tinggi. Hal ini mendorong para pedagang untuk mengurangi taruhan pada pelonggaran kebijakan moneter jangka pendek.

Kinerja Neraca Domestik

Beruntungnya, kinerja neraca perdagangan Indonesia menjadi garda terdepan penahan merosotnya rupiah lebih dalam. 

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 mengalami surplus sebesar USD0,95 miliar dan mencatatkan surplus selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Surplus ini, terutama pada Januari 2026, ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar USD3,22 miliar, yaitu dari lemak dan minyak hewan nabati. Juga bahan bakar mineral serta besi dan baja.

Walau begitu, neraca komoditas migas masih mencatat deficit USD2,27 miliar, yang terutama berasal dari minyak mentah, hasil minyak, dan gas.

Selanjutnya, nilai ekspor Indonesia pada periode yang sama tercatat sebesar USD22,16 miliar, atau naik 3,39 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ekspor migas tercatat USD0,89 miliar atau turun 15,62 persen. Untuk ekspor nonmigas naik 4,38 persen menjadi USD21,26 miliar.

Dan untuk nilai impor mencapai USD21,20 miliar, naik 18,21 persen secara tahunan. Impor migas juga tercatat naik 27,52 persen ke USD3,17 miliar. Sedangkan impor nonmigas bertumbuh 16,71 persen secara tahunan menjadi USD18,04 miliar.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79