Logo
>

Selat Hormuz Panas Lagi, Bursa Asia Merosot

Mayoritas indeks Asia bergerak di zona merah sementara mata uang regional melemah terhadap dolar AS di tengah ketegangan Timur Tengah yang belum mereda.

Ditulis oleh Yunila Wati
Selat Hormuz Panas Lagi, Bursa Asia Merosot
Aktivitas militer yang kembali terlihat di Selat Hormuz membuat suasana Timur Tengah semakin tegang. Bursa Asia sebagian besar memerah. (Foto: dok KabarBursa)

Poin Penting :

KABARBURSA.COM – Perpanjangan gencatan senjata yang dilakukan Amerika Serikat dan Sekutu (Irak) beserta Iran, ternyata tidak memberikan sentiment dorongan pada pasar bursa. Hampir seluruh indeks Asia ditutup merosot di sesi siang perdagangan Jumat, 24 April 2026.

Pelaku pasar sepertinya belum menemukan arah yang jelas, terutama setelah eskalasi terbaru di Kawasan Timur Tengah.

Tekanan paling tajam terlihat di kawasan China. Indeks Shanghai Composite turun 0,58 persen, begitu pula dengan Shenzhen Component melemah 1,37 persen, dan CSI 300 terkoreksi 0,85 persen. 

Hal serupa tampak pula pada indeks Hang Seng di Hong Kong, yang ikut turun 0,20 persen. Sedangkan di Korea Selatan, Kospi turun 0,56 persen. Sementara Australia, melalui S&P/ASX 200, terkoreksi 0,46 persen.

Satu-satunya indeks yang mengalami penguatan adalah Nikkei 225. Pasar bursa Jepang ini naik tipis 0,43 persen, meski Topix masih melemah 0,05 persen. 

Taiwan menjadi pengecualian dengan lonjakan signifikan 2,68 persen pada indeks Taiex. Inilah salah satu penggerak utama sentimen positif di kawasan. Perbedaan arah ini menggambarkan kondisi pasar yang terfragmentasi, di mana setiap bursa merespons sentimen global dengan intensitas yang berbeda.

Sentimen utama yang membayangi pasar datang dari perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah munculnya aktivitas militer di Selat Hormuz, jalur distribusi energi global yang krusial. 

Di saat yang sama, perundingan damai yang belum menunjukkan titik terang membuat pasar bergerak dalam ketidakpastian, dengan pelaku pasar cenderung menahan posisi.

Mata Uang Asia Melemah

Kondisi ini juga tercermin pada pergerakan mata uang Asia yang secara umum melemah terhadap dolar AS. Yen Jepang turun tipis ke level 159,78 per dolar AS, sementara dolar Singapura melemah ke 1,2787. 

Dolar Australia turun ke 0,7122, diikuti yuan China yang melemah ke 6,8364. Tekanan juga terlihat pada mata uang regional lain seperti rupiah yang berada di kisaran 17.292 per dolar AS, rupee India di 94,2425, ringgit Malaysia di 3,9710, serta baht Thailand di 32,4890.

Pelemahan mata uang ini mencerminkan pergeseran preferensi investor ke aset yang lebih aman di tengah ketidakpastian global. Dolar AS kembali menjadi tujuan utama, sementara aset berisiko di pasar berkembang cenderung mengalami tekanan. 

Dalam kondisi seperti ini, volatilitas pasar meningkat, terutama pada instrumen yang sensitif terhadap arus modal asing.

Secara keseluruhan, sesi siang perdagangan hari ini menunjukkan bahwa pasar Asia masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah. 

Sentimen geopolitik menjadi faktor dominan yang menahan penguatan, sementara pergerakan mata uang mengonfirmasi adanya tekanan eksternal yang belum mereda. 

Arah selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan situasi global, khususnya terkait dinamika di Timur Tengah dan respons kebijakan dari negara-negara besar.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79